Selamat malam, kenangan. Sekian lama tak datang, akhirnya kita saling meluang. Meluang untuk mengulang beberapa kejadian yang menyenangkan; kerinduan akan suatu peristiwa dahulu kala.

Kenangan, mungkin memang seharusnya kita saling melupa. Aku tidak tahu, setelah hari itu, ataukah kau masih tetap stagnan mengepoi timeline Twitter dan Instagramku. Tapi aku sudah tidak. Semenjak kita memutuskan untuk berpisah, sebisa mungkin aku menghindari segala hal tentangmu. Aku enggan melihatmu lagi. Sedikit celah percakapan dan pengertian atas keadaanmu, bisa-bisa menghancurkan move on-ku yang kurasa sudah sangat sempurna.

Kadang aku juga sempat terngiang tentang kita dahulu kala. Saat-saat seperti itu, aku hanya akan bersua pada Twitter dan mengadu beberapa sendu; tentang rindu yang haram dan tak boleh diteruskan.

Kita pernah mengalami masa-masa tersulit. The hardest part. Kadang aku berusaha mengawali tanpa menaruh curiga. Kutahu kita berdua sama-sama pernah merasakannya. Ingin bercakap, namun berusaha menahannya. Itu yang aku lakukan. Supaya tak ada sakit di antara masing-masing hati.

Kutahu kaupun turut melangkah maju. Perihal kecil yang kau lakukan kemarin, adalah awal yang sangat besar. Baiklah, mari saling melupa. Mari saling menghapus jejak dahulu kala. Aku sudah berjalan ke arah yang berbeda. Silakan. Mari menggenggam hati yang lain. Yang benar-benar benar.

Advertisement

Gadis dengan warna rambut yang baru.