Kehidupan para korban lumpur lapindo menjelang 11 tahun bencana merenggut kehidupan mereka.

Lumpur lapindo mulai menyebur pada mei 2006 di Desa Renokenongo Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo. Hingga hari ini lumpur lapindo telah hampir berusia 11 tahun dengan masih menyisakan berbagai luka yang belum bisa disembuhkan secara utuh bagi para korban bencana ini. Berbagai kesulitan yang dialami oleh para korban tidak hanya dari segi ekonomi saja tetapi juga segi kesehatan serta psikologi. Kehilangan tempat tinggal dalam sekejap ditenggelamkan oleh lumpur panas. Hidup di penampungan, minim fasilitas. Membuat mereka menderita banyak penyakit khususnya anak-anak dan lansia, makan yang tidak teratur, tidur-pun tak nyenyak dalam keadaan penuh sesak.

Serta kehilangan pekerjaan bagi para petani dan pedagang di wilayah terdampak lumpur. Sedangkan penggantian uang rugi yang tak kunjung mereka dapatkan. Membuat mereka hanya bisa menggantungkan hidup dari bantuan. Berbagai penderitaan dan kendala yang mereka hadapi sangat cukup membuat hidup mereka terlunta-lunta tak karuan selama bertahun-tahun.

Para korban lumpur dari berbagai desa yang terendam lumpur akhirnya berpindah ke pengungsian yaitu ke pasar baru porong. Mereka menempati petak-petak toko dan koridor pasar dengan berdesakan. Tak ada pilihan lagi selain hidup dengan keterbatasan karena bencana lumpur lapindo. Mereka hanya bisa mengandalkan berbagai bantuan datang dari pemerintah, LSM, dan orang-orang yang bersimpati pada mereka.

Kehidupan pahit mereka terima dengan datangnya bencana karena adanya kesalahan yang terjadi saat pengeboran tanah oleh PT Minarak lapindo jaya. Tahun 2017 menjadi tahun ke-11 umur dari semburan lumpur lapindo, lalu perubahan hidup seperti apakah yang terjadi pada para korban lumpur lapindo saat ini? Masihkah para korban hidup dalam penderitaan berkepanjangan? Ataukah mereka telah hidup normal kembali menjadi bagian dari suatu masyarakat?

Advertisement

Hal ini menjadi pertanyaan bagi sebagian orang yang penasaran akan keberlanjutan hidup para korban bencana. Tak terkecuali bagi empat mahasiswa jurusan Antropologi dari Universitas Brawijaya yang kemudian melakukan penelitian tentang pemulihan social para korban lumpur lapindo dilihat dari pandangan antropologis. Mereka adalah Miftakhul Iftita, Helmawati, Luaiyibni Fatimatus, dan Gilang Mahardika yang tergabung dalam kelompok Penelitian Sosial Humaniora Dari Program Kreatifitas Mahasiswa Kementrian Riset, Teknologi Dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Tahun 2016-2017.

Lumpur yang menyembur pertama kali terdapat di Desa Renokenongo muntepatnya di area persawahan warga yang telah dibeli oleh PT. Minarak Lapindo Jaya dengan melalui perantara kepala Desa Renokenongo. Namun masyarakat mengakui bahwa mereka tidak tahu akan kegiatan pengeboran minyak yang dilakukan PT.MLJ karena tidak adanya transparansi dari kepala desa. Mereka hanya mengetahui bahwa tanah yang dibeli oleh kepala desa akan digunakan untuk peternakan namun mereka akhirnya mengetahui kebenarannya setelah muncul semburan lumpur pertama di tengah lokasi.

Lumpur kemudian meluber ke berbagai arah hingga menenggelamkan belasan desa. Warga direlokasi ke tempat yang aman dengan membawa beberapa barang yang dapat diselamatkan. Mereka kemudian tinggal di tempat pengungsian yaitu pasar baru porong yang baru selesai pembangunannya selama kurang lebih 2 tahun dengan mengandalkan uang ganti rugi dan bantuan dari pemerintah. Setelah itu mereka mulai berpindah tempat dengan mengontrak rumah atau membangun rumah seadanya di tempat yang baru karena terdesak oleh pengelola pasar baru porong yang akan segera ditempati. Mereka mulai menyicil rumah dengan uang ganti rugi yang diberikan secara bertahap oleh PT.MLJ. H

ingga pada tahun 2015 mereka akhirnya mendapatkan uang ganti rugi sebanyak 100% dari talangan anggaran perbelanjaan negara (APBN) yang diberikan oleh Presiden Joko Widodo. Kini masyarakat korban lumpur lapindo telah berpindah ke tempat yang baru. Ada yang berpindah ke daerah lain atau menetap di daerah Sidoarjo. Hal ini juga terjadi pada masyarakar Desa Renokenongo yang sebagian warganya kompak berelokasi bersama-sama ke Desa Kedungsolo. Mereka mendirikan kompleks perumahan sendiri yang dinamakan Perumahan Renojoyo.

Pemberian nama Renojoyo sendiri berasal dari awalan kata Renokenongo dan jaya yang berarti kembalinya warga Renokengono yang kembali berjaya. Perumahan Renojoyo kini menjadi Renokenongo mini yang dihadirkan kembali setelah desa tersebut tenggelam di tengah lumpur. Korban lumpur lapindo saat ini telah hidup di lingkungan yang baru meskipun luka dan trauma yang mereka alami belum sepenuhnya sembuh dan sirna dari ingatan mereka. Namun setidaknya pada umurnya yang hampir 11 tahun pada bulan mei tahun 2017 akan selalu diingat sebagai hari bersejarah para korban dan mengingatkan kita semua akan kebesaran Tuhan serta betapa Bumi telah terlalu renta. Maka jagalah bumi kita bersama mulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar kita.