Kamu pernah kehilangan? Bagaimana rasanya? Apa kamu merasa seperti hatimu berlubang, ada sesuatu yang hilang dari tempatnya. Dan kamu tia-tiba saja seperti kehilangan akses menerawang masa depan. Kamu terjebak dalam tayangan lambat dirimu yang menyedihkan pada detik itu juga. Detik yang menentukan jalan hidupmu, akan jadi apa kamu setelahnya. Apa kamu akan jadi bijaksana, menjadikan kehilangan itu sebagai pengalaman berharga buat menjalani hidup yang lebih berarti? Atau kamu akan ikut hilang bersama ‘yang hilang’ itu.

Meskipun dalam banyak kasus, untaian kalimat seseorang yang saya lupa namanya adalah benar bahwa ‘bagi dua orang yang saling mencintai, kepergian salah satunya adalah kematian bagi yang lainnya’.

Ngomong-ngomong soal kematian. Kata teman saya, kematian orang yang kita sayangi adalah bentuk kehilangan paling besar lagi menyiksa. Kalau kita telah berhasil melewati fase tersebut, maka kita akan kebal menghadapi kehilangan apa pun setelahnya. Apapun!

Kalian mungkin sepakat dengan teman saya itu. Tapi saya punya pikiran lain. Kehilangan paling menyiksa bukanlah kematian. Kalau orang yang kita sayangi mati, yang pergi dari kita hanya wujud jasmaninya. Kita tetap memilikinya dalam kenangan kita tanpa harus tersiksa dibunuh harap melihat jasad kakunya.

Kehilangan paling menyiksa adalah menyaksikan orang yang kita sayangi pergi membawa setengah jiwa kita. Sedangkan kelabatnya masih dapat kita saksikan amat dekat, setiap saat kita berjalan di sampingnya, berbicara dengannya, tertawa bersamanya tetapi kita tahu kalau jiwanya bukan milik kita.

Advertisement

Dia meninggalkan kita bersama perasaan tak lengkap dan ketidakberdayaan karena tidak punya kemampuan untuk mengambil setengah jiwa milik kita yang berharga. Juga menyiksa kita dengan harapan yang senantiasa datang setiap kali melihat wujudnya.