Eh, maaf. Aku selalu lupa untuk lebih dulu berbasa-basi. Ah, tapi tidak penting juga. Buat apa? Kita tidak perlu saling tahu kabar masing-masing. Kita tidak pernah bertukar kabar masing-masing. Kita hanya saling tahu, kita sedang menghadapi sesuatu yang begitu besar dan memberatkan hati. Dari mana kita tahu? Kamu percaya intuisi. Aku percaya firasat. Kalau mau bahasa lebih populer dari penulis yang kita sama-sama suka, kita punya “Radar Neptunus” persis Kugy dan Keenan.

Aku rindu sekali membaca buku-buku yang ringan, tapi mendalam. Tidak seperti surat-suratku padamu yang tampak dalam, tapi sebenarnya ringan. Sejauh ini, aku masih berkutat pada memfiksikan kenyataan. Membahasakan perasaan-perasaan yang tidak dapat dijabarkan sendiri oleh yang sedang merasakan. Belum bisa sampai pada taraf menjadikan cerita fiksi seolah-olah kehidupan nyata dan benar-benar ada, bukan hanya di kepala kita.

Kamu belum bosan menerima surat-suratku, kan?

Maaf, ya, aku tidak lagi bisa menulis banyak hal untukmu, sesering dulu. Aku sedang kelelahan dengan banyak pikiran yang berkelindan di kepala. Persis sepertimu, kan? Hanya saja, bedanya, kamu terus menghadapi semua hal dengan berani. Berbeda sekali denganku yang terus melarikan diri.

Aku mulai takut sekali mengumbar kata-kata. Segalanya selalu dikembalikan padaku. Seakan aku tidak boleh salah. Seakan aku harus terus sesempurna kata-kata yang kutuliskan. Padahal, bagaimana mungkin ada dunia ideal? Segala drama itu adalah jubah kebesaran. Aku hanya mencoba menerjemahkan. Itu bukan aku. Itu hanya dunia yang ada di awang-awang. Bagaimana bisa mereka begitu buta sehingga kesulitan untuk membedakan?

Advertisement

Berbalik atau tidak, perasaan mempunyai satu keharusan untuk diungkapkan, memang siapa yang mau menebak-nebak—membiarkan dirinya tersesat dalam enigma—tentang apa yang akan didapatkannya. Kupikir tidak ada orang yang ingin melakukannya. Dan jika ada, maka sepertinya polos adalah kata yang tepat untuknya.

Berlarut-larut dalam teka-teki merupakan kebiasaan manusia yang mengharap lebih sering adalah balas atas apa yang telah diberikannya. Tetapi benar apa aku untuk menganggapnya salah, itu adalah hal wajar yang selalu dilakukan manusia. Jadi, tak apa melakukannya karena aku juga melakukannya.

Sebagai manusia, mengharap itu perlu. Sebagai manusia, aku juga mengharap. Tidak jarang juga aku adalah seseorang yang mengharap tanpa tahu pasti atau tidaknya yang diharapkan, benar-benar misteri. Begitu menyedihkan memang untuk melakukannya.

Kamu, adalah enigma nyata dengan banyak jawaban untukku yang tertumpuk di otakmu.

Selalu menjadi enigma adalah sebuah kegemaran untukmu? Semacam hobi? Keterlaluan memang apa yang kamu lakukan, membuat pertanyaan menumpuk banyak hanya dalam waktu sepersekian detik tiap kali mata-mata kita bersapa. Yang lebih mengerikan: pertanyaan-pertanyaan itu dibiarkan membusuk begitu saja tanpa tersapu jawaban pasti.

Uh, kan, kata-kataku menjadi begini kejam. Lagi-lagi, aku berusaha menghindar dari segala lemah gemulai kebenaran. Ini sungguh tidak benar. Sungguh tidak baik. Tidak selayaknya aku tidak berani menghadapi.

Hanya saja… kamu tahu bahwa hanya denganmu aku bisa menjadi aku, kan?

Sekali lagi saja. Kali ini saja. Anggap saja ini pertanyaan terakhirku untukmu. Terserah padamu kamu akan memberi jawaban atau tidak—membiarkannya menjadi enigma saja atau mengakhirinya. Untuk kesekiankalinya, ini pertanyaanku: apakah kamu mencintaiku?