Mungkin aku dan kamu sepakat, bahwa tak selamanya cinta bisa membuat orang bahagia. Meskipun cinta salah satu sumber kekuatan manusia. Hampir sebagian besar orang pernah mengalami satu fase di mana mereka merasakan patah hati terdalam.

Hancurnya hati membuatmu ingin menyerah dan berhenti menemukan orang yang tepat. Perlahan namun pasti kepercayaanmu terhadap cinta ikut memudar, karena mungkin kamu merasa selalu bertemu dengan orang yang salah. Sejujurnya kamu tak ingin menyalahkan kehadiran seseorang sebagai penyebab luka di hatimu, dan akhirnya ego memaksa dirimu untuk melakukan pembelaan terhadap hatimu yang enggan untuk terluka sedikitpun. Sehingga yakin bahwa orang yang datang dan kemudian pergi adalah penyebab dari semua luka yang kamu rasakan.

Seiring berjalannya waktu, dengan segala kesabaranmu meski dalam balutan luka, kamu akan menemukan dia. Seseorang yang tanpa kamu duga justru bisa membuat hatimu kembali terbuka. Karena darinya kamu dapat belajar, tak perlu berpura-pura hanya untuk dicintai.

Tak perlu menjadi orang lain agar dapat diterima. Kehadirannya seperti cermin buatmu, memantulkan cahaya yang selama ini kau biaskan. Apa yang kau pikirkan, kebiasaan-kebiasaan yang selama ini kau lakukan, bahkan sampai pemahaman-pemahaman yang mungkin selama ini banyak orang menentang, hanya dia yang bisa mengerti dan paham akan semua ucap dan tingkah lakumu. Kehadirannya bisa di ibaratkan mata air zam-zam yang muncul di tengah gurun pasir, memberikan kehidupan baru dan seakan tak ada habisnya.

Kamu bisa tetap tertawa sampai berurai air mata, kamu bisa berpakaian senyaman mungkin tanpa memikirkan apakah dia akan malu berjalan denganmu atau tidak, wajah mungkin tak mempesona layaknya bintang layar kaca, namun dengannya kau merasa hidupmu lengkap, dan setiap pertemuan yang terjadi hanyalah berisi gelak tawa dengan perputaran waktu yang sangat cepat. Perasaan ingin menghentikan waktu lebih lama lagi pun menggeliat, hanya karena tak ingin kebersamaan itu usai begitu saja.

Advertisement

Kamu bisa berdiskusi tanpa harus merasa yang menjadi paling benar, berbincang tanpa harus merasa ini layak atau tidak untuk dibicarakan. Sama-sama belajar tanpa harus ada yang menjadi guru. Tak perlu kata bijak, tak perlu bertopeng menjadi “baik” untuk bisa mendapatkan pujian satu sama lain. Ketika tangis hadir mewarnai kehidupan, dia takkan pernah hadir sebagai hakim, yang melakukan tuduhan dan memberikan sanksi atas kesalahanmu yang justru membuatmu merasa semakin tak berdaya.

Dengan dia kamu bisa menjadi lebih baik tanpa harus mengorbankan jati diri. Mungkin tanpa di sadari, dia adalah satu-satunya orang asing yang bisa menjadi suporter setia, dia yang turut mendoakan kebaikan di setiap langkah hidup. Dia tak segan memarahimu, namun tak pernah terbesit membencimu.

Hadirnya dia dalam hidupmu seperti jawaban dari setiap doa yang kau panjatkan. Doa agar kau bersama dengan orang yang tepat menurut versi-Nya, dan untungnya menurut versimu juga. Hadiah yang tuhan berikan dari segala lelah dalam pencarian yang selama ini kau rasakan, buah atas kesabaranmu bertahan dengan segala luka yang kamu punya. Mungkin benar, Tuhan menghadirkan orang yang salah untuk pembelajaran agar kau layak untuk orang yang tepat. Tak apa hatimu patah berkali-kali, jika ternyata dengannya patahan itu bisa kembali utuh.

Ketidak sempurnaan manusia sudah terpancar dari awal mula penciptaan. Tuhan menciptakan adam dan hawa, sebagai bukti bahwa manusia hadir tak bisa sendiri. Dan potongan itu hadir, sebagai pelengkap jiwa. Dengannya kamu yakin bisa melewati segala hal meskipun tak selalu berjalan dengan baik. Dengannya kamu sadar, separuh kekuatanmu akan terisi penuh ketika bersamanya. Dengannya kamu bisa menertawakan masalah yang datang silih berganti, bukan untuk menjatuhkan dan menyalahkan. Namun untuk sama-sama menyadari bahwa semua akan baik-baik saja dan bisa di atasi, tanpa harus menyakiti satu sama lain.

Dan yang paling luar biasanya dengannya kamu merasa Tuhan lebih dekat lagi dan lagi kepadamu.

Syukuri setiap detik kehadirannya, jaga dia tetap utuh. Saling belajar memahami dan membahagiakan satu sama lain meskipun itu dengan segala kesederhanaan, sampai akan tiba masanya Tuhan berkata kau dan dia harus berpisah sesaat, untuk dapat lagi di pertemukan di kehidupan yang sebenarnya.

Bukankah setiap pertemuan akan selalu ada perpisahan? dan bukankah memang dunia ini seperti tempat persinggahan? bukan untuk sebuah ke kekalan. Tak apa jika suatu saat kau terpisah, karena nanti kau akan bertemu kembali di kehidupan abadi. Jika suatu saat kau temukan cacat di dalam dirinya, ingat satu hal “kehadiranmu untuk menutupi cacat itu, melengkapi setiap celah. Jangan menyerah dengannya, karena akan lebih sulit saat kau kehilangannya”.