Hei, beranda kamar masih dingin seperti kemarin. Hanya asap dari secangkir coklat panas di sudut kamar yang sedikit menghangatkanku. Aku ingin sekali memeluk hujan kali ini, di awal bulan Juni. Jarum jam menunjukkan angka 10, tak ada alasan yang membenarkanku untuk terbuai dalam mimpi segera.

Hujan menyediakan waktu untuk kita bergumam satu sama lainnya. Sebatas yang kita mampu, dan lagi-lagi mengetuk pintu-pintu hati. Pertanyaan yang berantakan membuatku tak mampu melontarkannya satu demi satu. Jika kau bertanya padaku tentang cinta yang ada di hati, tak ada jawaban yang pasti. Abu-abu, absurd dan mengabur.

Sebelum malam benar-benar mengambil waktu kita, dan sebelum hujan mengaburkan beranda kamar. Tercetus sebuah tanya tentang rasa. Apakah malam yang kuhabiskan untuk mendoakanmu akan tergantikan dengan sebuah harapan. Disela-sela hari untuk menuliskan segelintir kisah.

Sebab,

”Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” – Pramoedya Ananta Toer.

Advertisement

Dan, dengan menulis aku belajar untuk mengabadikan kisah. Belajar untuk memeluk kisah dalam keabadian. Aku belajar mencintai tulisan, kemudian berharap kau pun mencintai apa yang telah aku kisahkan. Setidaknya di suatu titik, entah itu kapan kau dan aku sama-sama bertemu untuk saling mencintai. Karena kisah, dan karena kita.

Sejujurnya aku begitu menyukai beranda kamar yang basah meski kacanya mengabur. Namun, di waktu-waktu yang manis ketika aku mendapatimu membaca sedikit kisah tentang kita. Waktu menjadikan segalanya terasa bermakna. Hujan mempertegas hati, tak ada alasan lain untuk menulis. Sesederhana cinta yang tumbuh begitu saja, aku hanya tak ingin dilupakan.

Olehmu, dan oleh semua manusia.