Hari ini merupakan akhir pekan kedua saya menjadi turis di kota Melbourne; kota pelajar yang terkenal akan kuliner dan pop-culture nya. Selain gedung teater dan musium seni, Melbourne juga terkenal dengan band-nya seperti the Tramper Trap, Last Dinosaurs, Jet dan Air Supply. Tapi, sudah akhir pekan kedua dan saya masih belum menemukan Melbourne yang ‘sebenarnya’ selain Fish&Chips akhir pekan yang lalu.

Pagi ini, saya dan kedua teman saya yang merupakan mahasiswi perantau dari Indonesia berencana melancong ke sebuah district bernama South Yarra, yang tergolong cukup berjarak dari tempat tinggal kami. Musim dingin di Melbourne tidak se-ekestim di London atau Tokyo yang berselimut salju. Di sini matahari masih cukup hangat meski terkadang suhu bisa mencapai 0°. Kami berjalan hingga ke stasiun Caulfield langsung menuju stasiun South Yarra di hari sabtu yang cerah. South Yarra benar-benar berbeda dengan tempat-tempat yang telah saya kunjungi sebelumnya di Melbourne; pertokoan mungilnya yang begitu klasik menyerupai bangunan-bangunan di abad pertengahan Eropa kontras dengan pra pejalan kaki yang begitu kekinian dengan pakaian-pakaian branded. Matahari semakin menyengat dan tidak banyak pejalan kaki yang menggunakan mantel terlalu tebal, hanya sebatas sweater dan baju panjang saja atau denim.

Setelah berjalan sekitar lima menit dari stasiun, kami tiba di sebuah restauran Jepang. Di sekitar restoran Jepang itu juga terdapat beberapa restoran yang terlihat menarik seperti restoran spesialis coklat atau restoran vine dining dengan kursi-kursi nyaman di balik dinding kaca maupun di bawah payung di pinggir jalan. Restoran Jepang ini juga sangat nyaman karena tempatnya tidak terlalu luas tapi memanjang ke belakang disertai AC yang ternyata masih kalah dengan suhu di luar. Ada satu meja di dekat pintu yang menhadap ke jendela yang tampak nyaman dengan sofanya, namun sayang pelanggan lain sudah menempatinya. Seorang pemuda berambut pirang mengenakan turtle neck abu-abu sedang menikmati sushi-nya yang sepertinya akan sapu bersih. Kami pun duduk tak jauh dari pemuda itu.

“Mixed teppanyaki,” saya berkata pada pelayan yang mengenakan setelan hitam rapih, tanpa memiliki gambaran sama sekali seperti apa teppanyaki itu. Saya juga memesan sushi gurita. Sushi saya pun datang tiba duluan; tanpa perlu merasa terkejut saya hanya menahan hembusan nafas panjang saat melihat gurita mentah berwarna putih yang ditutupi saus teriyaki di atas dua kepal kecil nasi di atas piring mungil berwarna oranye. Tanpa pandang buluh saya pun segera menjejalkan satu sushi ke dalam mulut saya. Tidak ada yang terlalu istimewa dengan rasa sushi itu, yang jelas guritanya ternyata sangat empuk dan tidak amis karena saya juga turut menjejalkan jahe merah dan wasabi ke dalam mulut saya. Kemudian, hidangan utama pun tiba; dalam piring berwarna gelap yang cukup besar berisi potongan sayur, daging, ayam, dan seafood yang diguyur garlic sauce. Teppanyaki begitu sempurna mulai dari kematangannya hingga sausnya yang gurih dan meninggalkan kesan amat dalam di mulut. Hingga saya tidak sadar bahwa pemuda yang duduk di dekat jendela sudah meninggalkan restoran.

