Hai kawan, apa kabar? Masihkah kita saling mengenal saat raga semakin dekat tapi hati semakin jauh?

Untuk setiap deretan hari yang kusebut sebagai peta kenangan. Kamu ada di sana.

Pembentur mood paling hebat. Juga pembangun senyum paling merekah.

Mana ada cara menikmati makanan seenak santap berdua denganmu? Bukan makanan racikan ibu kantin yang enak, tapi ada leburan senyummu yang ikut menikmati setiap sendok yang masuk ke mulutku.

Tidak ada dusta sedikitpun bahwa kemacetan tak lagi menjadi penyulut marah jika kamu di sampingku, ikut menawarkan sabar yang kian menipis kala itu.

Advertisement

Bukan lagi ombak pantai indah yang kemudian menyilaukan mata. Tapi setiap ucap rindumu yang semakin menggelora di hati.

Peta kenanganku semakin lebar. Entah berapa banyak waktu yang kurelakan untukmu, untuk kita.

Tapi kemudian, petaku semakin melebar, tak kujaga keseimbangannya. Lalu hanya robek yang tersisa. Sisa-sisa peta yang kemudian tertinggal di hari ini.

Puing-puing waktu yang melebur bersama egoisme diri; diriku dan dirimu.

Ya, hari ini aku kehilanganmu, sekali lagi, dan mungkin untuk selamanya.

Aku kehilangan sosok yang kadang berada di depanku menjadi iman. Ada suatu waktu ia berada di sampingku menjadi teman. Mungkin juga menggandeng tanganku menjadi teman hidup. Atau juga memelukmu sebagai saudara. Mungkin kau segalanya, saat itu.

Tapi tidak hari ini. Dalam sujud panjang yang beriring air bening, Aku menyesal ya Rabb. Banyak yang telah kuabaikan, dan mengiyakan kata manusia. Aku juga manusia tapi telah terperdaya. Aku salah menggantungkan harap.

Aku kehilanganmu, kemudian Aku menemukan-Nya kembali. Tak pernah terlintas sedikitpun kata sesal karena kehilanganku ternyata untuk menemukan-Mu.

Selalu ada temu di setiap hilang, cepat atau lambat. Tapi pasti.