Lelaki yang selalu aku cintai, apa kabar?

Sejak dulu hingga kini aku tak pernah menyesal untuk mencintaimu. Mencintaimu tak pernah mengenalkan kepadaku sebuah luka. Lelaki pertama yang mencintaiku dengan tulus dipenuhi kasih sayangnya yang tidak palsu.

Sosok yang kesederhanaannya terasa mewah kumiliki, kerap membisikkan candaan menggemaskan.

Mendekat, mendekap, dan membelai rambutku ketika aku menangis. Ayah, lihatlah putrimu yang dulu masih kecil saat terakhir kau lihat. Telah tumbuh dewasa. Belasan tahun sudah kenangan itu selalu berhasil membuatku merindukanmu. Aku tumbuh menjadi gadis kuat dan tegar.

Karena tumbuh dewasa tidak selalu menyenangkan, aku memilih untuk tetap menjadi putri kecilmu.

Advertisement

Mengingatmu, selalu berhasil membuatku ingin kembali menjadi anak kecil. Masih terekam jelas tegukan kopi di tiap pagi yang kau nikmati sebelum mengantarku ke sekolah. Kumis lucumu basah dan kotor ternoda ampas kopi. Buru-buru menenggak habis karena waktu sudah siang.

Ayah, ingatkah kau tentang petang yang selalu aku rindukan?

Kau mengejakan alif ba ta dan aku menirukannya. Atau ketika aku selalu membaca terjemahan ayat tiap selesai ayat yang kau tuntun untuk kubaca. Membuat lama waktu kita. Ibu cemburu dan menyuruhku agar membaca terjemahnya sendiri saja di lain waktu. Ahh, aku bahkan masih ingat hal itu terjadi karena juz ‘amma baru darimu.

Ayah, aku jatuh cinta.

Kehilangan sosok sepertimu membuatku rentan akan perhatian. Ayah, ada yang memberiku perhatian. Cemburukah kau mengetahui itu? Ayah, aku menjatuhkan pilihan. Setujukah kau dengan pilihanku? Akan kupastikan ia mengenalmu dengan baik. Karena sebelum bertemu dengannya, aku sudah lebih dulu jatuh cinta padamu, maka ia harus tahu siapa lelaki yang bertahta di hatiku sebelum dirinya. Jika nanti dia memintaku darimu melalui ibu, berikanlah sekeping kelapangan hatimu. Aku pun ingin sepertimu. Membangun mimpi bersama hingga ke surga.

Menyayangimu adalah hal kulakukan tanpa kau minta.

Cinta dan kehilangan adalah dua hal yang akan selalu berjodoh. Kehilanganmu seolah membawa bisikkan terakhir darimu, bahwa kembali pada Yang Mahaindah adalah hal yang terindah. Di sini aku mendoakan kebahagiaanmu bersama-Nya. Ayah, aku ingin menjadi salah satu bidadari di situ kelak untuk mendampingimu dan suamiku.

-Si Bungsu yang Tengah Jatuh Cinta-