Ketika perahu kecil yang telah lelah berlayar mengarungi pantai menemukan tambatannya
Ketika sang pemburu yang awas matanya telah bertemu dengan hewan buruannya
Ketika kaki yang lelah berjalan sampai pada tujuannya
Begitulah hati yang telah lama mencari akhirnya bersanding dengan sang pujaan

Hari-hari bersama sang kekasih memang begitu banyak menciptakan kenangan yang indah. Banyak tempat yang telah dikunjungi, banyak barang bersama yang dianggap sebagai pengikat janji selamanya, bahkan gambar-gambar yang tersimpan di galeri telepon pintar ini.

Sebelum tidur, ketika rindu ini memuncak setiap gambar-gambar indah bersama dirinya selalu menggelitik hati. Gambar yang tidak menunjukkan keindahan fisik ini, gambar yang diambil oleh tukang foto amatiran, bahkan hasil gambar yang tidak jelas apa yang tergambar pun pun benar-benar menambah cinta ini sehingga aku begitu menikmati mimpi malam bersama mu dan larut dengan pertemuan di alam mimpi bersama mu.

Ratusan bahkan ribuan gambar selalu ku abadikan bersama mu, ingin ku tunjukkan pada buah cinta kita nanti, begitu harapku. Di setiap gambar yang tercipta bersama dengan lewatnya hari-hari bersama mu itu memiliki kenangan dan cerita tersendiri yang tak akan pernah ku lupakan di setiap detiknya.

Aku terhanyut pada lautan cinta yang begitu dalam, membuat hati ini benar-benar sudah terbiasa bernafas dengan oksigen dari cinta itu. Bahkan ketika ku rasakan tulang belakang ini tak dapat berdiri lagi tanpa ditopang oleh pelukan hangat dan kecupan manis dari mu yang begitu membuai. Aku terbuai, aku terhanyut, aku hilang dan yang pasti aku jatuh cinta pada dirimu seorang.

Advertisement

Ketika aku begitu terbiasa dengan lautan cinta itu, tiba-tiba angin besar mempermainkan air laut tempat ku selalu bersama dengan mu, hingga memisahkan kita.

Aku hampir tak lagi dapat hidup, aku hampir tak lagi dapat bernafas, bahkan tubuh ini hampir tak lagi dapat bangkit untuk melanjutkan hidup ku sendiri. Aku mati suri oleh karena patah hati. Dimanakah kau yang dulu begitu hidup di jiwa ini? Dimanakah kau yang dulu memuja ku bagai dewi keindahan di hati mu? Dimakah kau yang dulu? …

Malam ini porsi rindu ku tak seperti biasanya. Dia memuncak begitu luar biasa. Rasanya ingin ku keluarkan seluruh isi jantung ku dan ku bebaskan paru-paru ku untuk bernafas sepuasnya, karena rindu ini benar-benar bagai duri dalam daging yang begitu menyiksa.

Ku pandangi setiap memori pada telepon pintar ku, ku buka galeri tempat aku menyimpan semua gambar-gambar nyata cinta kita, dulu. Aku mengurai setiap cerita yang tersirat, aku mengingat bahagia itu tapi aku merasa berada di lorong kegelapan yang sepi, tanpa kamu.

Kau memang tidak ada lagi disisiku, tapi cinta mu begitu nyata di setiap sel-sel pengingatku. Bagaimana kau tersenyum ketika menjemputku, genggaman tangan mu, kecupan hangatmu, pelukan hangatmu, aroma rambutmu ketika bermanja di bahu, kata-kata lembutmu ketika memberikan semangat dan setiap sajak yang kau berikan sebelum kita terlelap.

Semuanya begitu nyata. Setiap tetesan air mata ini menyiratkan ingatan yang tak pernah lekang bahkan oleh cinta yang lain. Semuanya ku ungkapkan di pusara mu, wahai kekasihku.

Saat ini, aku berusaha untuk berdiri di atas pecahan hati yang telah menjadi beling-beling halus, tak lagi dapat diperbaiki. Aku terus mencoba berdiri diatas kenangan-kenangan indah kita, mengingat setiap semangat yang pernah berikan. Aku mencoba menikmati kesunyian di hati tanpa cinta mu, aku mencoba menikmati kelelahan hati yang berjuang sendiri menghadapi hidup.

Tangan ini tak lagi dapat menikmati genggamanmu, tubuh ini tak lagi dapat menikmati pelukan mesra itu bahkan air mata ini ku biarkan jatuh begitu saja menunggu diseka oleh mu. Aku hanya hidup dari senyum indah di gambar mu. Hanya gambar itu yang tersisa bersama dengan kenangan tersirat itu. Kenangan itu akan menjadi bekal ku untuk menjalani hidupku selanjutnya. Selamat tinggal kasih…

Oh, berakhir sudah semua tinggal menjadi kenangan ku ingat salam yang kau berikan, selamat tinggal sayang (Chrisye, Selamat Tinggal Sayang)