Seandainya waktu mengingkari arti hadirmu dalam hidupku


Tak akan aku biarkan hati menuntut apapun darinya karena cinta ini terlalu indah untuk aku benci,

Rindu ini terlalu merdu untukku ingkari,

Dan melenyapkan senyummu dalam ceritaku hanyalah sebuah kemustahilan.

Aku hanya ingin menikmati cinta ini bertepuk tangan dalam resahku,

Advertisement

Walaupun terdengar kasar mengusik jiwa,

Namun masih mampu membuatku tersenyum dalam karya.

Aku hanya ingin membiarkan semumu ini gentayangan menghasut diri,

Walaupun meresahkan hati,

Kehilanganmu hanyalah ketakutanku.

Aku hanya ingin mengenal cinta ini seperti purnama,

Yang tak membuat bumi merasa cemburu kepada langit ketika memeluknya erat.

Aku hanya ingin mengenal rindu ini seperti senja,

Bukan seperti siang yang merasa tersiksa karena teriknya mentari.

Aku hanya ingin menikmati indahnya senyummu seperti pelangi,

Tanpa peduli kapan lagi dia akan kembali.

Dan aku hanya ingin mengenalmu tanpa pamrih,

Seperti pahlawan yang memberi kemerdekaan di ranah pertiwi ini.

Dan aku ingin mencintaimu diantara perih dan luka,

Agar bahagia tak menjadi duka”

 

Tulisan ini tercipta atas nama cinta dan rindu yang akan mewakili semua cerita yang pernah aku dapatkan darimu, Darimu yang kini bersemayam merdu dalam sanubari. Tulisan ini bukan tulisan pertamaku untuk menggmbarkan bagaimana perasaanku saat ini kepadamu dan bukan pula tulisan terakhirku untuk menyerah karena terlalu berat menanggung beban cinta yang belum menemukan tempat untuk berlabuh dalam hatimu.

Namun tulisan ini untuk cinta dan rindu yang aku rasa tentangmu dan melalui tulisan ini aku hanya ingin menjadikan semua itu tersimpan rapi dalam cerita hidupku dalam sebuah karyaku ini. Apapun yang terjadi setelah karya ini, Semua telah terangkum disini sebagai bukti jika dirimu akan selalu ada di setiap senyum bahagia bahkan air mataku.

Aku melakukan ini semua bukan Karena aku tak sanggup lagi menanggung beban rindu yang semakin hari semakin berusaha untuk mengoyak dinding hatiku hingga meluap untuk bicara. Namun aku beranjak pergi dari bayang adamu untuk sekedar mencari celah melepas lelah hingga menemukan jalanku sendiri tanpa hadirmu dalam waktuku lalu melanjutkan hariku bersama orang yang paling berjasa dan berharga dalam hidupku ini yaitu seorang ibu yang kini sangat merindukan kehadiranku disana yang telah lama menungguku di kampung halaman.

Bukan pula aku membiarkan rasa ini berkelana membisu lalu terbelenggu hingga beku tak ingin ungkapkan rindu ini kepadamu lalu kau berkata kepada kesalmu jika aku orang yang paling egois di dunia ini hanya mementingkan perasaan sendiri lalu menyimpannya erat dalam hati tanpa aku memberimu kabar berita tentang luka yang aku tanggung atas namamu. Bukan itu maksud dan tujuan hatiku. Jika pun aku harus ungkapkan kepadamu tentang semua  yang aku rasa, Aku tetap akan pergi tinggalkan dirimu disini, Tentunya itu adil bagi dirimu dan bukan perkara mudah untuk kita lewati jika pada akhirnya kita jua akan saling berjauhan.