State Library of Victoria, sebuah perpustakaan sekaligus galeri di pusat kota Melbourne, merupakan tujuan kami setelah kami cukup lelah melakukan window shopping di South Yarra. Sebagian kecil tampak depan perpustakaan saat itu sedang dalam renovasi dan juga sedang terdapat acara bedah buku Les Miserable, saya sangat ingin mengikui acara dengan tarif cukup mahal itu namun mengingat saya belum sempat membaca novel Victor Hugo juga teman-teman saya yang bukan pecinta sastra klasik, saya akhirnya harus puas dengan mengantongi brosurnya saja. Oh, bicara tentang brosur di kereta taudi saya mendapai sebuah selebaran seberti tabloid kota gratis dan disana tercantum event-event yang ada di Melbourne, salah satunya launching album—atau EP mungkin, kedua dari band lokal Melbourne bernama Apes pada tanggal tersebut. Sejujurnya saya tidak pernah mendengar nama band tersebut namun saya akan mencari tahu nanti ketika sinyal wifi menyapa HP saya.

Advertisement

Sesampainya di apartemen kenalan saya, saya langsung mencari tahu tentang band tersebut, tiket dan lain sebagainya. Bisa dibilang saya langsung jatuh cinta pada band indie ber-genre garage ini. Namun, saat sangat kecewa saat melihat bahwa tiket sudah sold out dan saya ingat jelas bahwa kemarin kami sudah membeli tiket bioskop Guardian of the Galaxy untuk kami tonton malam ini. Tapi jauh dalam lubuk hati saya sangat ingin pergi ke sana, toh tempatnya sangat dekat dari apartemen kawan kami ini. “Ga, kayaknya aku nggak ikut kalian makan-makan deh. Aku beli subway aja, kali ya?” Akhirnya sahabat saya itu pun menemani saya ke restauran subway di depan apartment. Saya sudah mempertimbangkan ini berkali-kali sejak saya berada di kereta dari South Yarra. Saya memberanikan diri, mengesampingkan rasa sungkan-tidak enak-saya kepada sahabat saya itu. Awalnya dia tampak marah dengan keputusan saya. Saya tahu dia dan teman-temannya tidak menyukai acara itu dan dia khawatir jika saya harus berangkat sendiri ke tempat gigs yang sudah pasti akan banyak orang-orang mabuk di sana.

Akhirnya setelah saya puas mendapat makian dari sahabat saya yang tempramen itu, saya akhirnya bisa pergi juga, dan dengan keajaiban saya juga berhasil mendapatkan tiketnya. Sahabat saya pun memakasa salah satu teman laki-lakinya untuk menemani saya. Saya pun berangkat bersama teman saya itu berjalan kaki dari QV menuju The Grace Darling Hotel di Collingwood yang memakan waktu kurang dari setengah jam. Dari kejauhan sudah terlihat sisi original dari Melbourne, kota seni dan band indie! Grace Darling Hotel berada di persimpangan jalan. Dinding eksteriornya bebentuk bata berwarna gelap dengan jendela kotak-kotak bergaya Georgian di sepanjang badan bangunan. Interiornya lebih mengesankan lagi; tembok dan dindingnya terbuat dari batu dengan meja-meja kayu yang keseluruhan memberikan kesan hangat dan nyaman. Tempat ini benar-benar merepresentasikan tempat gigs yang sempurna; sangat intim.

Selain Apes band lokal lain lain juga ikut memeriahkan seperti Jakarta Criers dan Singles. Jakarta Criers bukan band dari Indonesia, personil mereka asli orang Australia. Keseluruhan gigs ini benar-benar gila! Lokal! Autentik! Hanya ada tawa meski hal-hal gila terjadi, bahkan ketika salah satu vokalis band lupa lirik para fans pun membantu menyanyikan lirik yang terlupakan itu. Inilah yang saya cari. Melihat orang-orang asli Australia dengan fanatismenya terhadap musik-musik berkualitas; melihat para penikmat musik lokal menyanyi, mengangguk-angguk mengikuti ketukan musik, menari seperti orang gila, minum bir—lagi, lagi, dan lagi. Tentu saja saya sebagai perempuan agak merasa was-was tapi saya sangat menikmati environment asing ini, inilah inti dari plesir jauh; temukan kearifan lokal meleburlah tanpa meninggalkan identitasmu.Hari ini merupakan akhir pekan kedua saya menjadi turis di kota Melbourne; kota pelajar yang terkenal akan kuliner dan pop-culture nya. Selain gedung teater dan musium seni, Melbourne juga terkenal dengan band-nya seperti the Tramper Trap, Last Dinosaurs, The Paper Kites, Jet dan Air Supply. Tapi, sudah akhir pekan kedua dan saya masih belum menemukan Melbourne yang ‘sebenarnya’ selain Fish&Chips akhir pekan yang lalu.

