Tinggal di Ibukota akan membuatmu berfikir dua kali untuk menggunakan transportasi yang rempong, semacam angkot atau kopaja. Itulah kenapa banyak di kalangan warga ibukota tidak jarang menggunakan transportasi yang menurut mereka simple, cepat dan efesian.

Bukan bermaksud menggurui, di sini saya hanya ingin nge-share soal pengalaman saya naik angkot T15A jurusan Cipayung. Awalnya sih deg-degan, ya maklum di TV kita banyak banget denger kejahatan di atas angkot mulai dari pencopetan, pemerkosaan, pembunuhan dan lainnya, ya wajar aja saya agak parno sedikit.

Dari naik angkot ini, saya belajar artinya TOLERANSI.

Walaupun nggak ada tuh tulisan disable seat atau petunjuk lainnya yang mengindikasi prioritas penumpang. Di angkot, masing-masing penumpang saling paham siapa yang harus didahulukan dan siapa yang tidak. Persoalan sempit-sempitan, itu bagaikan bumbu dalam masakan. Kalau nggak sempit-sempitan nggak asik.

Di saat sempit-sempitan itulah, pembicaraan tentang apapun itu mulai mengalir. Satu orang akan mulai menginisiasi memulainya pembicaraan hingga pada akhirnya semua orang yang di atas angkot itu memiliki peran masing-masing. Andaikan suasana angkot seperti ini semua, mungkin bisa saja para pemangku kebijakan di Senen mau naik angkot dan saling tanya jawab sebelum pergi kerja. Asik, kan?

Advertisement

Di angkot, saya juga belajar yang namanya SATU RASA.

Pernah suatu kali, angkot yang saya tumpangi diserempet oleh angkot jurusan lain. Kemudian, supir angkot yang nyerempet itu keluar dan marah-marah ke sopir angkot saya. Dari dipukul, diludahi dan dipukul lagi. Anehnya, supir angkot saya malah minta maaf, padahal umurnya udah tua (sekitar 54 tahun) sedangkan yang mukulin umurnya mungkin 30 tahun. Kita semua pada panik di dalam angkot, ada yang nyumpahin, ada yang puk-puk in si bapak supir ada yang diam seribu bahasa dan ekpresi lainnya. Di saat itu saya percaya bahwa kita semua berada di pihak si bapak. Dan saya juga percaya bahwa semua orang yang ada di angkot pasti mengucap "yang sabar ya pak". Yah, satu rasa.

Mengenal kehidupan kita, bisa jadi mengenal kehidupan secara keseluruhan. Cobalah naik angkot, nikmati waktu yang berlalu, hanyutlah dengan cerita yang ditawarkan. Banyak kisah yang akan kamu temui, jika kamu lihat dari sudut yang tidak biasa.