Halo selamat pagi! Apa kabar harimu?

Enam tahun sudah hubungan kita berakhir, tapi rasa sakitnya masih menganga sampai detik ini. Mungkin, ini alasan mendasar kenapa susah sekali pintu hati ini untuk diketuk oleh siapapun meski banyak dari kawan-kawanku yang mengatakan bahwa aku harus move on dari kamu. Ya, move on memang bukan perkara gampang buatku yang notabene mencintaimu dengan seluruh hatiku.

Beberapa hari ini, aku kembali teringat kisah indah kita. Ya, kisah yang terukir saat kita masih mengenakan seragam putih abu-abu. Teringat akan cintamu yang begitu besar kala itu, hingga hati ini benar-benar jatuh terjerembab dalam kisah kasih masa sekolah itu.

Senyum manis itu pernah jadi milikku.

Senyum manismu pernah jadi milikku seutuhnya. Ya, senyummu yang manis dan perawakanmu yang tenang benar-benar sosok yang menggenapkan kala itu. Senyum manis dan penuh makna itu selalu tersungging di bibirmu kala kita bertemu. Bahkan, ketika aku memalingkan mukaku. Kupalingkan mukaku bukan karena aku tak suka padamu, melainkan aku malu bertemu denganmu.

Perhatian itu seutuhnya tercurah untukku.

Teringat pada saat awal kau mendekatiku. Lucu rasanya ketika teringat akan hal itu. Ya, pesan singkat yang kau kirimkan lewat ponselmu tak serta merta aku balas. Alasanku tak membalas pesan singkatmu karena nomor ponselmu begitu asing bagiku. Kamu bukan salah satu penghuni kontak ponselku kala itu. Namun, kau tak jera begitu saja ketika aku mengabaikan pesan singkatmu. Kau terus berusaha menghubungiku dan bahkan mencari informasi tentangku.

Advertisement

Ketika aku tahu kau sedang mencari informasi tentangku, seketika aku hanya bisa diam membisu dan tak percaya karena memang belum ada lelaki sepertimu yang pernah kutemui. Segala bentuk perhatian kau curahkan, bahkan ketika kau tak di sampingku, perhatian itu kau titipkan melalui sahabat-sahabatku. Saat itu, aku merasa akulah wanita yang paling beruntung di dunia.

Perjalanan merangkai asa bersama.

Ketika ikrar cinta telah terucap dari bibirmu, tanpa ragu aku mengiyakan. Merangkai asa dan cita-cita bersama telah terbentang di depan mata. Ingin jadi seperti apa nanti di masa depan seutuhnya kita saling mendukung satu sama lain. Bahkan ada janji terucap tidak akan ada yang maninggalkan satu sama lain. Ya, janji yang kupegang utuh hingga saat ini.

Kepergianmu melululantahkan segalanya.

Sore itu benar-benar sore yang mengejutkan. Saat aku masih menyungging bibir penuh tawa dan senyum, kau datang dengan membawa kabar yang jelas-jelas meluluhlantahkan hatiku. Saat kata perpisahan terucap dari bibirmu, aku benar-benar tak percaya. Ya, aku tak percaya segala asa yang telah terangkai bersama luluh begitu saja. Jujur, hatiku sangat terluka saat itu.

Perpisahan yang menyakitkan, namun harus dijalani dengan cara mau maupun tidak mau, suka maupun tidak suka. Semua tanpa kompromi.

Perpisahan kita demi menjalankan perintah-Nya.

Perpisahan kita bukan atas dasar drama percintaan apapun, tapi murni demi kita berbenah ke arah yang lebih baik lagi. Taat akan ajaran-Nya adalah hal yang harus kita pegang terus-menerus. Meski telah enam tahun kita berpisah, tapi kau tak pernah bergeser tempat sedikit pun. Hanya saja, aku tak ingin melihatmu karena bagiku, melihatmu seperti membuka luka lama.

Sekarang, seperti janji enam tahun lalu yang sempat kuucapkan di pulau seberang, jika aku akan menunggumu meski hati ini pernah jadi milik orang lain. Tapi bersamamu, adalah doa yang selalu kusemogakan.

Jalan kita selalu beriringan. Apakah Tuhan akan mempertemukan kita di satu titik atau tidak, kita tidak ada pernah tahu.

Semoga yang Maha Cinta selalu memberikan yang terbaik untuk kita, seperti katamu.

Dariku, sosok masalalumu.