Setelah kejadian patah hati terhebatku itu berlalu, aku menganggap semua laki-laki di dunia ini sama saja, semua menjijikkan.

Berulang kali teman-temanku mencoba untuk membuatku 'move on' dengan mengenalkan beberapa laki-laki. Sumpah demi apapun, tidak ada satupun dari mereka yang bisa membuat hatiku bergetar seperti dulu.

Sampai aku bertanya pada diriku, apakah hati ini sudah tidak berfungsi untuk merasakannya kembali? Atau jangan-jangan sudah mati rasa?

Entahlah.. Aku pun tidak tahu.

***

Sebetulnya tiap hari aku memohon pada Tuhan agar aku dipertemukan dengan seseorang yang akan menemaniku di masa depan kelak. Iya. Aku sudah tak mau lagi membuang waktuku untuk berlama-lama pacaran.

Sampai akhirnya di waktu yang hampir 2 tahun berlalu ini, aku mengenalmu. Ada sesuatu yang tidak bisa aku ungkapkan padamu kenapa detak jantungku mendadak kencang ketika pertama kali melihatmu. Sejujurnya aku sendiri pun terkejut. Beberapa pertanyaan muncul seperti: Kamu ini siapa? Kenapa kamu bisa membuatku seperti ini? Kamu kah orangnya?

Kamu masuk di saat yang tepat, dan aku pun menghendakinya. Kamu tahu tidak kalau ini membuat orang-orang di sekitarku turut senang, karena akhirnya aku masih bisa menyukai laki-laki.

Ada yang harus kamu tahu. Bahwa aku tidak pernah melihat seseorang dari seberapa hebat dia dalam pekerjaannya, seberapa tampan dia, seberapa terkenal dia dilingkungannya, seberapa banyak uang yang dia miliki.

Yang aku tahu kamu orang baik. Itu saja. Bukan mulutku yang mengatakan, tapi hatiku. Terlepas kamu bilang bahwa kamu tidak sebagus yang aku pikirkan. Memangnya di dunia ini ada yang sempurna?

Kalau aku mau, aku tidak akan pernah melihatmu sedikitpun karena pekerjaan sepertimu itu dulu pernah membuatku dicampakkan.

Padahal aku tahu, bahwa aku bukan satu-satunya yang kamu buat seperti ini. Banyak perempuan yang juga terkesan dengan sikapmu. Dan aku pun tahu diri, aku ini berbeda dengan perempuan-perempuan lain. Iya kan? Hehe..

***

Aku hanya ingin bilang, terima kasih sejauh ini sudah meluangkan waktumu untuk mendengarkan semua ceritaku. Aku tidak bisa berharap banyak, karena dulu aku sudah pernah berharap pada manusia dan itu menyakitkan.

Aku tidak meminta apapun. Yang penting kamu sudah tahu perasaanku. Sekarang lakukan saja apa yang kamu mau, tidak usah pikirkan aku. Aku cukup melihatmu dari kejauhan, dan mendoakanmu disetiap sujudku.

Seperti yang kamu bilang  " Tenang ya, kalau jodoh nggak akan kemana.."

***

Oh ya, maaf aku tidak bilang akan menulis ini. Ini spontanitas, aku sedang tidak bisa tidur, dan kamu tahu sendiri aku adalah orang yang tidak tahan untuk tidak menumpahkan apa yang sedang dirasakan. Kamu tidak perlu merasa tidak enak. Anggap saja ini hadiah dari perkenalan kita, ya.

Bandung, 23 Desember 2016

Aku yang mendoakanmu.