"Tujuh Belas Agustus tahun Empat Lima, itulah hari kemerdekaan kita

Hari merdeka, nusa dan bangsa, hari lahirnya bangsa Indonesia…”

Lagu yang iramanya penuh dengan semangat yang kudengar dikala diriku masih kelas Satu SD itu masih saja terngiang di kepalaku. Rasanya baru kemarin, tapi nyatanya itu kejadian sekitar bua belas tahun yang lalu.

Teringat akan memori masa kecil yang satu ini, aku memutuskan untuk pergi ke kampung dimana aku sekolah SD dulu. “Mumpung di bulan Agustus,” pikirku.

Di tahun Indonesia merdeka yang ke 71 ini, nampaknya lebih ramai dari enam tahun yang lalu sebelum aku meniggalkan kampung ini. Gang-gang dan jalan-jalan ramai dihiasi apa saja dengan warna merah putih. Bendera dimana-mana, dan yang paling aku suka ketika berada di sini adalah menonton futsal waria yang ada di lapangan sebelah SD-ku dulu. “Kapan lagi bisa melihat makhluk dengan tepung di muka, goresan lipstik yang melewati batas bibirnya, daster putih ala kunti dan juga high hells yang panjangnya Sepuluh senti,” pikirku.

Advertisement

Aku juga teringat akan upacara kemerdekaan terakhirku semasa SMA. “Walau jam sepuluh belum dimulai, panas menyengat luar biasa, sebagai siswa yang menghargai jasa para pahlawan ya harus upacara selagi kita bisa,” itulah kalimat yang diucap oleh ketua kelasku untuk menyemangati anggota kelasnya.

Persembahan teater dijadikan pembukaan upacara kala itu. Teman-teman teater yang beradegan sebagai ibu-ibu berkebaya kuno turun ke lapangan sambil membawa dunak yang entah mereka dapat dari mana. Dunak itu barang kuno dan adanya di desa dan ada pada jaman dahulu, biasa disebut bakul. Ternyata adegannya lagi jual-beli sayur di pasar. Terus tiba-tiba ada suara tembakan yang ternyata para penjajah. Harusnya yang menjajah karena ceritanya pas mau merdeka kan orang Jepang, orang Jepang kan berkulit putih. Karena nggak ada stock yang putih, coklat pun jadi.

Back to the story, ibu-ibu langsung pada kabur sambil saling menabrakkan diri satu sama lain, sayur-sayuran pun jatuh berserakan. Peserta upacara banyak yang kepalanya melongok ke kiri dan ke kanan agar bisa menyaksikan dengan jelas. Para bapak pribumi menyerang tentara Jepang dengan peralatan seadanya, tentara mah enak tinggal nembak dan terjatuhlah korban. Alunan lagu yang tadinya ringtone “dor dor dor” sekarang berganti menjadi gesekan biola berkabung. Ada yang bacain puisi juga sambil dihayati. Sumpah keren banget. Aku agak deg-degan sih walau cuma nonton dan rasanya sedih emang. Kita mah enak udah ngerasain kemerdekaan tanpa harus berjuang.

Ketika para bapak yang menyerang tentara Jepang gagal, ibu-ibu pun memberanikan diri untuk menyerang. Ada satu ibu yang memimpin. Wanita itu memakai pistol laras panjang dan ibu-ibu yang lain, sekitar sembilan orang ada yang bawa golok, ada yang bawa bambu runcing. Ketika ada satu tentara yang terguling, ada tiga ibu-ibu yang ngeroyok sambil nusuk si tentara Jepang pakai bambu. Setelah tentara pada kalah, ada yang beradegan sebagai Bapak Ir. Soekarno untuk melakukan pengumuman proklamasi. Kemerdekaan yang dinanti pun datang. Semua peserta upacara kompak keplok-keplok sekaligus gembira walau merdeka sudah terjadi 70 tahun yang lalu. End.

Itu adalah cerita tahun lalu. Bagaimana dengan tahun sekarang? Sekarang ini aku sudah bukan anak SMA lagi, sudah nggak ada acara upacara bersama sebagai siswa sekolah lagi. Kangen? Tentu. Tapi tahun ini aku bisa menyaksikan karnaval di kampung ini. Ramai sekali. Tiga SD digabung menjadi satu, disusul tiga agensi barongan yang ikutan unjuk gigi lalu ditutup dengan barisan masyarakat. Selain ada lomba futsal waria, ada juga lomba lainnya yang keren. Ada goyang balon, makan kerupuk jumbo, gendong istri, tarik tambang dan lainnya.

Intinya, negara kita ini hasil perjuangan. Jadi, kita harus bangga dan tidak malu untuk merayakannya.