1. Tanggung jawab tak perlu lagi diajarkan buat kita yang jadi anak pertama

Obrolan saat makan di emperan jadi awal semua cerita-cerita dari kehidupan aku sama kamu. Kamu ternyata merupakan sosok anak pertama seperti halnya aku yang di punggungnya sudah disematkan sebuah tanggungjawab. Orang tua kita bahkan percaya kalau kita bisa mengurus adik-adik kita. Tidak mudah memang belajar sebuah tanggungjawab. Tapi sejauh ini aku dan kamu mampu memikulnya. Terbukti soal tanggung jawab pada pekerjaan pun selalu bisa kita pegang.

2. Leadership sudah jadi bagian dari kita yang punya adik banyak. Itu juga jadi menambah koleksi cerita buat kita dikala bersama.

Tidak sering memang kita punya waktu berdua untuk mengobrol. Tapi saat kesempatan itu ada obrolan kita tak pernah lepas dari keluarga. Apalagi saat bercerita tentang adik-adik. Kamu pun lantas bertanya "memang punya adik berapa?" Maka aku jawab sembari menyimbolkan dengan jari.

Seperti tidak percaya kamu menjawab "sama dong kayak aku". Dan aku pun sedikit terkejut dengan penuturan kamu. Tapi aku senang karena kita bisa saling sharing tentang para adik yang melihat kita sebagai panutan. Kita bahkan kerap kali jadi sosok yang selalu nampak kuat sekalipun lelah bekerja.

Advertisement

3. Kemandirian jadi kelebihan kita. Apalagi kita juga terlahir dari keluarga sederhana yang tentunya punya sejuta perjalanan hidup

Hubungan kita memang belum lama, baru beberapa bulan saja sejak kamu masuk di kantor yang sama denganku. Namun, dalam hal intensitas pertemuan, kita bertemu enam hari dalam seminggu, yang mana hanya ada satu hari saja untuk kita bisa menghabiskan waktu berdua lebih lama.

Dan saat itu tanpa ragu-ragu kamu menceritakan sebagian kisah hidup mu yang penuh dengan kisah menarik serta banyak perjuangan. Terungkaplah fakta kalau kita berdua sempat memimpikan bekerja sembari kuliah meski itu tidak terlaksana. Kini, fokus bekerja jadi prioritas utama kita berdua.

4. Menulis jadi andalan kekuatan kita untuk menggapai mimpi. Selain kesukaan kita terhadap nulis, ini juga alasan utama kita bertemu

Malam itu, aku baru benar-benar tau apa impian dan arah hidup kamu ke depan. Aku kira kamu hanya orang yang tidak suka menghabiskan waktu delapan jam bekerja dikantor hingga memutuskan untuk terjun dalam bidang ini. Tapi, ternyata menulis sudah setengah dalam hidup kamu. Masih sangat jelas ucapan kamu “kalau enggak jadi pengajar, ya aku jadi penulis,”.

Saat ini, kita sama-sama sedang belajar menulis agar tulisan kita bisa lebih baik lagi. Ucapan kamu juga membuat aku yakin kalau di masa depan kita bisa jadi partner menulis yang kompak. Karena sama seperti kamu, menulis jadi satu-satunya hal yang bisa aku banggakan. Dan entah mengapa ada keinginan untuk menulis sebuah kisah dalam bentuk buku bersama kamu yang nantinya bisa menginspirasi banyak orang.

5. Kehidupan kadang kali menghilangkan semangat seseorang untuk terus berjalan dan berusaha. Tapi, misi hidup kita untuk membahagiakan keluarga terlalu besar untuk dikalahkan dengan keadaan

Sebagai tulang punggung keluarga, aku sama kamu pasti setuju untuk mengeluarkan keringat lebih banyak. Bukan tanpa alasan segurat senyum tulus dari orang yang sama-sama kita sayangi mampu menjadi amunisi buat kita terus berjalan sampai saat ini. Bahkan, uang yang didapat dari hasil kerja sebulan tidak pernah lepas dari biaya sekolah adik-adik. Meski begitu kita paham kerja ini bentuk dari ibadah dan hanya sehat yang tetap kita butuhkan.

6. Kita memang punya rasa empati yang tinggi, tapi sadar juga kan kalau kita tidak peduli dengan diri sendiri terutama tentang perasaan

Entah sejak kapan hati ini mulai tertarik sama kamu. Kamu memang sahabat sekaligus teman kerja yang baik hati dan ramah. Mengetahui lebih banyak tentang kamu semakin membuat aku semakin masuk ke dalam hati kamu dan ingin terus bersama.

Banyak kesamaan di antara kita yang tanpa sadar membuat aku berharap kamu adalah belahan jiwa di masa depan nanti. Kamu bahkan sudah jadi bagian doa dari setiap sujudku. Dulu aku sempat tidak mempercayai perasaanku ini, aku tidak yakin apakah kita memiliki perasaan yang sama.

Tapi waktu yang akhirnya menyakinkan aku kalau kamu layak aku perjuangkan. Sementara, entah kamu tahu atau pura-pura tidak ingin tahu. Kamu memilih bersikap dingin sekalipun aku sudah mencoba memberi sinyalnya. Aku pun sadar alasannya, untuk kamu perasaan suka itu bukanlah prioritas karena tanggung jawab itu masih banyak.

7. Kita sangat keras kepala. Kamu pura-pura mengabaikan aku, tapi aku akan terus meperrjuangkan hati kamu. Karena seperti halnya filosofi sang pendaki aku ingin mendaki sampai ke puncak bersama kamu bukan hanya menunggumu dipuncak.

Ini yang terakhir kamu harus tahu, tidak ada alasan khusus aku menyukai kamu. Secara harfiah inilah rasa sayang yang munculnya tidak bisa diprediksi. Kamu yang begitu sederhana akan membuat aku merasa spesial jika kamu bisa memilih aku sebagai teman berjuang kamu, partner hidup kamu dan sahabat kamu sampai akhir hayat.

Aku mohon jangan pernah ragu untuk berjuang bersama-sama. Dari pada kita berjuang sendiri, rasanya berjuang berdua akan lebih indah karena akan banyak yang bisa kita lakukan berdua dengan kesamaan kita ini.