Belum lama ini Bromo seringkali disebut – sebut dalam berita televisi nasional. Konon Gunung yang masih aktif ini kembali bergemuruh pertanda akan meletus. Nama Gunung Bromo sudah dikenal oleh masyarakat luas, bukan hanya orang Indonesia tetapi juga bule luar negeri. Nggak jauh dari Bromo, ada salah satu desa yang menurut berita akan dijadikan desa adat, Ngadas.

Ngadas merupakan salah satu dari 36 desa pada Suku Tengger, terletak di tengah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan berada pada ketinggian mencapai 2200 mdpl.

Eits, jangan salah. Meskipun sangat kental dengan adat Tengger ternyata masyarakatnya hidup berdampingan dalam keberagaman agama. Ya, di desa berarea 395 ha ini terdapat tiga agama yang setiap harinya dianut berdampingan yaitu Islam, Hindu, dan Budha. Tidak hanya itu, tempat beribadahnya pun terletak dalam satu area terutama pura dan vihara yang terletak hampir berhadapan. Perbedaan yang setiap waktu melekat tak ubahnya seperti lem yang menjadikan mereka menjadi lebih rukun.

Meskipun berbeda – beda, tetapi tempat tinggal mereka masih bisa dilihat dari agama yang dianut. Dimana masyarakat beragama Islam tinggal di daerah yang lebih rendah dari pada masyarakat yang beragama Hindu dan Budha.

Jika menyangkut masalah adat, maka mereka akan memposisikan diri sebagai masyarakat suku Tengger tanpa harus membeda – bedakan agama yang mereka anut. Mereka hidup berdampingan dengan damai dan tentram. Oiya, ada pakaian sehari – hari yang menurut saya sangat khas disana, yaitu bersarung. Semua masyarakat disana entah laki – laki, perempuan maupun anak – anak semua berkain sarung. Ini bukan tanpa tujuan lho, mereka berpakaian seperti itu sebagai sarana untuk menghangatkan diri karena suhu di desa ini berkisar antara 0 sampai 20 derajat celicus. Wow !

Advertisement

Nah sempatkan waktu sebentar ketika anda akan mengunjungi Gunung Bromo melalui jalur Malang. Karena Desa Ngadas merupakan pintu masuk dari Malang ke Gunung Bromo dan Semeru. Turunlah sebentar dari kendaraan dan nikmati eksotisme desa ini, jangan lupa juga untuk menyapa masyarakat disana ya, keramahan masyarakatnya tidak diragukan lagi 🙂