Saat itu aku berumur sekitar 7 tahun. Aku anak kampung yang gemar berpetualang. Setiap hari minggu tak lupa aku berkunjung kerumah eyang akung, Eyang putri sangat menyayangiku, kalau datang berkunjung kerumahnya tak lupa sego karo mendoan kepelan tangan eyang jadi makanan favoritku (Nasi sama Tempe mendoan yang disatukan menjadi bulatan-bulatan kecil sekali suap).

Hari minggu tiba, aku datang kerumah eyang dengan sepeda merah miniku bersama ayah, rumah ku masih satu desa dengan eyang jadi aku bisa datang sesuka ku. Ibu ku saat itu bekerja diluar negri jadi aku hanya tinggal bersama ayah. Lihatlah eyang putri selalu menyambutku dengan sebutan "cah ayu". Tangannya yang sudah keriput itu memelukku dengan erat, aku pun kembali memeluknya. Eyang akung berbeda dengan eyang akung, lebih banyak diam tapi sama-sama menyayangiku.

Saat itu aku meminta izin main disawah dengan teman-temanku mencari yuyu (kepiting sungai). Tapi eyang akung melarangku, dan aku pun menangis karna tak boleh pergi. Dengan inisiatif eyang mengajakku memanen pisang Ambon yang hampir masak di pekarangan rumah. aku pun terdiam dan melihat saja, dan tak lama eyang menyuruhku menarik beberapa lembar daun pisang yang sudah dipisahkan dari pohon pisang untuk dibawa dekat rumah lahan yang agak kosong. Aku tak tau apa yang eyang sedang rencanakan hanya menurut saja, tak lama eyang merangkai beberapa lembar daun pisang menjadi seperti atap, lalu diambilnya kayu panjang sekitar 1.5 meter ditanjapkan ke tanah, dibuatnya 4 sisi tegak dan dirangkainya diatas untuk menyambungkan nya lagi dengan bambu. saat sudah selesai, daun pisang yang sudah dirangkai ditaruhlah diatasnya. Aku terkejut ternyata eyang membuat rumah-rumahan yang meneduhkan, kemudian eyang putri membawakan klasa (Sejenis tembikar untuk alas) dan sepiring pisang goreng. Aku memeluk eyang akung dan berterima kasih. Kami pun makan bersama-sama dibawah rumah-rumahan daun pisang "umah Godong Pisang (Eyang Akung)"

Masa lalu yang menyenangkan juga ku rindukan, kini Aku hanya bisa melihat eyang akung karna tak lama dari kejadian itu eyang putri sakit dan meninggalkan kami semua. Tapi aku tetap menyayangi mereka.

"Jangan pernah menghapus memori yang pernah singgah dihidupmu, karena kamu pasti akan merindukannya" 🙂