Siang itu kala bertemu denganmu disuatu tempat untuk yang pertama dan mungkin untuk yang terakhir kalinya. Saat itu ntah sadar atau tidak kau memberikan senyum tulusmu itu padaku lalu dengan beraninya aku membalas tatapanmu siang itu lebih dari 30 detik kita bertatapan namun setelah itu kau memalingkan wajahmu seperti anak kecil tetapi dari samping tetap masih kulihat sudut bibir serta pipimu yang menaik ke atas masih ada garis senyuman disana dan saat itu juga kau membuatku tersenyum dengan sangat gembira.

Siang itu tidak berakhir begitu saja kau menyapaku tetapi dengan kesombonganku yakin bahwa orang yang sedang aku tunggu akan datang tidak lama lagi, orang yang pertama kali aku bertemu dengannya saat malam hari hingga membuatku mengabaikanmu dan tidak mengiyakan ajakanmu untuk berkenalan. Dan bodohnya dengan kelakuan yang seperti itu kini aku menyesal dan berharap sang waktu bisa dikembalikan tetapi aku sadar bahwa sang waktu tidak akan pernah kembali lagi ke masa yang sudah terlewati.

Kini saat siang sibodoh ini mencoba mencari-cari keberadaanmu dimanapun aku berada walau kecil harapan untuk bisa melihatmu ditempatku sekarang berada kala siang. Namun harapan masih tetap ada. Tapi saat itu untuk yang pertama kalinya aku menyukai siang yang biasa kubenci. Aku lebih menyukai malam karena penuh dengan bintang, karena malam tidak membuat mataku sakit saat melihat kearahnya, karena malam begitu damai tidak ramai dan tidak seberisik siang, karena malam waktuku melakukan hal yang membuatku tersenyum.

Tapi siang itu ada satu bintang yang datang menyapaku, siang itu aku merasakan indahnya kehidupan, siang itu membuatku tersenyum lebih tulus daripada malam hari. Siang itu di kota Medan bulan juni 2015.