hai, kau yang pernah menjadi poros duniaku….

berawal dari bertegur sapa, hingga kita terbiasa saling menyapa…

berawal dari tugas sekolah, hingga kita terbiasa menghabiskan waktu bersama..

pertemanan yang kita jalin tanpa sengaja, yang kemudian menjelma menjadi kedekatan yang bermakna..

dulu, kita hanya dua anak manusia yang tak mampu menolak rasa yang perlahan menelusup di hati kita, hingga akhirnya kita memutuskan tuk saling menautkan hati atas nama cinta, meski terlalu dini, namun kita percaya bahwa rasa itu bukan sekedar asa..

Advertisement

masih ingatkah kamu, setiap detik yang kita habiskan bersama, terasa begitu indah walau terkadang kita hanya duduk mengobrol berdua sepulang sekolah, orang orang bilang kita masih terlalu muda, cinta kita hanya main main saja, tapi ingatkah kamu? kita pernah merangkai mimpi bersama, bahkan di usia yang masih sama sama muda, dengan begitu konyolnya kita mengucapkan janji janji berdua, merancang masa depan yang kata mereka mustahil menjadi nyata…

dahulu, aku dan kamu, terlalu terbuai pada dunia kita hingga kita lupa pada perbedaan perbedaan yang membentang di depan, dulu, kita hanya dua anak manusia yang baru mengenal cinta dan saling mencecap rasa, tanpa peduli yang mereka katakan kau bilang kita hanya harus saling percaya..

sungguh bersamamu terasa begitu indah, janji janji manis yang kita ikrarkan terasa begitu nyata meski mewujudkannya masih sekedar harapan belaka, bayangan bayangan bahwa kelak kita akan bersama seakan menjadi obsesi pribadi kita…

dulu, bersama terasa begitu indah, hingga akhirnya masa demi masa kita menyadari bahwa cinta saja tak bisa menjadi alasan untuk kita, hingga akhirnya kita mulai berpikir bahwa bukan hanya ada kita, masih ingatkah kamu, hai yang namanya pernah menjadi bagian dari setiap doaku, ketika berbagai permasalahan mulai menerpa menciptakan jurang perbedaan diantara kita, kita hanya dua anak manusia yang tak punya daya, ketika perdebatan demi perdebatan membuat jarak semakin terbentang diantara kita, masih ingatkah kamu, ketika berbagai persoalan datang menghampiri tanpa kita temukan solusinya, masih ingatkah kamu betapa kita mencoba mempertahankan namun yang kita lakukan hanyalah saling menciptakan luka, kita, hanyalah dua anak manusia yang pernah saling menyapa, mengukir kisah dan merangkai mimpi indah, hingga akhirnya harapan terasa mulai sirna, kita tetaplah dua anak manusia yang tak punya daya ketika mimpi mimpi itu mulai terasa memudar , hingga rasa letih menghampiri menjelma menjadi luka, kita tetap dua anak manusia yang tanpa daya ketika pada akhirnya aku dan kamu memilih pada satu kata "menyerah"…

bukan, aku tau kita bukannya tak mau mencoba, hanya saja saat itu kusadari kita tak hanya berdua, terlalu egois jika kita terus menutup mata dan hanya memikirkan mimpi kita, ya, mereka benar, kita masih terlalu muda tuk mewujudkan mimpi itu menjadi nyata, bahkan ku tahu, kita sama sama terluka ketika akhirnya memutuskan tuk berpisah, namun kita bisa apa, kita hanya anak manusia yang tak punya kuasa ketika takdir mengharuskan kita memilih jalan yang berbeda, kita tak mungkin menyalahkan takdir bukan? toh takdir pula yang mempertemukan kita, membuat kita mengenal sebuah rasa yang indah bernama cinta ..

hei kamu yang pernah menjadi obsesi dan warna hidupku, kini kita tak lagi saling menatap dan bertegur sapa, bukan karena saling membenci atau marah, kita hanya mencoba menyembuhkan hati yang terlanjur luka, hei kau yang pernah hadir di setiap mimpiku, meski kini kita tak mungkin lagi bersama, ku percaya rasa itu pernah ada, bukan hanya sekedar asa tapi benar adanya, ku tau kini kau pun sedang berjuang mengobati luka, sama sepertiku yang terkadang masih tak bisa menerima kenyataan yang seolah menampar menyisakan perih yang hampir tak tertahan, yang terkadang masih bertanya tanya kenapa harus kita yang merasakan pedihnya, namun kita ini siapa? ketika takdir sudah digariskanNya, maka kita hanya bisa menerima dan berharap luka ini menjadikan kita dewasa..

hei kamu, yang sampai kini masih menggenggam hatiku, walau kita tak lagi bersama, kuharap kita masih saling menyapa dalam doa, seperti janji yang pernah kita ikrarkan berdua..

hei kamu yang pernah mengatakan bahwa akulah gadis pertama yang memegang kunci hatinya, meski kini kita masih sulit tuk menerima, ku harap kelak kita sama sama menemukan bahagia walaupun hingga detik akhir kita tak di takdirkan tuk barsama…