Aku bukanlah orang yang pandai dalam bersajak seperti Khalil gibran, aku bukan juga orang yang pandai menciptakan alur cerita yang begitu tragis seperti wiliam Shakespeare. Tapi aku tahu arti dari sebuah genggaman, arti dari sebuah keputusan dan arti dari sebuah perjuangan.

Tatapanmu begitu teduh buatku, hingga membuatku lupa, akan segalanya

Kau menatapku dengan tatapan begitu teduh, seakan-akan aku ingin berlama-lama kau terus dengan tatapan seperti itu, tapi kau terlalu cepat menyudahinya, disaat aku sudah terbiasa dengan tatapanmu itu. Mungkin aku salah karena berharap tatapan teduhmu itu selalu hanya untukku bukan untuk yang lain. Kau membenamku dalam rutinitasmu, membuat aku begitu berarti untukmu, "Wajar jika saat itu aku merasa dunia berpihak saat baik padaku, karena telah mengizinkanku selalu hadir dalam keseharianmu"

Haruskan dirimu menjadi angin? Tidak bisakah kau menjadi yang lain?

Mereka bilang kau dan aku bagaikan angin dan layang-layang, karena ketika bersama kita mampu untuk saling memberikan kekuatan dan keindahan dengan kebersamaan kita dengan cara kita sendiri. Kau anginnya dan aku layang-layangnya, Kau selalu bisa menerbangkanku dengan caramu sendiri. Kau tahu yang membuat sebuah layang-layang terbang tinggi dan bahkan terlalu tinggi hingga hilang entah kemana? Ya angin, yang terkadang kau menerbangkanku terlalu tinggi, tinggi sekali, hingga kadang kau menghilangkanku dalam pandanganmu.

Advertisement

Kini kau berubah menjadi angin yang menakutkan buatku, dengan segala ambisimu

Kini kau terlalu kencang, terlalu kencang mudah sekali merubah arah tanpa pernah kompromi kepadaku, dan akhirnya kau dan aku justru semakin berlawanan. Dengan ambisimu yang terlalu besar, justru secara perlahan kau semakin menghilangkanku dari pandanganmu, dan membuatku berfikir, “Mungkin saat ini, kau sudah berubah menjadi angin yang menakutkan buatku”