Bukan itu saja yang aku pikirkan tentang rasa cinta ini kepadamu, Masalah lain juga menimpa gerak langkahkku untuk mengatakan cinta ini kepadamu yaitu ada dia yang harus aku jaga hatinya, Seseorang yang lebih dulu menjadi kekasihmu. Aku sangat takut menyakiti hatinya karena aku sangat peka dengan keadaan seperti ini, Bagaimana perasaanya jika dihianati olehmu dan itu tak mudah dia terima dengan baik nantinya. Karena aku tak ingin menjadi diri yang angkuh hanya mementingkan perasaanku sendiri dan aku juga pernah mengalami hal seperti serupa, Maka aku ambil jalan ini, jalan yang membiarkan hati ini terluka harus menjauh darimu.

Belum lagi dengan sahabatku yang juga menyimpan perasaan cinta yang sama kepadamu. Aku juga harus menjaga perasaanya agar dia tak terluka dengan kehadiranku dalam harimu. Aku sangat yakin, jika aku selalu ada disekitarmu, Membantu dalam setiap kesulitanmu, Maka dia akan berpikiran buruk kepadaku jika aku adalah pagar makan tanaman. Dan Aku tak ingin menjadi seorang sahabat seperti itu, Bahagia diatas kesedihan dan penderitaan oran lain.


Aku dan cinta memang berada di waktu dan ruang yang sama


Namun hadirmu seperti purnama,

Terlihat indah tanpa bisa ku genggam.

Tapi,

Entah kenapa diri ini selalu menikmati keindahanmu

 tanpa berpikir jika rindu ini meneteskan air mata mengharapkanmu ada.”

Jika kau bertanya kenapa aku melakukan itu semua kepadamu, Mungkin aku butuh banyak waktu untuk menjawabnya perlahan, Mungkin juga tidak bisa ku jawab karena jika satu menit saja aku menjelaskan kepadamu, Entah berapa banyak lagi waktu yang harus aku habiskan hanya untuk meneteskan air mata mengharapkanmu bahkan satu detik saja, kesedihanku tak dapat aku pinggirkan begitu pekat membungkus hati selalu teringat dengan dirimu.

Jika kau bertanya, kenapa aku membiarkan cinta ini menyiksa batinku begitu parah hingga membuatku sering murung dalam diam dikala rindu mengharapkanmu ada dalam sepiku, Maka aku butuh banyak energi untuk menjawabnya karena sekali saja aku menyebut namamu, maka piluku semakin terasa sakit karena indah senyummu membuyarkan segala sikapku.

Jika pun kau bertanya kenapa aku hanya diam saja bahkan pura-pura tak tahu dengan perasaanku terhadapmu bergemuruh datang menghatam jantung hati silih berganti ketika hadirmu ada dalam waktuku, Maka aku butuh banyak kata-kata untuk menjelaskannya kepada dunia karena aku tak akan sanggup membuatnya menjadi kalimat yang utuh jika aku memang benar mencintaimu bahkan lebih dari sekedar cinta.

Jika kau bertanya kenapa aku selalu menghindar dan seakan membencimu dalam ku bersikap kepadmu, maka aku tak akan sanggup mendengarkan pertanyaanmu itu karena ketika kau mengalunkan kalimat tanya itu kepadaku, maka aku tak akan sanggup mengawasi diriku untuk menjawab jika aku tak ingin cinta ini terus tumbuh subur jika aku selalu berada di dekatmu, selalu ada dalam setiap resahmu dan selalu ada di sekitarmu.

Untuk itulah, Aku tak ingin semua itu menjadi tuntutan waktuku hingga menuai pamrih dalam hidup kepada cinta. Aku tak ingin rindu ini terlalu menghujat siang dan malam untuk berlaku tak adil dalam memberi hingga membuang cerita indah untuk bahagia. Aku yakin, Cinta dan rindu yang aku rasa atas dirimu ini tak ada yang salah bahkan menyalahkan pemilik cinta hadirmu dalam hidupku, walaupun batinku begitu tersiksa menanggung beban perasaanku sendiri, Namun tetaplah indah.

Aku bukan tak ingin melakukan hal ini dalam hidupku, Apalagi harus beranjak dari tempat dimana hadirmu ada dalam waktuku. Kau adalah semangataku yang pernah hilang, Kau senyumku yang pernah runyam ditelan dusta dan kau bagian dari suksesku ketika berada disini. Namun semua itu harus aku tinggalkan terluka dan apapun pilihan hidup yang aku pilih, Aku pastikan tak akan aku biarkan cinta dan rindu ini mengusik bahagianmu karena aku pastikan do’aku akan selalu mengalir untukmu disetiap sujudku kepada-NYA.

