Adik : "Kakak, warna mata kucing apa? Ayo tebak kak !"

Kakak : "Hitamlah"

Adik : "Salah kak, tadi malem adik liat warnanya terang gitu !"

Kakak : "Hitam yang betul"

Adik : "Beeeeeeh.. "

Bagi sang adik, warna mata kucing adalah terang. Sedangkan sang kakak melihatnya di kala siang dengan warna yang hitam.

Apakah perbedaan pendapat tersebut lantas mempengaruhi hubungan mereka berdua? Tentu saja tidak. Karena bagi mereka berdua, walaupun sebenarnya mereka tak mengerti apa perbedaan pendapat. Mereka tetap bisa saling menerima bahwa apa yang mereka ketahui masing-masing adalah sebuah kebenaran dari sudut pandang yang berbeda. Bagi mereka, obrolan apa saja yang terpenting membuat mereka bahagia.

Lantas, bagaimana dengan kita yang katanya sudah dewasa dan mengerti arti perbedaan?

Semua itu hanya menjadi semboyan yang penuh retorika saja tanpa benar-benar mengerti dan saling memahami arti perbedaan yang sesungguhnya.

Advertisement

Mungkin ada yang bertanya mengapa aku katakan demikian? Jawabannya adalah karena terlalu seringnya aku melihat dan berhadapan dengan seseorang yang mengaku bahwa dirinya paling tau dan berilmu yang bersikap bahwa pandangannya akan suatu hal adalah yang paling benar. Bahkan dengan lantang menggunakan teori dari inilah, teori dari itulah dan harus sama dengan paten teori yang selama ini banyak digunakan oleh mereka sang pengagumnya.

Padahal, sebenarnya perbedaan pendapat akan suatu hal. Apalagi berkaitan dengan rasa dan selera, tidak ada satupun pembenaran mutlak menggunakan teori apapun. Tegas aku harus katakan hal ini karena hal yang berkaitan dengan rasa, selera hanya masalah hati, masalah jiwa dan selebihnya hanya masalah sudut pandang saja. Jadi, jangan paksakan kebenaran yang kita miliki kepada mereka yang juga memiliki kebenaran dari rasa, selera, dan sudut pandang mereka sendiri. Jangan ego, bahwa apa yang kita yakini benar, harus menjadi kebenaran yang harus orang lain ikuti pula.

Karena memang sudah selayaknya kita harus saling menerima setiap kebenaran dari sudut pandang yang berbeda, agar kehidupan yang kita jalani tak penuh dengan prasangka bahwa kita lah yang paling benar sehingga mengabaikan kebenaran-kebenaran yang lainnya dan membuat mereka jengah dengan apa yang kita anggap benar.

Ingatlah, bahwa bumi tampak bulat dari langit dan hanya tampak seperti sebuah bola yang tak berisi. Padahal, sebenarnya bumi memiliki penghuni dan kehidupan yang berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Begitu juga langit. Hanya tampak biru atau gelap terlihat dari bumi dan itulah kebenaran yang kita tahu selama ini. Namun, sejatinya kebenaran pengetahun kita tentang langit masihlah sangat dangkal karena siapa tau langit dan isinya memiliki kehidupan yang jauh lebih canggih dari manusia bumi.