Percaya ini sempat tertuju padamu, sosok gagah yang sempat menjadi tumpuan hatiku. Aku terlalu bahagia hingga kelupaan bahwa sebenarnya aku sedang terluka. Bahwa ini hanya fatamorgana. Dan kini mesti ku nikmati berjuang sendiri, kadang aku menyesalinya. Kenapa rasa terlanjur tercipta pada keadaan yang salah. Kenapa rasa ini terlanjur tercipta, salahku menjerat habis-habis.

Kita berdua pernah sekeras ini berjuang, bersama. Hampir sempurna bagai seteguhnya niat pendampingan. Sampai masanya, kamu berbalik arah dan menyalahkanku tanpa jeda. Aku bukan lagi sosok perempuan anggun yang dulu kau puja. Di matamu aku justru berubah menjadi banyak cela. Sampai tiba-tiba kau memutuskan niatan tanpa kata. Mudahnya kau memilih pilihan untuk alpa. Sebagai seorang semacam tercampakan, aku tak punya kuasa pembelaan apapun. Bagaimanapun kamu dan aku tak ada ikatan kuat sedikitpun. Rasanya memang tak pantas mau menangisi kepergianmu seperti apapun. Karena hubungan kita memang tak ada validasi apapun.

Ini sebuah tamparan mengena sepanjang hidup. Bagaimana mungkin, kemarin, aku terlalu berharap pada makhluk. Harusnya kuserahkan semua urusan murni pada Dia Yang Esa. Tanpa aku boleh banyak bertingkah, harapan melampaui batas.

Perpisahan memang terdengar begitu memilu, tapi bersama keyakinan perihal tulang rusuk perlahan tak sebegitu sendu. Bukankah kuasa tentang apapun mutlak ada padaNya? Makanya aku mundur, tak akan gegabah. Baiklah jika memang meraba takdir harus dengan susah payah. Tapi bukankah memang lebih baik apalagi jika jadi berkah.

Kamu sempat membuatku percaya. Yakin, seyakin-yakinnya tentang pengharapan hingga datang masanya kamu hanya sebuah kesalahan, untuk setiap gertakan rasa yang nyatanya belum sanggup untuk dihalalkan. Kamu, lelehan tangis yang teramat sulit dihapuskan. Lantas ujungnya aku harus memasrahkan.

Advertisement

Berjibaku dengan semua kata yang ku ucap ternyata tak juga sanggup percayakanmu. Semua menjadi percuma. Kisah yang ku banggakan tak lagi sama. Semua justru berbalik penuh tanda tanya. Layaknya diksi di angan. Sanggupku hanya memeluki kenangan.

Hingga tiba saatnya aku hanya boleh merendah. Memaklumi skenario hidup dengan berdarah-darah. Kamu, hal tersulit yang begitu pernah ku paksakan. Sebegitu peluh ku tautkan, kini bolehku hanya ikhlaskan. Percayakan tentang akhir yang Tuhan takdirkan, meski semua tak seindah yang aku harapkan. Terima kasih, kepada pria yang pernah aku cintai sedalam itu.