Akhlakmu menentramkan. Tuturmu meneduhkan. Kamu memang sudah selayaknya jadi pilihan. Namun satu hal yang akhirnya aku sadari, adalah betapa di luar sana ada lelaki luar biasa yang menjadikanmu bagian dari do'a-do'anya. Dia yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk menemui orang tuamu dan memintamu.

Dia yang dari segi ibadah lebih taat dariku. Dari segi amalan lebih banyak dariku. Dari segi pengetahuan lebih mumpuni daripada aku. Terutama kedekatannya dengan Sang Maha Pencipta dan ketaqwaannya jauh lebih baik dariku. Dan mungkin dari segi kepantasan, dialah yang pantas mendampingimu.

Maka sebelum aku terlalu berharap, aku ingin mencukupkan perasaanku. Bukannya aku menyerah sebelum berperang. Hanya saja aku sadar diri, siapa aku ini. Meski aku berusaha untuk lebih baik lagi, sedikit-demi sedikit.

Biarlah. Aku ingin meneladani sikap Ali bin Abi Thalib dalam mencintai. Meskipun kualitas diriku amat sangat jauh dibanding dengan dia, yang merupakan sahabat Nabi. Jadi, kupasrahkan semuanya kepada Ilahi. Sebab sebaik-baik rencana adalah rencana-Nya. Kamu layak dapatkan yang terbaik. Bilapun itu bukan aku, aku mencoba untuk ikhlas. Sebab, seperti itulah kurasa. Cinta yang sebenarnya. Ikhlas, tak menuntut balas.

Semoga Tuhan berikan yang terbaik untuk kita. Amin.