Hi, selamat pagi!

Hari ini, di saat kita sudah baikan lagi, semangatku pun muncul kembali setelah beberapa hari yang lalu kita sempat bertengkar. Bertengkar selalu membuat hariku terasa berat. Tentu saja karena aku tidak bisa ngobrol dan menggodamu.

Sedikit cerita tentangmu.

Bekerja di kantor yang sama membuatku bisa melihatmu setiap hari. Aku tidak cemburu dengan teman-teman di lingkungan tempat kita bekerja, walau terkadang aku sesekali menggodamu dengan menanyakan apakah kau tidak tertarik dengan si A atau si B yang cantik. Tapi aku tahu kau adalah tipe lelaki yang teramat sangat bisa dipercaya. Kau bukan lelaki yang suka tebar pesona atau dengan mudahnya tertarik dengan wanita lain.

“Kau selalu mencukupkan dirimu dengan dia (aku) yang ada bersama denganmu.”

Dan aku merasa beruntung bisa memilikimu.

Advertisement

Tapi toh tidak ada hubungan yang berjalan selalu mulus, bukan? Bahkan dalam sinetron atau dongeng sekalipun. Begitupun dengan hubungan kita, ada saja hal-hal yang membuat kita bertengkar. Lebih tepatnya, aku yang selau tidak bisa menahan amarahku karena kau selalu bisa lebih sabar dalam menyikapi semua. Katamu,

"Ketika kau memutuskan untuk mulai mencintai seseorang, di saat itu juga kamu harus berhenti mengedepankan egomu sendiri.”

Kau tidak hanya omong kosong, tapi kau benar-benar membuktikannya. Sebenarnya, sering kali alasan kita bertengkar adalah masalah kecil. Tapi, kebanyakan akulah yang terkadang terlalu sensitif. Contoh kecilnya saja, aku tahu sikap toleransi dan empatimu terhadap orang lain cukup tinggi. Aku bangga dan tidak keberatan dengan ini. Tapi, terkadang kau mengabaikan diri sendiri dan kesehatanmu. Hal inilah terkadang yang membuat aku jengkel terhadapmu.

Ada kalanya, I’m acting like drama queen atau terkadang aku terlalu mendramatisir suasana. Marah-marah gak jelas, sedikit lebay menurutku. And to be honest, I fully realize it.

Tapi hal-hal yang selau membuatku heran dan kagum akan kamu adalah bahwa tidak sekalipun kamu membalas semua omelan dan amarahku dengan perlakuan yang sama. Semarah apapun aku, kamu tetap bisa menjaga emosi. Bahkan intonasi suaramu tidak sekalipun sepanjang hubungan ini kamu pernah membentak atau bahkan berbicara dengan nada tinggi terhadapku. Bahkan ketika amarahku membuatku gengsi untuk memanggilmu “Sayang”, aku hanya menyebutmu dengan kata “kamu”, tetapi kamu tetap memanggilku "Sayang".

Jauh di dalam hatiku, aku sungguh menyesal dengan semua hal kecil yang telah kita. Bukan, lebih tepatnya aku pertengkarkan denganmu. Karena sebenarnya, semua itu bisa dibicarakan baik-baik. Tapi terkadang emosi sudah menguasai hatiku terlebih dahulu, sehingga aku tidak dapat berpikir secara logika lagi. Dan ketika kata maaf itu keluar dari mulutku, tidak pernah ada kata penolakan darimu atau berbalik marah padaku. Tidak sekalipun.

Kau selalu memiliki cadangan kata maaf itu untukku. Selalu ada maaf darimu, maaf yang tak pernah habis, setidaknya sampai saat ini.

Karena itu, aku mohon bersabarlah Sayang. Wanitamu ini berjanji akan belajar lebih dewasa. Aku berjanji akan berusaha untuk berubah karena sungguh, aku tidak mau kehilanganmu hanya karena hal bodoh yang kulakukan. Ingatkan aku apabila sikapku sudah keterlaluan. Aku tahu, sabar dan maaf darimu itu karena kau begitu besar mencintai dan menyayangiku.

Tapi kesabaran dan rasa cintamu harusnya bukan alasan untukku sering bertindak kekanakan. Karena buatku, kesabaran dan cintamu bukan untuk dicobai sampai ambang batasnya. Yakinlah, Sayang! Kesabaranmu yang akan merubah sifat egois dan keras kepalaku. Terima kasih untuk selalu mengerti dan memahami aku dalam semua bentuk kedegilan, egois, keras kepala, dan amarahku. Terima kasih telah menjadi bagian terbaik dalam perjalananku saat ini.

Jika kita berdua adalah yang terbaik untuk diri kita masing-masing, semoga Tuhan membuka jalannya untuk mempersatukan kita.