Apakah pernah mencintai seseorang dengan sepenuh hati tapi akhirnya dia pergi demi perempuan lain? Bagaimana rasanya? Sakitkah? SANGAT!

Hari – hari yang kulalui setelah aku kehilangan dia adalah hari – hari yang benar – benar tidak ingin ku alami kembali. Rasa sakit yang kurasakan hampir di setiap hela nafasku. Rasa sakit yang ku rasakan di setiap tatapan mataku. Rasa sakit yang ku rasakan di setiap aktivitas ku. Ya, rasa sakit itu datang setiap waktu tanpa pernah memikirkan tubuhku yang benar – benar letih memikulnya.

Dia begitu tega. Melupakanku secepat itu seolah – olah kenangan indah yang pernah kami alami tidak pernah ada. Dia begitu tega. Melupakan semua impian yang pernah kami bangun bersama. Perempuan itu telah berhasil merebutnya dariku. Perempuan itu dengan bangganya merangkul lenganmu dan memamerkannya kepadaku. Sakit! Rasanya benar – benar sakit.

Aku membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa menghapus mu dari lubuk hati dan pikiranku. Aku benar –benar kehilangan semangat dalam menjalani hari – hariku. Aku benar – benar kehilangan apa arti kebahagiaan. Kamu, ya kamu, lelaki yang berhasil membuatku hilang arah pada saat itu.

Hingga akhirnya aku menyadari semuanya. Cintamu ternyata bukan cinta yang pantas untuk aku perjuangkan. Diriku jauh lebih berarti dibanding dirimu. Diriku jauh lebih berarti jika tanpa dirimu. Aku begitu bodoh sehingga masih saja mengharapkanmu kembali padaku setelah apa yang telah kau perbuat padaku. Pengkhianatan itu tidak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun.

Advertisement

Terima kasih karena telah memberi pelajaran yang sangat berarti di dalam perjalanan cintaku. Darimu aku belajar jika lelaki seperti mu sangat tidak pantas bersanding di hidupku. Darimu aku mengetahui apa arti cinta sebenarnya. Jarak, perbedaan, dan apapun itu tidak akan pernah bisa memisahkan cinta sejati yang sesungguhnya. Hingga aku menyadari jika cinta yang kau berikan selama ini hanya cinta palsu yang tumbuh sekejap mata.

Maaf jika aku harus benar – benar pergi dari hidupmu. Bukannya tidak mau bersikap selayaknya seorang perempuan dewasa tapi menjauhimu dan memutuskan untuk tidak lagi berteman denganmu adalah cara terbaikku untuk melupakanmu. Ingat, kau tidak pantas untuk menjadi temanku lagi. Kau benar – benar tidak bisa menjaga perasaanku ketika kau dengan mudahnya memajang fotomu bersamanya tanpa memikirkan betapa sakitnya hatiku saat itu. Kau bukan teman yang baik dan kau sangat tidak pantas untuk menjadi seseorang yang kukenal.

Terima kasih kau sudah memberikanku pelajaran yang luar biasa. Hingga akhirnya aku menyadari jika aku sudah terbebas dari jerat permainan bahayamu itu. Selamat tinggal kau, seseorang yang berhasil mematahkan hatiku dan juga berhasil membuatku kembali merasakan indahnya dunia tanpamu. Semoga saja kita bisa bertemu di lain waktu dan pada saat itu aku sangat tidak ingin bertatap muka denganmu.