Sayang, beberapa bulan lagi. Kita tengah mempersiapkan rencana indah yang selama ini menjadi salah satu impian besar kita, ketika kau tiba-tiba mendapat perintah untuk bertugas selama 8 bulan lamanya. Ah…. Begitu sesak dada ini saat mendengar kabar darimu itu. Tanpa sadar, ada yang mengalir membasahi pipiku.

Jujur, aku sedih, aku kecewa, sebab semua sudah terbayang-bayang indah di kepalaku. Betapa hari-hariku telah dipenuhi dengan khayalan bersamamu, saat-saat bahagia ketika aku duduk bersanding denganmu. Betapa menyenangkannya berjalan berdua bergandengan tangan denganmu, atau betapa senyum sumringah merekah di wajahku ketika menghabiskan waktu bersamamu. Beberapa bulan lagi, dan itu tak akan terasa lama, pikirku. Tapi nyatanya Tuhan masih ingin melihat lagi, seberapa besar cinta yang kita berdua miliki.

Sesaat kemudian aku sadar, bahwa inilah yang harus kuhadapi. Aku sudah tahu sejak awal memulai hubungan denganmu, bahwa hal seperti ini mungkin saja terjadi. Sebab kau adalah seorang abdi negara, dimana negara adalah prioritas utamamu. Kau harus siap kapanpun ketika perintah datang kepadamu, karena jiwa dan ragamu seutuhnya adalah milik negara ini.

Seminggu sebelum keberangkatanmu, aku mencoba menguatkan hati. Mencoba meyakinkan diri, bahwa kita mampu melalui ujian ini. Walau kerap kali sedih menghampiri diri ini sebab terbayang akan menjalani hari-hari tanpa kabar dari kekasih hati. Namun ketika aku mendapati pesan singkatmu di ponsel kesayanganku bahwa kau akan berangkat hari itu, air mata tetap saja mengalir membasahi pipi ini. Menyadari bahwa setelah hari itu dan selama 8 bulan berikutnya, aku harus mampu melalui hariku tanpa ada sapa darimu.

Beberapa hari sebelumnya kau selalu mengungkapkan kekhawatiranmu. Khawatir aku takkan mampu menunggu, kemudian mencari penggantimu. Satu hal yang harus kamu tahu sayang, melupakanmu jauh lebih sulit ketimbang aku harus menunggumu. Ku pastikan padamu, bahwa cinta ini tak akan mudah pudar hanya karena beberapa bulan tak ada kabar.

Advertisement

Kini seminggu berlalu sejak keberangkatanmu. Rindu masih melekat, menghampiri setiap hariku. Terasa ada yang kurang saat aku memulai hari tanpa sapaan selamat pagi, dan memejamkan mata tanpa mendengar suara orang tercinta. Seminggu ini amat berat terasa. Tahukah sayang, mereka mengejekku. Mereka menertawai rinduku padamu. Apa yang salah dari seseorang yang merindukan kekasihnya yang sedang bertugas jauh di sana? Ah, mungkin mereka hanya tak tahu rasanya, karena merekapun belum pernah mengalaminya. Aku abaikan semua cemoohan itu, karena keyakinan akan kebahagiaan yang nantinya akan kurasakan jauh lebih kuat membekas di hatiku, ketimbang semua celotehan yang keluar dari bibir mereka. Mereka hanya iri kan sayang?

Tapi tenang sayang, aku memiliki kekuatan. Kekuatan yang kudapatkan selama aku menjalin hubungan denganmu. Ya, karena bersamamu aku menjadi wanita yang lebih kuat dan lebih tegar. Aku ingat semua kata-katamu, bahwa jarak ini hanyalah kerikil kecil. Bahwa semua ini hanyalah ujian kecil dari Tuhan. Ujian cinta kita, kesabaran kita, dan kesetiaan kita. Maka kau memintaku berjanji untuk bisa bersama-sama melalui semua ini, dan lulus dalam ujian ini. Setelah semua ini, maka cinta kita berdua hanya akan semakin kuat. Tuhan pasti tengah merencanakan sesuatu yang indah untuk kita, bukan?

Terakhir yang ingin kusampaikan padamu, meski kini harus menjalani hari tanpa kabar darimu, tapi aku bangga padamu. Kau sedang menjalankan tugas mulia, dan aku telah menitipkan dirimu pada-Nya. Kuyakin Dia akan menjaga dan melindungimu selalu. Semoga kau baik-baik disana sayang. Merindukanmu dan selalu mendoakanmu yang terbaik adalah cara sederhanaku mencintaimu dari kejauhan. Jaga diri dan kesehatanmu, sampai kita bertemu lagi 8 bulan yang akan datang, dengan tabungan rindu yang luar biasa.

Salam rindu,

dari kekasihmu yang akan senantiasa menanti kepulanganmu.