Pagi ini, saya dan kedua teman saya yang merupakan mahasiswi perantau dari Indonesia berencana melancong ke sebuah district bernama South Yarra, yang tergolong cukup berjarak dari tempat tinggal kami. Musim dingin di Melbourne tidak se-ekestim di London atau Tokyo yang berselimut salju. Di sini matahari masih cukup hangat meski terkadang suhu bisa mencapai 0°. Kami berjalan hingga ke stasiun Caulfield langsung menuju stasiun South Yarra di hari sabtu yang cerah. South Yarra benar-benar berbeda dengan tempat-tempat yang telah saya kunjungi sebelumnya di Melbourne; pertokoan mungilnya yang begitu klasik menyerupai bangunan-bangunan di abad pertengahan Eropa kontras dengan pra pejalan kaki yang begitu kekinian dengan pakaian-pakaian branded. Matahari semakin menyengat dan tidak banyak pejalan kaki yang menggunakan mantel terlalu tebal, hanya sebatas sweater dan baju panjang saja atau denim.

Setelah berjalan sekitar lima menit dari stasiun, kami tiba di sebuah restauran Jepang. Di sekitar restoran Jepang itu juga terdapat beberapa restoran yang terlihat menarik seperti restoran spesialis coklat atau restoran vine dining dengan kursi-kursi nyaman di balik dinding kaca maupun di bawah payung di pinggir jalan. Restoran Jepang ini juga sangat nyaman karena tempatnya tidak terlalu luas tapi memanjang ke belakang disertai AC yang ternyata masih kalah dengan suhu di luar. Ada satu meja di dekat pintu yang menhadap ke jendela yang tampak nyaman dengan sofanya, namun sayang pelanggan lain sudah menempatinya. Seorang pemuda berambut pirang mengenakan turtle neck abu-abu sedang menikmati sushi-nya yang sepertinya akan sapu bersih. Kami pun duduk tak jauh dari pemuda itu.

“Mixed teppanyaki,” saya berkata pada pelayan yang mengenakan setelan hitam rapih, tanpa memiliki gambaran sama sekali seperti apa teppanyaki itu. Saya juga memesan sushi gurita. Sushi saya pun datang tiba duluan; tanpa perlu merasa terkejut saya hanya menahan hembusan nafas panjang saat melihat gurita mentah berwarna putih yang ditutupi saus teriyaki di atas dua kepal kecil nasi di atas piring mungil berwarna oranye. Tanpa pandang buluh saya pun segera menjejalkan satu sushi ke dalam mulut saya. Tidak ada yang terlalu istimewa dengan rasa sushi itu, yang jelas guritanya ternyata sangat empuk dan tidak amis karena saya juga turut menjejalkan jahe merah dan wasabi ke dalam mulut saya. Kemudian, hidangan utama pun tiba; dalam piring berwarna gelap yang cukup besar berisi potongan sayur, daging, ayam, dan seafood yang diguyur garlic sauce. Teppanyaki begitu sempurna mulai dari kematangannya hingga sausnya yang gurih dan meninggalkan kesan amat dalam di mulut. Hingga saya tidak sadar bahwa pemuda yang duduk di dekat jendela sudah meninggalkan restoran.

