Halo, kamu. Iya, kamu.

Saat kamu membaca ini, mungkin kamu akan membatin, ah, apalagi ini, pasti dia akan menulis hal-hal lebay dan menye-menye lagi. Tak apa, sungguh. Sebab meskipun begitu, aku percaya kau akan tetap setia membaca tulisan-tulisanku.

Kita sama-sama tahu sejak dulu, bahwa kita bukanlah orang yang senang membagi hal-hal yang terlalu pribadi di sosial media. Tentu saja sebagai orang yang hidup di zaman serba internet, kadangkala kita membagi cerita-cerita di linikala: kebahagiaan bersama keluarga, kegiatan sehari-hari, pertemuan dengan teman lama, atau kelelahan sehabis pulang kerja. Tapi soal asmara, itu hal yang berbeda.

Sejak awal, kita sama-sama berpendapat bahwa hubungan kita adalah hal pribadi yang belum waktunya untuk dibagikan kepada semua orang. Cukuplah keluarga dan sahabat-sahabat dekat yang mengetahuinya di dunia nyata. Sebenarnya, kesepakatan itu bukan terucap saat kita bersama, tapi memang sudah merupakan pandangan masing-masing yang kita bawa sejak awal.

Sepanjang kebersamaanku dengan sosok yang manapun, aku belum pernah membagikan foto berdua di sosial media. Bahkan ada yang sama sekali tidak pernah berfoto bersama, barangkali karena kami terlalu canggung saat itu. Maka jika kau mencari di sosial mediaku yang manapun, tidak pernah ada jejak tentang mereka, kecuali dalam tulisan-tulisan yang samar-samar. Ya, tentu saja aku seperti orang kebanyakan yang ingin bercerita, sekedar membagikan apa yang sedang kurasakan –kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, kecemasan. Dan aku memilih tulisan sebagai media, bukan foto atau mention mesra.

Advertisement

Kalau kau tanya apakah aku ingin memasang foto kita di linikala, tentu saja kadang-kadang aku merasakannya. Aku ingin bicara. Aku ingin memberitahu dunia. Bukan bahwa aku tengah berdua, tapi aku hanya ingin membagi cerita tentang betapa baiknya lelaki yang setia bertahan bersamaku ini. Tapi untuk sekarang, keinginan itu cukup aku simpan dalam hati. Tentu saja kadang-kadang aku tetap membagi cerita, tapi cukuplah sebatas gelas teh yang tengah kita minum berdua, film yang kita tonton bersama atau screencapture sepenggal puisi cinta dari akun instagram penyair favoritku. Kukira, hanya dengan itu orang-orang pun tahu bahwa aku tengah jatuh cinta. Mereka tidak perlu tahu kesulitan apa saja yang pernah kita hadapi, air mata kita yang pernah terjatuh, pertengkaran-pertengkaran kecil yang kadang terjadi, atau hal-hal kecil tapi manis yang pernah kau lalukan untukku.

Suatu hari, tentu saja aku akan membagi sebuah cerita bahagia, jika waktu yang tepat telah tiba. Aku akan memberitahu dunia tentang seraut wajah yang kucintai, tentang sesosok lelaki yang telah berani mengucap janji suci di depan Tuhan dengan menyebut namaku, tentang seorang lelaki yang telah sah untuk kusebut suami.

Saat itulah, aku akan membagikan wajahmu, wajah bahagia kita.

Kita. Ya, kita. Aku dan kamu, lelaki yang kini tak pernah kubagi fotonya di sosial media.