Yup, beberapa waktu yang lalu aku trip pakai motor ke kabupaten tetangga dari Kabupaten Hulu Sungai Tengah, tepatnya ke daerah Nagara. Berikut beberapa fakta menarik hasil #IniPlesirku.

Nagara adalah kota sungai dan rawa

Nagara merupakan dataran rendah bahkan sebagian besar tanahnya adalah rawa sehingga setiap rumah yang dibangun terbuat dari kayu dan dibangun jauh tinggi di atas tanah dengan tiang yang panjang. Jenis kayu yang digunakan adalah ulin, yaitu jenis kayu yang kuat dan sekarang termasuk langka. Nagara juga dilewati sebuah sungai besar sehingga ketika musim hujan sering banjir. Sungai Nagara tersebut kalau ditelusuri ke arah hilir maka akan sampai ke Banjarmasin. Ya, sungai adalah media transportasi perdagangan di Nagara. Kayaknya asyik deh susur sungai dari Nagara ke Banjarmasin.

Nagara adalah kota tua asal mula Banjarmasin

Salah satu faktor yang membuatku tertarik untuk plesir ke Nagara adalah legenda yang menyebutkan bahwa Kerajaan Banjar mula-mula berawal dari Nagara Dipa, daerah Nagara sekarang. Legenda tersebut masuk akal karena setiap peradaban biasanya berasal dari tepi sungai seperti daerah Nagara ini. Meskipun sisa-sisa cerita tersebut tidak terlihat lagi sekarang ini. Boleh jadi puing-puing kerajaan lama itu sudah terkubur seiring berkembangnya zaman.

Advertisement

Nagara adalah peradaban tua

Nagara menurutku merupakan peradaban tersendiri, terpisah dengan kabupaten yang menaunginya yaitu Hulu Sungai Selatan. Jalan masuk kesana panjang dan lurus tanpa rumah-rumah di kanan kirinya. Sekitar 30 km kemudian barulah terdapat rumah satu persatu. Dengan banyaknya sumber penghasilan di daerah Nagara, sebenarnya Nagara bahkan bisa membentuk kabupaten sendiri. Meskipun saat ini Nagara hanya terdiri atas 4 kecamatan, yaitu Daha Selatan, Daha Utara, Daha Timur, dan Daha Barat.

Nagara adalah daerah industri barang-barang tradisional

Nagara merupakan penghasil sumber daya alam yang melimpah sehingga kayu ulin –yang digunakan sebagai tiang rumah- cenderung mudah didapatkan disana. Bahkan atap tradisional dari kayu yang disebut "sirap" pun masih terlihat di rumah-rumah pemotongan kayu yang terletak di tepi jalan. Tidak hanya sumber daya alam seperti ulin, buah-buahan dan jenis pangan lainnya saja yang menjadi komoditas Nagara, namun juga beragam kerajinan dari gerabah, perhiasan emas, amban (cincin untuk tempat batu akik), dan banyak jenis barang lain juga diproduksi dari sana. Bahkan dulu kata nenek, semua peralatan yang ada di dapur merupakan barang "impor" dari Nagara. Wah hebatnya Nagara, mampu "menciptakan" barang-barang sendiri dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar.

Nagara merupakan tempat wisata potensial

Tempat wisata yang bisa dikunjungi di sana ada beberapa, salah satunya adalah pelabuhan Nagara. Disini selain sebagai stasiun tempat naik penumpang kapal, juga sebagai tempat nongkrong sore-sore atau cuaca sedang bagus sambil menikmati pemandangan sungai dan kota di seberangnya. Tempat wisata yang kedua adalah Masjid Jami, yang ada di tepi sungai dan di seberang pasar. Di dalam mesjid ini terdapat kubah kecil. Kubah ini dinamakan kubah kedua, kubah pertama adalah kubah yang menjadi puncak atap masjid ini. Daerah dekat masjid ini sepertinya adalah tempat teramai di Nagara.

Tempat wisata lain mungkin adalah kubah, yang disini diartikan sebagai makam para alim ulama. Cukup banyak makam yang dialih-fungsikan menjadi tempat wisata oleh masyarakat. Well, ini merupakan tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat. Ada beberapa makam yang sempat kulihat, yaitu makam ulama yang ada di samping masjid, Kubah Dingin, dan satu lagi makam yang cukup menarik yaitu makam yang berada di pinggir jalan dan di dekat jembatan. Wisata kuliner di Nagara juga tak kalah menarik. Kemarin aku sempat mencoba makanan sejenis kupat nasi pakai sambal balado.

Berkunjung ke Nagara seperti membuka album lama Kalimantan Selatan. Travelingku kali ini sangat berkesan karena dapat menambah wawasan budaya dan respekku terhadap nilai-nilai kearifan lokal.