Hai,

Tahun baru berganti. Banyak hal yang sudah kita lalui. Bagaimana perasaanmu? Aku, baik-baik saja. Kurasa, kau juga tahu apa makna di balik jawabanku barusan. Ah, tidak. Aku tak akan mengeluh kali ini. Terlalu banyak hal yang ingin ku sampaikan padamu.

Aku berterimakasih padamu atas banyak hal yang sudah kau lakukan kepadaku.

Ah, bukan. Bukan di bagian kau mendorongku untuk menyudahi apa yang belum benar-benar berakhir, kok.

Aku berterimakasih karena kau sudah berusaha keras meneguhkan langkah kedua kaki ini setiap kali ku rasa tak lagi punya tujuan, untuk pulang atau untuk pergi, dan kau selalu meyakiniku dengan:

“Tak apa-apa, mengembara membuatmu lebih bijak.”

Aku berterimakasih karena kau sudah bersusah payah menguatkan pikiranku setiap kali aku merasa terlalu lelah untuk membuat keputusan. Kau selalu berpesan, “Tidak apa-apa, kau punya waktu untuk memikirkannya baik-baik.”

Aku berterimakasih karena kau sudah membiarkan air keluar dari pelupuk mata dan sesekali membiarkanku merasa tak sanggup lagi. Ya, walau akhirnya kau gumamkan, “Tidak apa-apa, kau pasti bisa.”

Advertisement

Aku berterimakasih karena kau sudah tetap bertahan meski ku sakiti berulang kali dengan pikiran-pikiran negatifku. Namun, lagi-lagi kau berujar padaku, “Tidak apa-apa, semua itu tak 'kan terjadi.”

Aku berterimakasih untuk upaya besarmu melengkungkan senyuman di wajah ini setiap kali kurasa hidupku tak lagi ada bagian yang patut disyukuri. Kau selalu berbisik, “Tidak seburuk itu, kok.”

Aku berterimakasih karena lagi-lagi kaulah yang mendorongku untuk bertahan meski ujung-ujungnya aku menyerah juga. Lalu kau bisikkan, “Tidak apa-apa, ada banyak pintu terbuka lebar di depan sana.”

Aku berterimakasih karena di saat aku merasa tak yakin dengan diri ini, kaulah yang mendorongku dengan lembut dan berkata, “Tidak apa-apa, cobalah dan jika kau gagal, bukankah kau sudah mencoba?”

Aku berterimakasih untuk caramu meyakinkanku setiap kali aku merasa terasing, sendiri, dan terpuruk. Kau selalu memberiku solusi, “Tidak apa-apa, sekarang bersiaplah. Temui teman-temanmu dan obati dirimu lewat mereka.”

Aku berterimakasih karena ketika aku menghancurkan diriku sendiri, dengan sabarnya kau yang memunguti puing-puing kehancuranku sambil berujar, “Tidak apa-apa, pecahan kaca saja masih bisa dijual. Kehancuran ini pasti memberi pelajaran banyak.”

Aku berterimakasih untuk upayamu meneguhkan lagi layar kapalku yang mulai terombang-ambing oleh badai dan ombak. Kau serukan, “Tidak apa-apa, setelah ini matahari akan muncul.”

Aku berterimakasih karena lagi-lagi, di saat aku mulai tak tahu mana yang benar mana yang salah, kau mengatakan dengan tenang, “Tidak apa-apa, cukup baca petunjuk-Nya dan dengarkan firman-Nya.”

Aku berterimakasih untuk upayamu menunjukkan secercah cahaya setiap kali kurasa tak bisa melihat setitik pun terang di ujung sana. Terngiang ujaranmu, “Tidak apa-apa, coba tunggu sejenak. Cahaya itu akan muncul sebentar lagi.”

Aku juga berterimakasih karena kau sudah mengembalikan keyakinanku ketika aku mulai merasa berada bermil-mil jauhnya tertinggal dari orang lain. Dengan bijaknya—atau sok bijak?—kau bergumam padaku, “Tidak apa-apa, setiap orang punya pola hidup yang berbeda.”

Dan hal yang paling utama adalah setiap kali aku merasa tak ingin lagi membuka mata, lebih baik tidur dan bermimpi terus, kau selalu meneriakkan di telingaku dengan penuh keyakinan:

“TIDAK BOLEH BEGITU! SEMUA BAIK-BAIK SAJA TAPI TAK BERARTI KAU BOLEH MENYERAH SEPERTI ITU!”

Dan lucunya, meski ku tahu diri ini lebih buruk dari roller coaster, naik-turun, jungkir-balik, aku masih saja mengikuti perintahmu itu. Meski dengan perasaan berkecamuk, aku tetap membuka mata, bangkit, dan melakukan semuanya seolah aku benar-benar percaya padamu.

Tapi, ya harus ku akui. Hingga aku masih bisa meyakini diri ini sendiri, ku pikir kau telah berperan banyak. Kau yang menyemangatiku, kau yang mengembalikan mood-ku, kau yang mendorongku, kau yang membantuku memutuskan—walau kadang keputusannya agak gila.

Kau yang selalu bisa membuatku merasa lebih baik. Terimakasih. Dan maaf. Bukankah aku sudah terlalu banyak membebanimu? Sepertinya jika ku tuliskan seluruh rasa terima kasihku, tebal tulisanku bisa melebihi lembar laporan sidang Jessica. Lucu? Ah, tidak perlu tertawa terpaksa begitu!

***

Ku tuliskan sedikit di sini karena kadang ku tak tahu harus menghubungimu ke mana. Semoga kau membacanya, ya!

Untuk mengakhiri pesan ini, ada satu hal yang ingin ku sampaikan lagi. Satu yang mungkin selama ini terlalu gengsi untuk ku katakan saat sedang bicara denganmu.

“Terimakasih sudah menjadi diri yang istimewa. Bagaimanapun, aku menyayangimu tetaplah ada untuk aku.”

Penuh cinta dan kasih sayang, dari aku yang selalu membutuhkanmu.

Salam hangat,

Aku.