Sabtu siang yang cukup panas, mata hari tampak dengan gagah berani menuju puncak, tinggal seperempat lagi menuju jam 12. Aku berdiri di pintu balkon atas dengan senyum kelegaan setelah berhasil menyikat habis dan menjemur paksa semua cucianku selama seminggu.

Aku tias, anak ke 3 dari lima bersaudara, aku terlahir dengan warna kulit yang gelap, sebenarnya, kalau melihat silsilah, tidak ada yang aneh dengan kulitku yang gelap, toh ayah cukup untuk menjadi alasan kenapa itu terjadi, mungkin gen ayah yang hitam manis berkolaborasi dengan ibu yang putih dan berwajah cantik, hingga menghasilkan produk seperti aku. Waiiit…. Benar juga, aku tidak sejelek yang mungkin kamu bayangkan, aku cukup manis di lingkunganku. Aku yakin itu, tubuhku yang tinggi dan tidak terlalu kurus serta wajahku yang tirus dan dagu yang runcing. Bukti keberadaan gen ibu dalam diriku. Kulitku yang gelap dan mataku yang tajam pula bukti keberadaan gen ayah, lumayan bukan? Cukup membuat abang-abang tetangga melirikku waktu SMA, ‘Hitam manis’ kata mereka. Pasti kalian sekarang bertanya, anehnya dimana?.

Well, anehnya aku menjadi satu-satunya anak ibu dan ayah yang hitam, dari abang pertama sampai adik yang ke lima, mereka memiliki kulit kuning langsat seperti ibu. Ini yang menyebabkan adakalanya aku merasa sedang memerankan kisah bebek buruk rupa bersama empat saudaraku yang lain. Hmm… Cukup tentang keluargaku.

Selanjutnya, setelah SMA aku kuliah di sebuah Universitas Islam di ibu kota provinsi, yang membuatku harus meninggalkan kampung halaman dan kos dikota. Di sini pula aku bertemu dengan makhluk Tuhan yang namanya Nisa, dia adalah teman pertamaku saat dikampus dan hingga sekarang pula nisa adalah teman yang paling dekat denganku, ini adalah tahun kedua kebersamaan kami.

***

Advertisement

Ketemuan? Tak ku sangka virus kencan buta yang tiba-tiba merebak dari dunia maya kedunia nyata menggerogoti Nisa, siapa sangka, sosok yang kelihatan anti pria itu juga terperengkap dalam perkenalan dunia maya. Nando namanya, sudah tiga bulanan ini dia aktif ngobrol dengan nisa melalui facebook.

“ Ayolah Ti, orangnya ganteng kok. Kan lumayan jadi teman”

Dda poin menarik diajakan Nisa yang membuatku berulang kali memikirkan itu, ‘GANTENG’. Ya, seberapa ganteng ya, sampai-sampai nisa begitu semangat, “katanya dia juga berteman sama kamu di facebook, ‘Nando satria’” aku ingat, secepat kilat ku buka laptop, tak lupa ku coonect kan modemku, dengan segera aku in, Search Nanda Satria,

Jreng…jreng…jreng….. Ini dia. Ganteng juga, fotonya juga keren-keren, anak ekonomi tingkat akhir, dua tahun diatas ku berarti.

“Mau gak Ti?", tiba-tiba Nisa muncul dilayar laptopku

“Boleh Nis, besok jam berapa? Dimana?"

“Besok pokoknya kita ketemu dulu, aku jemput jam 4 oke” receive

“oke”

***

Tepat jam empat aku dijemput Nisa, pastinya setelah mendi dan bersiap seperti biasa.

“Nis?, kamu yakin?” tanyaku membuka pembicaraan diperjalanan, “ yakin Ti, biasa aja kali, teman pun” jawaban nisa cukup menyiratkan ajakan santai untukku.

“ Nis, kalau jelek? Terus tua? Atau lebih parah perampok?” tanyaku lagi, mengungkapkan satu persatu yang ada dipikiranku saat ini

“Nggak akan Ti, pokoknya kita ketemu dulu. Nanti kita pikir nanti” jawab nisa lagi dengan santai, hingga aku mulai merasa aneh, apa cuma aku yang parnoan.

“ Janji dimana nis? “

“ dicafe Indah” jawab nisa singkat seolah menyiratkan perintah jangan banyak tanya kepadaku. Selanjutnya kami hanya terdiam seolah sibuk dengan pikiran sendiri.

Lima belas menit berlalu, sampai juga kami dikafe indah. “ yang mana dia nis?” Tanya ku kepada indah sambil terus mendaratkan pandanganku kesegala penjuru pria di kafe itu.

“Mana tau Ti? Aku SMS dulu lah”, dengan pasti nisa memencet tombol-tombol di hp nya,

“Ti, katanya dia baju kemeja biru di kursi paling depan”

“Jadi Nis, kita masuk ni?” Tanya ku penuh keraguan,

“Ti dia tanya kita baju apa!” ujar nisa, melompat-lompat kecil bak cacing kepanasan

“Coklat nis” jawabku singkat,

“Lah Ti, kamu hitam, aku biru, coklatnya mana?”

“Baju dalem ku, udah ah, bohong dulu” jawab ku geram, ada sedikit penyesalan dalam diriku, andai aku tidak ikut kegiatan gila nisa.

"Kemeja biru kan nis, arah jam 12 aku, lihat pelan, jangan sampe keliatan” aku memberikan aba-aba kepada nisa agar kami keliatan sesantai mungkin.

“Ganteng ti”, kata nisa dengan senyum sumringah

“Tapi mukanya ga kaya difoto nis” aku kembali melihat sekeliling “stop nis, jangan seneng dulu, tu ada lagi yang kemeja biru, di kanan aku”

“MasyaAllah Ti, ”, nisa tampak kaget dengan apa yang dia lihat.

Ya, sosok itu yang aku yakin adalah Nando Satria-nya Nisa, hanya saja sepertinya banyak aplikasi edit mengedit paling TOP di HP nya, sehingga mukanya bisa berubah bak artis papan atas. Kudapati muka Nisa berubah 199,9 derajat, Nisa yang berharap bertemu pangeran tampan hari ini melangkah pelan keluar café.

“Kapok?” tanyaku singkat

Nisa hanya mengangguk pasti dan berjalan cepat menuju arah parkir

Aku hanya tertawa geli mengingat hari itu.