Dunia sekarang ini tidak memihak kepada ketentraman dan perdamaian antar sesamanya. Merasa sebagai sebuah pihak yang kuat dan memiliki banyak dukungan membuatnya lebih memilih untuk berbuat semaunya demi menunjukan kasta.

Kekuasaan adalah kedudukan tertinggi yang sepertinya layak diperebutkan dengan berbagai macam cara. Bahkan ketika cara itu harus melukai orang – orang tidak berdosa yang sebenarnya sangat layak untuk memperoleh kehidupan yang tentram seperti janji sebuah negara yang menjamin kesejahteraan dan ketentraman warga negaranya.

Seperti yang terjadi pada perang saudara di Syria, dalam sejarah peperangan di timur tengah ini adalah sebuah tragedi yang penuh dengan kejahatan perang. Peperangan ini sebenarnya tidak jauh dari proses penggulingan pemerintahan Bashar Al Assad yang dinilai tidak memberikan kesejahteraan pada masyaraka Syria pada masa pemerintahannya.

Kemudian berbagai pihak yang terlibat dalam perang saudara ini pasukan pemerintah suriah, pasukan pemberontak Arab Suriah,Pasukan Demokratik Suriah, dan kelompok jihadist salafi termasuk di dalamnya kelompok Front Al Nusra dan Negara Islam Irak dan Syam atau biasa dikenal dengan ISIS. Selain itu dukungan dari pihak luar yang ada indikasi mengadu domba untuk melemahkan kekuatan negara Syria secara perlahan dari dalam adalah dengan memberi dukungan persenjataan dan dana pada kelompok tertentu.

Parahnya anak-anak tidak berdosa yang tidak ikut angkat senjata pun juga banyak yang ikut tumbang. Pada data yang di catat oleh UNICEF, setidaknya 652 jiwa melayang yang tidak lain adalah nyawa anak-anak dibawah umur pada tahun 2016 yang terkena peluru nyasar ataupun korban ledakan dari gempuran senjata peledak. Ini adalah masa perang saudara yang ke 6 tahunnya di Syria.

Advertisement

Ironisnya, jumlah ini adalah jumlah korban jiwa tertinggi yang kesemuanya adalah anak dibawah umur yang pernah di catat oleh UNICEF. Sebagai badan internasional yang peduli terhadap nasib dan kelayakan hidup anak-anak kurang mampu atau sedang dalam tekanan di berbagai negara, UNICEF sangat menyayangkan pihak-pihak yang menghalalkan segala cara untuk melemahkan kekuatan lawan. Gedung-gedung sebagai prasaran penting juga tidak luput menjadi sasaran aksi brutal penyerangan dari konflik perang saudara ini.

Sekolah, rumah sakit, taman bermain, dan area-area yang dikhususkan untuk anak-anak sudah diratakan dengan tanah. Bayangkan bagaimana tragisnya ketika anak-anak yang sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan fasilitas dan tenaga pengajarnya mati sia-sia sebanyak 255 jiwa pada tahun 2016.

Para anak-anak yang beruntung hanya mengalami luka ringan ataupun berat tidak semuanya mendapatkan perawatan lengkap dan mendapatkan kiriman bantuan berupa obat-obatan. Hanya sekitar 250.000 anak-anak saja yang mendapatkan perawatan medis dan mendapatkan obat-obatan dari rumah sakit di Syria dan beberapa relawan medis disana. Sungguh menyakitkan ketika disana kekurangan tenaga medis yang memberikan perawatan kepada anak-anak, membuat banyak korban luka usia dini, berakhir dalam keadaan meninggal karena tidak kuat menahan demam dan infeksi luka.

UNICEF melarang keras para orang dewasa dan orang tua di Syria untuk memaksa anak-anak dibawah umur mereka menjadi pekerja kasar untuk bertahan hidup, dan menikah di usia dini. Ini akan sangat merusak emosi dan kejiwaan anak-anak. Diperkirakan lebih dari 850 anak-anak telah dipaksa untuk ikut berperang dalam perang saudara ini di tahun 2016 lalu. Dan efeknya sekarang ini terlihat, secara umum anak-anak di Syria menjadi susah menatap hidup mereka dan menjalaninya dengan kondisi emosi yang normal, sangat ironis melihat mereka menjadi lebih paranoid dan mengalami ketakutan yang berlebih.

Pada akhirnya, perang tidak pernah membawa pengaruh yang baik. Baik bagi orang dewasa ataupun mereka yang muda dan terutama mereka yang masih dibawah umur. Semuanya hanya demi sebuah pengakuan kekuasaan dan menjauhkan dari yang diharapkan dunia ini. Bukan dunia yang merusaknya, namun secara perlahan tapi pasti dunia telah dihancurkan sendiri oleh manusia dengan nafsu dan cara mereka sendiri.