Aku masih terjaga dalam keresahan jiwaku, jari jemariku masih dengan tangkas bermain pada keyboard laptopku, mengayun merangkai kata demi kata. Sepatah dua patah bahkan berjuta kalimat sepertinya tidak lagi dapat menyentuh di kedalaman hatimu yang terlalu kecewa akan diriku. Dan ini semakin menambah dalam penyesalanku ketika kudapati kau mengganti semua profilemu pada waktu yang bersamaan dengan kita yang dirundung kebekuan.

Kian sesak karena dalam sesalku, berkali-kali aku memaki kebodohanku hingga ingin rasanya berteriak, tapi apa itu cukup mampu untuk menciptakan kembali senyummu yang hilang bersama senja? Kali ini dayaku memang telah pada batasnya. Aku telah memohon dalam kataku, mencoba bersuara, hingga berkata. Menulis tanpa henti. Bercerita tentang kisah gadis yang dirundung malang, tersiksa pada hari di mana dia begitu membutuhkan sebuah pelukan hangat dari yang dianggap sebagai kebahagiaan dalam hidupnya, matahari jiwanya.

Aku telah mengarungi malam hingga pagi dengan gelisah, pilu. Entah bagaimana wajahku saat ini, rasanya akupun enggan menatap wajahku sendiri dengan berkaca, karena sejak diammu senja tadi, aku pun tak lagi mendapati senyuman di wajahku. Sejak siang yang begitu menguras emosi hingga menurunkan seleraku lalu senja yang berlalu dengan menyisakan sesal menghilangkan seleraku, aku hanya suka terdiam, berpikir tentang cara agar kelak tak lagi kutemui sikapku, caraku, bodohku yang mengecewakanmu.

Karena kecewamu adalah dukaku. Seperti malam yang kulewati dan pagi yang kini tak kurasakan kesejukannya. Saat-saat seperti ini, ingin sekali aku melihatmu. Menatap wajahmu, lalu merengkuh tanganmu, menggenggamnya. Mengecupnya perlahan lalu meminta maaf atas kekecewaan ini. Aku ingin memelukmu. Merangkulmu dengan erat untuk sampaikan betapa aku begitu tersiksa pada senja yang hilang, malam yang suram dan pagi yang tak lagi menyejukkan.

Ingin ku usap rambutmu dengan lembut seraya menanti kata maaf terlontar dari bibir ranummu. Tapi aku rasa aku tak mampu menatap matamu, mataku kian memerah. Tangisku telah pecah sejak malam tadi, aku tak mampu menatap mata hitammu dengan bersimbah air mata. Aku tak ingin ada belas kasihan di sana, aku ingin sebuah maaf dari ketulusan yang tak bisa dibeli meski dengan rengekanku.

Advertisement

Sepanjang malam tak luput aku mengingatmu. Mengingat setiap memori saat canda terhias di dalamnya, aku begitu merindukan itu. Aku mencoba berdiri melihat keluar, mencoba merasakan udara sejuk pagi tapi tetap tak ada kesejukan di sana, ingatanku berhenti pada sebuah balkon dimana aku selalu tertawa disana sambil menelponmu, malam hingga larut. Aku rindu, aku rindu segala canda tawa yang hilang bersama senja tadi. Aku selepas senja berganti malam dan datang pagi, mencoba menenangkan hatiku.

Tapi sebelum ku dapatkan kembali senyumanmu, takkan kudapati setitikpun damai dihatiku. Aku mengerti, kamu adalah yang begitu bijak memaafkanku, tapi akankah dengan berkali ku buat kecewa, maaf itu masih tersisa untukku? Aku seperti terpenjara dalam sesalku, aku tak mampu keluar dari sini kecuali tanganmu meraih tanganku lalu menggengamku dengan erat dan membiarkanku hanyut dalam nyamannya pelukanmu.

Wahai kekasihku, matahariku, pagi telah datang, akankah kau kan tetap sinariku ketika kecewa menyelimuti relung hatimu. Wahai cahayaku, aku sampai pada penyesalan terdalamku, sengaja atau tidak, sebuah kesalahpahaman atau bukan aku tak lagi peduli, aku hanya butuh melihatmu tersenyum lagi, tersenyum dengan lembut padaku. Semoga kau tak pernah jenuh untuk di sampingku, si Imbisil yang teramat menyayangimu.

Semoga kau tak pernah menemukan lelah untuk terus mencintaiku., menyayangiku, seperti aku yang tak mampu menatap yang lain selain dirimu, seperti aku yang menjadikanmu sebagai matahariku, senyumanku dan air mataku. Kaulah hidupku, kecewamu adalah sesalku, tawamu adalah bahagiaku, senyummu adalah semangat bagi jiwa dan hidupku.

Tulisan ini bukan caraku membujuk maaf darimu, aku hanya kehilangan tempat bersandar ketika kau jauh, aku kehilangan tempat di mana aku selalu mencurahkan segala cerita hidupku, hingga yang mampu kulakukan hanya merangkai kata demi kata, menyimpannya menjadi sebuah bagian yang kelak akan menjadi kenangan yang akan mengingatkanku agar tak lagi kubuat kau kecewa dengan sikapku. Sayang, ini bukan sebuah majas hiperbola, tapi kenyataan jika aku bukanlah aku tanpa kamu dan takkan hidup kehidupan ini ketika tak ada senyummu di sana.