Hingga ketiadaanku tak pernah kau lihat lagi, Percayalah jika keabadian dalam hatiku masihlah bercerita tentangmu yang aku rangkum dalam sebuah karya terbaik tentang cinta dan rindu yang pernah kau titipkan dalam hatiku. Bukan untuk abaikan tapi untuk aku jaga dan ku kenang hingga nanti ketika Sang Maha cinta memberiku tempat terindah dihati yang menanti untukku berlabuh pada seseorang yang tercipta dari tulang rusukku dan rekarnasi dari wujud nyatamu yang pernah aku jaga atas nama cinta dan rindu dan saat itulah aku akan berkata kepada dunia, Jika cinta itu memang indah bukan sekedar gundah yang menyesak hati.


Seperti dinasti yang mengukir sebuah peristiwa dalam dunia ini,


Walaupun hanya cerita untuk dikenang,

Namun selalu memberi arti disetiap mata yang memandang,

Di Setiap hati yang merindu.

Dan kisah ini,

Akan aku abadikan dalam sebuah karya atas namamu.

Bukan untukku,

Namun Untuk cinta yang mengajarkanku arti ikhlas dalam mencintainya.”

Hari ini dan setelah aku beranjak pergi dari sini, Biarkan saja aku menanggung semua yang pernah ada atas namamu dalam hidupku. Jangan pernah merasa bersalah jika nanti kau mengetahui semua tentang apa yang aku tuliskan disini untukmu karena hanya akan membuatku sedih.

Karena aku pun memahami arti hadirmu memang telah gariskan untuk dipertemukan denganku hingga aku mendapatkan cerita ini darimu. Dengan adamu, Aku menjadi seorang pria yang teramat tangguh dan menghargai cinta dalam hidupku. Tetaplah tersenyum seperti senyummu hari ini yang selalu menjadi alasanku untuk tidak melupakanmu dalam cerita indah ketika hari ini berlalu.

Setelah hari ini berlalu, Aku harus pergi, Pergi tinggalkan segala cerita yang terjadi dalam hidupku di ibukota Jakarta ini dan kembali ke tempat dimana aku pernah merasakan betapa indahnya masa anak-anak dan canda gurau seorang sahabat hingga malam aku terlelap dalam pangkuan seorang ibu yang kini jauh dariku.

Untukmu cinta dan rindu yang pernah aku dapatkan dari hadirmu, Jika sikap salahku pernah membuat lubang luka dalam hatimu, Terimalah ucap ma’afku dan jika tak mampu mengobati luka itu atas segala keraguanmu akan tulusku, Biarku saja aku tanggung semua itu disisa hidupku dalam kisah cinta dan rindu yang aku abadikan dalam sebuah karya atas namamu ini.

“Bumi bukan tak ingin bertanya kepada awan,

Kenapa dia menyembuyikan pelangi setelah hujan?.

Karena bumi tak ingiin awan merasa bersalah lalu meneteskan air mata menggenanginya.

Atau tentang pohon dan angin,

Kenapa pohon tak pernah berpesan kepada angin,

Jangan mengeluarkan tenaga terlalu kencang agar dahan tidak saling berjatuhan.

 Karena pohon tak ingin melihat angin murung hingga merasa kesal lalu menumbangkannya dalam sekejap.

Purnama pun tak pernah tebar pesona kepada pungguk hingga menuai rindu dalam waktunya.

Bukan karena dia memang indah untuk dipuja,

Namun karena ia tak ingin memberi harapan yang semu.

Begitu pun denganku,

Hati tak pernah memaki hadirnya cinta dalam waktuku,

Bukan tak inginkannya ada dalam hidupku,

Namun Karena cinta ini percaya,

Jika rindu tak akan menghiati hati”