Berbeda bukan berarti buruk atau aneh. Kami yang sewaktu-waktu tidak dapat bernafas. Bahkan mungkin sudah terlalu sering sehingga sudah terbiasa dengan sendirinya. Dengan menjadi berbeda dari yang lain bukan berarti kami memiliki hak untuk menggerutu kepada Sang Pemilik Kehidupan. Walau sebelumnya masih belum terbiasa, tapi kini kami mulai menikmati atas keberbedaaan ini. Menikmati setiap nafas yang masih leluasa boleh kami hirup, karena sewaktu-waktu kami sadar benar sulit untuk bernafas. Dengan mulai menikmati adalah bentuk rasa syukur atas nafas yang boleh kami hirup dari Sang Pemililik Kehidupan. Kami mulai berhenti membanding-bandingkan .

“Bukankah segala yang baik akan tumbuh kearah kebaikan”.

Mampu menikmati terbitnya matahari dan senja sungguh suatu yang tidak bisa dibayar oleh apapun, daripada sibuk untuk terus mempertanyakan atas keberbedaan ini. Sadar benar segala yang hidup pada akhirnya akan menemui yang disebut dengan “kematian”. Daripada mengutuk hujan yang lama tidak berhenti, bukankah lebih baik bersyukur karena masih diberi kesempatan menimati air. Karena hujan akan berhenti dengan sendirinya. Bukan tidak memiliki ketakutan, tapi betapa naifnya kami, jika masih memiliki rasa takut yang berlebihan yang mampu menjadi penghalang buat kami untuk berdampak buat lain.

“Karna sesungguhnya sukses bukan seberapa banyak harta yang dimiliki tapi lebih kepada seberapa berdampak anda buat orang lain” .

Keterbatasan bernafas seyogyanya tak lantas membuat kami sibuk untuk terus care kepada diri-sendiri. Hujan membuat kami sadar betapa bahagianya kita ketika berdampak buat orang lain. Hujan yang berguna untuk petani di sawah, namun juga bisa menjelma menjadi sosok yang menakutkan yang kita sebut “banjir”. Kami sadar untuk tidak terus dan terus secara berlebihan terfokus akan keterbatasan diri yang sering dijadikan pembenaran untuk tidak berbuat apa-apa. Kami memilih untuk jatuh ke bumi seperti hujan dan memberi kesejukan. Sungguh indah bukan …

Advertisement

Sedikit mengutip Mother Teresa : “ Bukan seberapa banyak kamu memberi yang penting, melainkan seberapa banyak kasih yang ada padamu saat memberi “

Kami boleh untuk menikmati rasa syukur dengan menyelipkan kasih atas apa pun yang kami lakukan.Ya ,kami berbeda, ketika Sang Pemilik Kehidupan memilih kami dari antara ratusan bahkan miliaran orang di dunia ini. Sekali lagi kami sangat bersyukur, meski banyak orang mungkin ini hal yang buruk.Tapi kami mau katakan , bagi kami ini adalah keuntungan betapa Sang Pemilik Kehidupan begitu mengasihi kami. Hujan mampu mengembalikan ingatan untuk mampu mengenang setiap rentetan kisah yang telah terjadi bersama seseorang, bersama sesuatu atau bahkan bersama alam.Tak ada satu manusia pun didunia ini yang mampu menghentikan rintihan hujan, dia akan berhenti dengan sendirinya. Turun dan mengalir dengan tenang. Hai nafas… berhembuslah dengan tenang dan bahkan jika sewaktu-waktu nafas itu terhenti, kami akan tetap tenang seperti hujan

Kami Si Pluviophile penderita asma percaya,"harapan yang wajar akan selalu berdamai dengan realita”