Kenangan tempatnya memang hanya di ingatan. Namun sesekali rasanya ia begitu nyata menjelma menjadi bayang-bayang. Bahkan menutupi langkahku untuk pergi. Untuk mencari hati yang lain.

Empat tahun lebih aku mengijinkanmu menulis kenangan bersamaku. Setiap detik namamu terukir semakin dalam sebagai tokoh utama. Alasan utama senyum itu tersimpul setiap harinya. Tiga tahun di dalamnya, aku mengagumimu sebagai seorang pembela. Di mataku kau bahkan lebih berjasa daripada pahlawan. Masa SMA menjadi begitu berharga, begitu berwarna hanya karena ada kamu di dalamnya. Kau adalah satu-satunya insan yang membuatku enggan mengakhiri hari. Kau orang pertama yang menciptakan debar tak karuan ketika mata kita bertemu. Kau cinta pertamaku.

Aku tau saat itu cinta ini tak seharusnya ada. Tak seharusnya perasaan ini ditujukan kepadamu. Kepada kau yang telah berdua. Banyak hal terjadi yang akhirnya membuatku memutuskan untuk pergi. Membiarkanmu bahagia.

Setahun berlalu tanpa ada sapa, tanpa ada kata. Kita menjalani hidup kita sendiri. Ku dengar, kekasihmu telah berbeda, bukan lagi ketika kita SMA. Aku tak peduli. Bagiku perasaan itu sudah mati. Sudah ku kubur dalam dalam. Aku bahkan telah lupa pada setiap senyummu, setiap debar itu, setiap janjimu. Segala hal tentangmu, aku lupa.

Tapi entah bagaimana Tuhan menghadirkan kau lagi. Tuhan mendekatkan kita lagi. Tidak, kau yang mendekatiku lagi. Kau bilang kau menyesal. Katamu kau minta kesempatan. Untuk memperjuangkanku lagi. Untuk menunggu pintu hatiku terbuka lagi.

Advertisement

Kau pikir seperti apa rasanya? Kau membuka lagi luka yang bahkan belum hilang bekasnya. Kau memintaku menggali lagi rasa yang bahkan telah lupa ku taruh di mana. Setelah sekian lama usahaku melupakanmu, kau semudah itu datang . Memintaku untuk terjatuh lagi.

Baiklah, aku menunggumu di persimpangan. Di tempat di mana kau bilang kau akan menjemputku, untuk kau ajak berjalan bersama. Tapi kenapa aku harus menunggu lagi?

Seseorang yang berkata ia menunggu di depan pintu hatiku. Menungguku membukanya. Kini setelah ku buka, ia berkata bahwa ia belum siap. Permainan apa lagi?

Kamu yang hingga kini masih tak memberiku kepastian, sungguh, aku merasa dibohongi. Kau bilang kau sayang, kau bilang kau ingin berjuang, tapi kau bahkan tak pernah bertanya apa hatiku baik-baik saja. Aku merasa dipermainkan, bukan aku yang memintamu datang. Kau sendiri yang mengejarku ketika aku sudah tak lagi mengikutimu. Dan kini, kau bilang kau belum siap?

Baiklah, aku harus mengatakan ini.

Aku hanya meminta kepastian. Apa kita punya masa depan? Apakah jika aku menunggu, semuanya tak kan sia-sia seperti dulu? Apakah kau memang mau berjuang demi kita? Apakah kau memang mau tinggal di hati ini dan tidak hanya ingin main-main?

Tolong jawab aku! Aku tidak memintamu menyatakan cinta. Aku tidak memintamu memberi status pada hubungan kita. Meski aku ingin, aku tak berharap semua hal kekanakan itu. Aku hanya ingin kau menjawab keraguan yang setiap harinya semakin menyeruak. Membuatku muak. Aku hanya ingin kau menenangkanku.

Setidaknya katakan bahwa kau tak akan pergi. Bahwa semua ketakutanku tak akan terjadi. Bahwa aku harus yakin padamu. Sering aku hendak mengakhiri setiap hal yang terjadi di antara kita. Tapi selalu, kau datang dan pergi seperti angin lalu.

Dan dengan bodohnya, aku selalu memaafkanmu.

Maaf, aku hanya ingin serius. Aku tidak punya waktu untuk perasaan yang kau tarik ulur. Dan jika kau memang hanya ingin menguji perasaanku, mungkin kamu salah orang. Pergi saja, mungkin kita memang tidak sejalan. Kepergianmu sudah seperti hal yang biasa.