Aku menulis ini ketika hatiku sedang merindukanmu. Ya, aku teramat sangat merindukanmu, di teras yang dingin ini. Tempat kita terbiasa menghabiskan malam. Tempat kita terbiasa berbagi cerita; tentang pekerjaan kita, tentang diri kita, tentang hal-hal lucu yang selalu membuat kita tertawa, tentang apapun.

Kita tertawa bersama, menikmati setiap detik yang kita habiskan bersama sepanjang malam.

Aku selalu menyukai senyumanmu, candamu, gelak tawamu, caramu berbicara, caramu menatapku, caramu menggenggam erat jari jemariku, caramu mengusap hangat pipiku, caramu mencubit lembut hidungku, semuanya.

Aku menyukai semua yang ada pada dirimu. Sampai-sampai dan tanpa sadar aku telah mencintaimu dengan sangat dalam, teramat dalam malah.

Hampir setiap malam kita makan bersama, berboncengan dengan motor Revo-mu, tak peduli dengan udara dingin yang membuat tulangku merasa linu. Tak peduli kalau angin malam tak baik untukku sejak dokter mengatakan bahwa kedepannya fisikku mudah lemah.

Advertisement

Aku memang tak tahu betul makanan apa saja yang menjadi favoritmu, namun satu yang ku tahu kau sangat suka sekali dengan makanan khas Palembang, yaitu empek-empek. Dan tahukah kamu, betapa inginnya aku memelukmu setiap saat kau memboncengku dengan motor Revomu? Dan seperti biasa, aku selalu mengambil kunci motormu lalu kusembunyikan.

Kamu tahu kenapa aku menyembunyikannya? Karena aku tak ingin kamu pulang. Aku ingin kamu tetap di sini, di sampingku, bersamaku. Sekali lagi, karena aku teramat sangat mencintaimu.

Aku pun menulis ini ketika hanya bayangmu yang berputar-putar di otakku. Dengan airmata yang jatuh satu per satu dari kedua mataku, di teras yang penuh oleh bayangan kita dan ditemani oleh jaketmu yang selalu kupeluk erat saat kau pulang dari rumah omku dengan rasa bahagia.

Jaketmu yang selalu menemani dan menyenyakkan tidurku setiap malam.

Aroma khas tubuhmu, aku tak bisa melepaskannya dari ingatanku. Sungguh, aku tak bisa melupakan senyummu.

Suaramu ketika kau bilang kau sangat menyayangiku dan kaupun tahu jelas bahwa aku juga sangat menyayangimu lebih dari apa yang kau bayangkan, lebih dalam dari rasamu. Aku rindu kamu.

Sesekali, aku melihat foto-foto yang ada di album laptopku. Fotomu yang tanpa kau sadari telah kuambil diam-diam dari istagram, line, dan tango; foto kita berdua di pantai dekat rumahku yang kala itu kita ambil saat matahari terbenam; foto yang kita ambil di teras rumah ini.

Sekali lagi, aku tak bisa melupakan semuanya.

Saat kita berjalan sepanjang tepi pantai, saat kau mengenggam tanganku. Semua itu terlalu lekat di ingatanku. Aku sedih, aku hancur dan aku tahu ini semua memang salahku. Aku terjebak dalam segalanya, dalam perasaanku padamu yang teramat sangat, dalam setiap kenangan yang tak pernah luput dari ingatanku; kenangan yang singkat tapi sangat berarti bagi hidupku.

Aku mengusap lembut wajahmu di foto itu dengan jemari yang biasa kau genggam erat, jemari yang biasa mengusap lembut pipimu. Aku merindukanmu.

Aku mengusap tuts-tuts keyboard laptopku yang mulai basah karena airmataku yang tak berhenti menetes. Aku membuka layar handphoneku, membuka aplikasi WhatsApp dan membaca chatting kita malam itu sebelum kau pulang ke rumahmu di daerah Tangerang.

Kala itu kau baru saja pulang dari rumah omku, menghabiskan malam bersamaku, mengutarakan kebingunganmu karena ingin mengenalkanku kepada kedua orangtuamu dengan keadaanku saat ini. Dan seperti biasa, kau selalu melapor bahwa kau sudah sampai di kamar kostmu.

'Aq udah sampe kos dek. Adek.. aq mau tidur ya. Aq sayang banget sama kamu..'

'Met bobo yaa abang.. Aku juga sayang banget sama abang..'

'Iya sayang kamu ga boleh galau yah.'

'Iya insya allah abang..'

'Pengen peluk kamu dek 😀 Peluk guling aja deh..'

'Aku pingin abang gak pergi. Selalu di sini sama aku.'

'Iya sayang…… Aku paham banget… Aku usahakan ya.'

'Iyah, semoga semuanya tetap baik-baik aja kayak gini.. Aku takut banget..'

'Berdoa ya sayang.'

Sejak kau menulis itu aku berharap kau bisa memperjuangkanku. Memperjuangkan keadaanku. Memperjuangkan cinta kita. Memperjuangkan hubungan kita. Kau tahu aku terlalu takut kehilanganmu. Kau tahu aku terlalu takut kebersamaan kita hanya semu.

Apakah aku benar-benar telah kehilanganmu? Apakah ini suatu kenyataan bahwa kau tak lagi datang kesini untuk menemuiku?

Aku merindukanmu. Aku mencintaimu. Menyayangimu dengan teramat. Aku ingin kamu datang malam ini. Aku ingin kau selalu mengusap lembut pipiku. Di sini. Bersamaku. Bisakah?