Teruntuk malam yang selalu mendengarkanku bahkan ketika udara yang aku hembus enggan menggetarkan terowongan gelap nan sempit berhiaskan pita suara.

Malam, jika bukan padamu lantas pada siapa lagi aku harus bercerita? Kepada Tuhankah? Ah kurasa tidak, Tuhan itu maha thau dan aku tak perlu bercerita padanya, karena dia bahkan sudah lebih dulu mengatahui apa yang belum aku ketahui. Kepada anginkah? Hmmm, sepertinya angin enggan untuk sejenak tak berlalu dan mendengarkan ceritaku.

Malam, beberapa waktu belakangan ini hatiku sakit sekali. Entah bagaimana harus katakan padamu, tapi paru-paruku terlalu sesak untuk bernapas, kedua kakiku terlalu lemas untuk berdiri, dan aku mungkin terlalu bodoh untuk dianggap manusia yang berakal.

Malam, katakan padaku, masih berhargakah aku? Atau justru tak lagi berarti apa-apa karena aku pernah membiarkan diriku dipermainkan. Sungguh, bukan mauku, bukan inginku, tapi bukan pula aku menolak dan bukan pula aku tak menolak. Tunggu, jangan salah sangka padaku, aku tak seburuk itu. Hanya saja, terkadang aku menyesali beberapa hal yang aku lakukan dalam hidupku.

Malam, kata orang kaulah tempat yang tepat untuk merenung. Jujur aku katakan padamu aku terlalu banyak melakukan hal bodoh akhir-akhir ini, kebahagiaan yang sementara itu tak jarang membutakan mataku memekakkan telingaku dari panggilan Tuhan, kakiku kian kemari seolah melangkah maju mundur ke arah yang tak pasti, dan aku hanya berakhir berputar-putar di tempat yang sama.

Advertisement

Malam, salahkah jika aku mengingkari apa yang dikatakan oleh hati? Salahkah jika aku masih percaya pada janji-janji yang tak pernah ditepati? Salahkah jika aku masih saja menanti yang tak pasti? Entahlah aku pun tak mengerti. Terkadang aku merasa tak ingin membuka mata dan melihat kilauan matahari. Bukan karena aku pengecut, namun aku telah terbiasa dalam gelap dan walau matahari bersinar hangat namun kegelapan yang pekat pun mampu mengikat dan memeluk erat.