Kau menyapa hidupku dengan teramat manis. Sikapmu yang aku nilai tulus membuatku nyaman. Ada banyak kebahagiaan yang sempat kau berikan untukku. Hingga pada suatu hari, sikapmu perlahan berubah.

Semenjak kedatangannya dalam hidupmu, terang-terangan kau sanggup menyakitiku. Melanggar batas sebuah kesetiaan demi kesenanganmu sendiri. Aku tak lantas menyerah begitu saja. Aku berjuang sebaik mungkin untuk hubungan kita. Demi mendapatkan hatimu kembali. Hingga akhirnya Tuhan memberiku jawaban. Kau memang tak layak aku perjuangkan.

Ada saatnya aku pergi. Bukan karena aku menyerah kalah. Aku juga punya hati yang kebahagiaannya pantas aku perjuangkan.

Di sisimu bahagiaku tercukupkan. Dengan senang hati kau torehkan pelangi untukku.

Hidup memang tak selalu berjalan sesuai yang diinginkan. Aku akui itu, namun semenjak kau mewarnai duniaku semuanya terasa sempurna. Ada pelangi yang dengan senang hati kau torehkan untukku nyaris setiap hari. Bersamamu aku belajar mengeja kebahagiaan yang dulu ku rasa semu. Kau memberikanku rasa bahagia sebanyak yang aku mau. Tak kurang dan tak lebih, karena kau tahu betul apa yang mencukupkanku.

Advertisement

Kau mulai gemar berbicara padaku dengan intonasi tinggi. Menyakitiku dengan sadarmu.

Hingga pada suatu hari sikapmu mulai terasa asing. Dengan nafas yang memburu kau berkata dengan nada tinggi padaku, sesuatu yang sebelumnya tak pernah kau lakukan padaku. Memaksaku untuk segera mengantarku pulang. Ada urusan keluarga yang genting katamu. Aku hanya tergagap. Mati-matian menekan debar dada yang kian memburu. Semenjak hari itu, aku hampir tak mengenalimu. Aku mulai berhadapan dengan dinding beton egomu.

Sorot matamu terasa berbeda. Ada sesuatu yang dengan terang-terangan tengah kau sembunyikan dariku.

Bukannya aku tanpa usaha. Aku pelan-pelan berbicara padamu, mencoba berbicara dari hati ke hati. Berharap kau akan sedikit tersentuh dan mulai merubah sikapmu. Dengan wajah yang kelewat datar kau hanya berkata bahwa semua masih baik-baik saja. Aku tergugu. Bukan sehari dua hari aku mengenalmu. Bahkan dari sorot matamu pun aku tahu bahwa ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan.

Nyatanya ada sosok wanita lain yang nyaris menggantikan posisiku. Akui saja kau juga menikmati keadaan ini kan Sayang?

Pada suatu ketika, secara tak sengaja tersebut nama wanita itu. Kau memujinya dengan mata penuh binar. Aku tertegun. Aku telah menemukan jawaban dari pertanyaanku selama ini. Suka tidak suka itu jawaban yang harus aku terima. Dia, wanita yang kau temui di tempat kerjamu. Dia, yang dengan segala pesona kecantikannya telah memikat hatimu. Sementara aku, wanita bersahaja yang mencintaimu dengan hati.

Sayangnya kau salah duga, aku bukan wanita lemah yang mudah menyerah begitu saja pada keadaan. Aku berjuang dengan segenap kekuatanku.

Kemudian, sejak saat itu semuanya berubah. Kau mulai mencari-cari kesalahanku, meributkan hal sepela yang sebenarnya tak perlu dipermasalahkan. Aku tahu tujuanmu melakukan semua itu. Kau berharap kita segera berpisah. Maaf, aku bukan wanita lemah yang gampang menyerah. Walaupun aku menyadari, saat itu hatiku terkoyak. Begitu mudahnya kau melanggar batas sebuah komitmen. Mencampakkan sebuah hubungan begitu ada wanita yang lebih menarik hati datang dalam kehidupanmu. Aku berjuang menyelamatkah hubungan kita. Aku anggap saat itu kau hanya sedang khilaf. Ada saatnya kau berubah dan kembali dengan segenap hati padaku.

Tuhan memberiku jawaban. Dengan terang-terangan kau menduakanku. Setidaknya aku telah memperjuangkanmu hingga titik batas.

Ternyata aku salah. Dengan terang-terangan kau menduakanku. Bermain api dengan segala sadarmu. Aku terjaga. Setelah sekian waktu aku berjuang dengan menekan segala egoku mungkin ini adalah jawaban dari Tuhan. Apa yang aku perjuangkan telah mencapai titik batasnya. Setidaknya aku pernah memperjuangkanmu. Berusaha memberikan yang terbaik untuk mendapatkan hatimu.

Aku pergi. Bukan aku telah menyerah, tapi karena aku juga punya hati yang layak bahagia.

Sebuah hubungan tidak akan bisa berjalan harmonis bila hanya diinginkan oleh satu pihak saja. Pun kehadiran orang ketiga hanya akan menorehkan luka bagi yang tersakiti. Kali ini aku memilih pergi. Tak adil rasanya bila aku dengan sengaja membiarkan hatiku terus menerus tersakiti. Ini hati manusia, bukan plastisin warna warni yang bisa kau hancurkan sesukamu. Pada akhirnya aku memang harus mengucapkan selamat tinggal padamu. Aku pergi, demi kebahagianku. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk berjuang.