State Library of Victoria, sebuah perpustakaan sekaligus galeri di pusat kota Melbourne, merupakan tujuan kami setelah kami cukup lelah melakukan window shopping di South Yarra. Sebagian kecil tampak depan perpustakaan saat itu sedang dalam renovasi dan juga sedang terdapat acara bedah buku Les Miserable, saya sangat ingin mengikui acara dengan tarif cukup mahal itu namun mengingat saya belum sempat membaca novel Victor Hugo juga teman-teman saya yang bukan pecinta sastra klasik, saya akhirnya harus puas dengan mengantongi brosurnya saja. Oh, bicara tentang brosur di kereta taudi saya mendapai sebuah selebaran seberti tabloid kota gratis dan disana tercantum event-event yang ada di Melbourne, salah satunya launching album—atau EP mungkin, kedua dari band lokal Melbourne bernama Apes pada tanggal tersebut. Sejujurnya saya tidak pernah mendengar nama band tersebut namun saya akan mencari tahu nanti ketika sinyal wifi menyapa HP saya.

Sesampainya di apartemen kenalan saya, saya langsung mencari tahu tentang band tersebut, tiket dan lain sebagainya. Bisa dibilang saya langsung jatuh cinta pada band indie ber-genre garage ini. Namun, saat sangat kecewa saat melihat bahwa tiket sudah sold out dan saya ingat jelas bahwa kemarin kami sudah membeli tiket bioskop Guardian of the Galaxy untuk kami tonton malam ini. Tapi jauh dalam lubuk hati saya sangat ingin pergi ke sana, toh tempatnya sangat dekat dari apartemen kawan kami ini. “Ga, kayaknya aku nggak ikut kalian makan-makan deh. Aku beli subway aja, kali ya?” Akhirnya sahabat saya itu pun menemani saya ke restauran subway di depan apartment. Saya sudah mempertimbangkan ini berkali-kali sejak saya berada di kereta dari South Yarra. Saya memberanikan diri, mengesampingkan rasa sungkan-tidak enak-saya kepada sahabat saya itu. Awalnya dia tampak marah dengan keputusan saya. Saya tahu dia dan teman-temannya tidak menyukai acara itu dan dia khawatir jika saya harus berangkat sendiri ke tempat gigs yang sudah pasti akan banyak orang-orang mabuk di sana.

Akhirnya setelah saya puas mendapat makian dari sahabat saya yang tempramen itu, saya akhirnya bisa pergi juga, dan dengan keajaiban saya juga berhasil mendapatkan tiketnya. Sahabat saya pun memakasa salah satu teman laki-lakinya untuk menemani saya. Saya pun berangkat bersama teman saya itu berjalan kaki dari QV menuju The Grace Darling Hotel di Collingwood yang memakan waktu kurang dari setengah jam. Dari kejauhan sudah terlihat sisi original dari Melbourne, kota seni dan band indie! Grace Darling Hotel berada di persimpangan jalan. Dinding eksteriornya bebentuk bata berwarna gelap dengan jendela kotak-kotak bergaya Georgian di sepanjang badan bangunan. Interiornya lebih mengesankan lagi; tembok dan dindingnya terbuat dari batu dengan meja-meja kayu yang keseluruhan memberikan kesan hangat dan nyaman. Tempat ini benar-benar merepresentasikan tempat gigs yang sempurna; sangat intim.

Selain Apes band lokal lain lain juga ikut memeriahkan seperti Jakarta Criers dan Singles. Jakarta Criers bukan band dari Indonesia, personil mereka asli orang Australia. Keseluruhan gigs ini benar-benar gila! Lokal! Autentik! Hanya ada tawa meski hal-hal gila terjadi, bahkan ketika salah satu vokalis band lupa lirik para fans pun membantu menyanyikan lirik yang terlupakan itu. Inilah yang saya cari. Melihat orang-orang asli Australia dengan fanatismenya terhadap musik-musik berkualitas; melihat para penikmat musik lokal menyanyi, mengangguk-angguk mengikuti ketukan musik, menari seperti orang gila, minum bir—lagi, lagi, dan lagi. Tentu saja saya sebagai perempuan agak merasa was-was tapi saya sangat menikmati environment asing ini, inilah inti dari plesir jauh; temukan kearifan lokal meleburlah tanpa meninggalkan identitasmu.

#IniPlesirku