Waktu akan terus bercengkrama bersama angin, bulan, bintang, mentari dan banyak lainnya. Ia akan terus berjalan tanpa henti apa lagi pengulangan. Beda halnya dengan kisah. Kisah memang dijalani seiring berjalannya waktu tapi ia tak seistimewa waktu. Waktu jelas dengan posisinya, sedangkan kisah tidak. Suatu kisah dapat terhenti, berulang, atau bahkan menghilang. Banyak kisah yang akan terjadi dalam hidup kita, bahkan kadang yang terjalani adalah kisah yang serupa. Serupa dalam persoalan rasa. Tak disadari terkadang rasa yang kita temui adalah rasa yang serupa. Seserupa diriku yang kini menemui sebuah rasa kehilangan untuk kesekian kalinya.

Pertemuan ini membuat diriku benar-benar tertegun bahkan sempat aku berniat berhenti dari kehiupan. Aku kehilangan seseorang yang aku cintai. Dengan cinta dan impian yang seolah ikut melenyap. Harapan-harapan yang telah aku susun tinggi membentuk piramid kini hanya menjadi piramid dalam album bernama kenangan. Kehilangan itu menemukan aku kembali lagi pada sebuah kesendirian. Memandang waktu yang seolah tak berpenghuni. Sakit yang memang teramat menyesakkan batinku tiap kali rasa itu menghampiriku.

Sore itu tepat ketika mentari akan pamit, angin berhembus dengan tenang, burung-burung beriringan pulang menuju peristirahatannya. Aku duduk di bawah sebuah pohon rindang di depan rumahku sambil menunggu sirinei berbuka. Sejuknya udara kurasakan, membuatku terdiam sejenak. “Terima kasih Tuhan, Kau masih izinkan aku bernapas hingga aku masih mampu merasakan nikmat dan keindahan yang Kau miliki” menahan pilu kehilangan.

Tuhan pasti punya rencana yang jauh lebih indah kataku ketika aku merasakan betapa aku tidak sendiri. Masih ada Tuhan Yang Maha Esa. Bunyi sirinei yang lantang mengejutkan aku dari lamunan. Saatnya untuk berbuka dengan yang manis-manis sebagaimana mestinya. Aku langkahkan kaki selepas meminum segelas teh, aku menyusuri air untuk membasahi wajahku dengan wudhu.

Dalam tunduk dan bersimpuh, aku teteskan kepedihan di hati , Aku merindukanmu Ya Rabb. Kesedihan ini begitu membuat aku merasa lemah. Engkau yang maha memiliki segalanya, jika ini cobaan untukku maka berikan aku kekuatan untuk melewatinya. Bulan ramadhan memang bulan yang penuh berkah.

Advertisement

Rasa kehilangan yang begitu menikam relung hatiku ini membuat aku begitu mensyukuri nikmat hidup yang masih diberi. Menyadarkan aku tentang banyak hal. Bahwasanya setiap yang hidup pasti akan mati, setiap yang memiliki pasti akan kehilangan, setiap yang bahagia pasti akan menemukan kesedihan. Itu semua bukan karena kita tak pantas menikmati indahnya hidup tapi dari semua itu kita merasakan indahnya hidup.

Kedekatanku semakin terasa dekat dengan-Mu, Ya Rabb.

"Terimakasih buat kamu yang telah menemukan aku dengan kehilangan ini sehingga aku bisa lebih dekat dengan Tuhanku hingga aku menjadi pribadi yang jauh lebih bersyukur, pribadi yang jauh lebih rendah hati.” bisikku dalam hati dengan tersenyum lebar.

“Percayalah tidak ada yang sia-sia jika kita terus berusaha dan berdoa. Dekatkan diri pada-NYA maka yakinlah jiwamu akan jauh lebih tenang, Tiara” kata Tiara pada dirinya. Satu hal yang perlu kita sadari bahwa kehidupan bukan milik kita, tapi miliknya Yang Kuasa. Jaga, dan jalanilah dengan sujud dan doa.