Halo kamu yang sudah bisa move on

Apa kabar?

Boleh tanya? Susah gak ngeluapain semua kenangan indah? Pura-pura baik-baik saja setiap kali ada yang tanya?

Saya sudah mencoba, tapi selalu gagal. Setiap kali mau capai titik ujung, saya selalu berbalik. Melihat ke belakang, berharap kamu muncul dan menghampiri. Imajinasi konyol itu selalu saya pikirkan, karena bisa membuat saya sedikit kuat menjalani hari yang lelah. Bagaimanapun juga, melepaskan itu butuh banyak tenaga dan saya selalu kehabisan tenaga.

Saya pernah berhasil, akhirnya. Hampir satu tahun saya tidak memikirkan keadaan kita dulu. Terus menjalani hidup selayaknya wanita normal. Tidak lagi menaruh harapan besar pada seseorang yang mendekati saya, karena saya tahu pada akhirnya saya akan ditinggalkan atau meninggalkan. Mau membuka lembaran baru pun saya merasa tidak berhak. Karena hati dan pikiran saya belum siap. Masih ada bekas luka yang perlu saya rawat sebelum akhirnya memutuskan berhubungan lagi.

Advertisement

Sejauh ini kamu baik-baik saja. Bahkan di hari pertama berpisah kamu bisa melangkah dengan tenang. Terkadang saya berpikir, apakah keadaan kita dulu hanya dongeng, hingga kamu begitu mudah melepaskan semuanya. Tapi saya tahu, bukan masa lalu yang menahan langkahmu, tapi semua karena kamu benar-benar ingin meninggalkan. Tidak ingin terbebani lagi.

Selama tiga tahun menunggu dan terkurung pikiran trauma, saya pikir kamu akan kembali dan memperbaiki hubungan kita. Sugesti itu membuat saya terlihat bodoh di hadapan banyak orang. Mereka bilang saya terlalu bego untuk menunggu seseorang yang belum saya temui. Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apakah menunggu harus butuh alasan cerdas jika hati pun tunduk untuk menunggu? Karena terkadang hidup tidak melulu soal logika, ada ruang untuk hati juga.

Januari lalu kamu kembali. Saya bahagia hingga menangis. Saat kamu kembali bertepatan dengan beraninya saya membuka hati untuk orang baru. Malam itu kamu mengirimi pesan. Pesanmu panjang, tapi hanya satu baris yang saya ingat hingga kini. Kamu bilang saya harus melupakan semua kenangan kita, dan mulai melangkah tanpa terbebani layaknya yang kamu lakukan. Saya menangis bukan karena merasa kecewa penantian saya selama tiga tahun sia-sia, tapi lebih kepada merasa lega akhirnya saya punya alasan kuat untuk berhenti menyakiti dan memaksa hati saya untuk menunggu lebih lama lagi.

Sebenarnya saya tahu kamu tidak akan kembali lagi. Saya tahu sejak hari pertama kita berpisah, tapi saya tidak mau peduli. Saya ingin menunggu. Karena kamu adalah yang pertama dalam segala hal. Kamu yang pertama membuat kisah kasih dalam kehidupan saya. Kamu yang pertama saya kenalkan kepada orangtua saya. Kamu yang pertama saya izinkan membuat saya jatuh sedalam-dalamnya. Dan sayangnya, kamu pula yang pertama meninggalkan saya tanpa ucapan selamat tinggal.

Tidak selamanya yang pertama selalu membahagiakan. Mau seberapa banyak luka saya dapatkan atas sikap kamu, saya tidak pernah menyesal membiarkan kamu memasuki kehidupan saya. Mungkin saya terlalu banyak berharap pada waktu itu bahwa kita akan terus bersama. Saya lupa jika waktu tidak cukup baik untuk mewujudkan impian gadis muda.

Kini saya belajar untuk benar-benar melepaskan. Saya tahu kenangan-kenangan tidak perlu dibawa berlari, karena sejatinya kenangan tidak akan hilang. Cukup disimpan dalam ingatan. Akan terlalu berat jika saya bawa berlari bersamaan dengan rencana dan harapan saya untuk masa depan. Lebih baik tinggalkan di masa lalu, termasuk kamu. Saya percaya akan ada yang baru untuk saya. Semua sudah ditentukan Allah. Tapi saya juga percaya, cinta yang saya temukan nanti tidak akan pernah sama dengan cinta yang pernah saya jalani dulu.

Saya harap kamu juga merasakan hal yang sama. Kamu orang yang hebat, maka cintailah wanita dengan cara-cara hebat pula.

Salam,

Dari yang dulu kamu panggil sayang.