Aku dan kamu adalah insan yang mungkin sedang Tuhan rahasiakan dalam kehidupan. Sebenarnya aku adalah segelintir wanita yang mendambakan sosok dirimu dalam setiap mimpiku. Terkadang kedambaanku ini berujung pada sebuah keraguan. Sebab kau datang lalu pergi dengan begitu aja. kau datang kembali dengan membawa sejuta makna perasaan yang sangat mendalam.

Kau tebarkan beberapa pernyataan-pernyataan cinta, lalu menghilang begitu saja tanpa adanya satu keseriusan di dalamnya. aku ini wanita yang juga berperasaan. Sebab aku merasakan lamunan saat menunggu pesan singkatmu berharap ada suatu kabar baik darimu.

Ataupun hanya membaca memori yang terekam begitu sempurna saat kau bersamaku. Lucu memang, bagaimana mungkin kau buat perasaan ini begitu sempurna lalu kau pergi sesuka hati tanpa kau pertanggungjawabkannya. Kau sosok pria yang aneh atau aku yang terlalu berharap lebih padamu? Aku tidak begitu yakin dengan pertanyaanku.

Aku juga tidak paham benar, sudah berapa wanita yang pernah singgah dalam hidupmu ketika kau masih memberiku sejuta harapan dan perasaan ini. Aku juga tidak begitu paham tentang arti kesabaran saat aku bersamamu. Saat luka yang kau tinggalkan padaku, saat memori yang kau tata rapi saat bersamaku, saat ketidakpastian yang kau curahkan padaku, ya.. saat saat itu.. sudah berapa lama aku menunggu mu?

Sudah berapa banyak perasaan yang ku buang dengan sia-sia demi mu? Sudah berapa banyak air mata dan rasa kecewa yang terus ku rasakan saat kau tinggalkan aku? Sudah terlalu banyak! Namun sayang, kau begitu seperti pria pengecut yang memang tak tau arti cara berjuang.

Advertisement

Lalu sekarang kau datang kembali dengan rasa tanpa bersalah sedikitpun padaku. Saat apa yang telah kau lakukan padaku dulu. Menanyakan tentang kabar dariku,berbasa-basi ataupun sekedar mengajakku bertemu layaknya kau makhluk suci tanpa dosa.

Itu tak membuatku merasakan hadirmu kembali seperti dulu. hati ku kini sudah terlalu hancur berkeping dan kini aku sedang berusaha memperbaikinya. Tolong jangan kau buatku merasa menyerah untuk mengutuhkan puing-puingnya. Tolong jangan kau retakkan kembali puing-puing ini. Darimu aku sadar bahwa memang perasaan ini sudah digariskan dengan sendirinya. Jika kau tanya bagaimana perasaanku saat ini, ya. Aku kira lebih baik dari sebelumnya saat kau tak bersamaku.