Kegiatan Ospek dan MOS yang idealnya menjadi kegiatan untuk membantu orientasi murid atau mahasiswa baru , tampak sudah semakin melenceng dari idealisme tersebut. Bukan rahasia umum lagi kalau kegiatan-kegiatan semacam ini menjadi semacam tradisi penyiksaan fisik dan mental bagi para pesertanya. Setiap tahun pasti ada saja yang yang jadi korban tewas karena kegiatan-kegiatan ini.

Hanya saja beritanya meletup sementara, kemudian tidak ada tindak lanjutnya lagi. Inspeksi mendadak yang dilakukan oleh Menteri Pendidikan sepertinya tidak menyurutkan semangat para senior yang bermental primitif untuk terus menyelenggarakan kegiatan semacam ini (yang lebih banyak negatif daripada positifnya).

Kegiatan primitif ini memiliki dalih sederhana : untuk meningkatkan ketahanan mental. Ya ampun…meningkatkan atau menurunkan? Kalau orang digoblok-goblokin mentalnya bisa makin bagus, buat apa ada sekolah? Buat apa ada pelajaran etika dan saling menghargai? (ini juga perlu dipikirkan oleh institusi pendidikan, bukankah sekolah dan kampus itu untuk mencerdaskan bangsa? Lalu kenapa kegiatan penggoblokan ini diberi ijin untuk terselenggara?)

Oh ya…kenapa saya pakai istilah primitif, alasannya adalah primitif menggambarkan keterbelakangan dalam berpikir jangka panjang. Yang ada di pikirannya hanya sebagai yang kuat atau yang lebih berkuasa bisa menindas yang lemah. Bukankah begitu pemikiran yang berkembang di jaman purba?

Kembali ke topik yang tertulis di judul. Pengeluaran untuk masa orientasi terbilang tidak sedikit. Apalagi kalau yang diminta bermacam-macam hal yang sulit ditemukan. Per hari, dari sumber media online, rata-rata bisa sampai tujuh puluh bahkan ada yang mencapai seratus ribu rupiah.

Advertisement

Anggap saja pengeluarannya hanya limapuluh ribu rupiah. Dikalikan lima hari, ya total sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Yang tentunya menjadi tanggungan orangtua peserta. Di jaman yang sedang menuju krisis, menurut saya jumlah tersebut bisa dibilang cukup besar. Dan para panitia yang bermental primitif tentunya tidak mau tahu darimana uang itu berasal. Yang mereka inginkan hanyalah menjadi "raja kecil" untuk sementara waktu.

Bisa saja uang tersebut diperoleh dengan kerja keras orangtua peserta, ada yang berdagang, menjadi karyawan, buruh, supir angkot dan lain-lain. Betapa para panitia ini tidak berpikir dan menghargai kerja keras orang lain, dan memaksa mereka untuk keluar uang banyak hanya untuk kegiatan sia-sia.

Secara massal kalau uang tersebut dihitung, lima puluh ribu per peserta per hari. Kalau ada seratus peserta saja berarti untuk kegiatan purba ini sudah memakan biaya lima juta rupiah. Kalau dihitung dalam jangka lima hari, berarti total uang yang dikeluarkan adalah dua puluh lima juta rupiah. Bukan jumlah yang kecil bukan?

Hal ini bisa menjadi pertimbangan untuk menyalurkan dua puluh lima juta rupiah tersebut pada kegiatan-kegiatan yang lebih positif. Seperti menjadikannya dana beasiswa atau untuk membangun sarana sekolah di daerah terpencil.

Bagaimana kalau perhitungannya diperluas lagi? Bila satu kegiatan orientasi primitif bisa memutar uang dua puluh lima juta rupiah, mari kita kalikan bila setidaknya ada seratus sekolah yang menyelenggarakan kegiatan primitif ini. Dua puluh lima juta rupiah dikali seratus, hasilnya adalah dua setengah miliar rupiah! Uang sebanyak ini akan sangat berarti untuk pengembangan pendidikan ke arah yang lebih positif, daripada hanya digunakan secara sia-sia.

Apa yang dilakukan Menteri Pendidikan pada inspeksi mendadak, sebaiknya dilanjutkan dengan pelarangan secara tegas (dalam bentuk peraturan, bukan lisan) terhadap kegiatan Ospek dan MOS yang merugikan. Kalau perlu ada tuntutan penjara bila hal ini sampai terselenggara. Sampai detik ini belum pernah saya dengar ada yang dihukum walaupun korban masa orientasi ini berjatuhan terus dari tahun ke tahun.

Memang sih, ada juga sekolah-sekolah yang MOS maupun Ospeknya sudah mengarah pada hal yang lebih baik. Tetapi ini belum menjadi budaya. Belum ada keseragaman mentalitas untuk menyelenggarakan program orientasi yang berguna, yang lebih menghargai keberadaan orang lain.

Semoga tahun depan masa orientasi siswa maupun mahasiswa bisa berada pada jalan yang lebih beradab.