Rindu bukan hanya di rasakan manusia, alam pun memiliki rasa

Perasaan rindu itu bukan hanya dapat dirasakan oleh manusia guys, namun alam pun memiliki rasa yang sama. Manusia hanya kurang peka dengan apa yang di sekelilingnya saat alam mulai merindu. Merindukan kisah yang pernah kalian buat bersama. Kisah yang mungkin kalian tinggal atau bahkan mulai lupa. Setidaknya setelah membaca ini, kalian bisa mengingat apa saja kisah yang pernah terukir dalam kebisuan alam.

Aku merindukan senyum mu saat melihat dan mendengar ombakku yang berdebur susul menyusul menyisakan buih di tepian. Begitu semangat aku hempaskan ombak mendekatimu, atau sekedar menghempaskan rinduku saat melihatmu mandi di tepian. Aku pun merindukan saat kita berkejaran, saat kau tertawa riang menghindari ujung ombakku. Ah masa itu datang kembali terbawa angin sepoi-sepoi di penghujung terbenamnya Matahari.

Aku rindu kalian yang masih peduli, yang masih mencintaiku. Lama aku menunggu mu kembali menyapaku dalam kesepaian ini. Tatkala melihat mu datang aku bahagia, kau bawakan ku begitu banyak teman-teman baru. Aku bahagia, namun seketika sirna.

Kau berubah, kau tak mencintaiku seperti dulu. Kau ambil karang-karangku di tepian. Dengan santainya kau dan teman-teman mu memungutinya di sepanjang garis pantaiku. Apa kau tak mendengar teriakan deburanku yang mengganas? apakah kau seolah tak peduli lagi? Aku hanya tergugu dalam bahasa alamku menatapmu yang sedang tertawa bahagia.

Advertisement

Aku masih dapat bersabar untukmu

Aku masih bersabar, mungkin itu caraku berbagi untuk melihat tawa riang di wajahmu. Namun, kau kembali tak adil padaku. Kini bukan hanya karang-karangku yang kau ambil di tepian, kau mulai meninggalkan jejak baru yang tak ku kenal. Jejakmu ini berbeda dari yang dulu.

Aku merindukan jejak langkah kaki mu yang berlarian menghindari deburan ombakku, bukan jejak plastik penuh warna. Lihatlah, pasirku yang dulu indah, kini penuh dengan benda yang berwarna-warni. Aku coba hapus seperti yang biasaku lakukan pada jejakmu dulu. Namun, benda warna warni itu seolah permanen. Benda itu mengikuti deburan ombakku. Ombakku ikut di hiasi benda berwarna-warni itu.

Aku masih ingat saat kau dulu datang dengan wajah sendu, kadang menangis. Aku masih ingat batu yang kau lempar ke arahku. Batu itu masih tersimpan dengan rapi didasar lautku. Sampai saat ini tak ingin ku bawa ke tepian. Batu cinta dan kasih sayang yang kau lempar itu menjadi awal kedekatan kita, Di batu itulah semua memori tentang kita kusimpan dan kujaga dengan baik.

Bukan batu cinta atau karang kasih sayang yang kau lempar lagi. Kau ganti dengan benda mu yang berwarna-warni. Benda yang kau banggakan.

Benda itu bernama sampah.

Entah berapa banyak sampah yang terbawa arus ombakku. Entah berapa bagian yang telah kau hiasi dengan sampahmu yang berwarna-warni. Aku bingung persepsi kalian dengan keindahan. Apakah seiring waktu persepsimu yang dulu telah sirna. Entahlah, kau sekarang memiliki persepsi yang berbeda tentangku.

Kau lebih menyukai ombakku penuh hiasan sampah warna-warnimu, kau lebih menyukai pasir yang tercampur benda warna-warnimu. Kau lebih menyukai mengganti karang dengan sampahmu yang beraneka ragam dan bentuk. Persepsi keindahan antara kita jauh berbeda.

Aku masih menunggu dirimu tersadar dan kembali mengukir cerita indah kita. Apakah kau juga merindukan persahabatan kita yang dulu?

Kutunggu kau kembali memulai cerita tentang kita