"Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim"

Begitu. Saya mencintai kamu, atau apapun perasaan itu namanya. Yang pasti, saya selalu ingin menceritakan seluruh kejadian sepanjang hari, lalu mendengar suara tawamu yang candu. Kamu mudah sekali tertawa terhadap hal-hal kecil. Saya selalu diikutsertakan dalam tawamu.

Tawa yang lebar, tanpa keterpaksaan atau kepura-puraan. Benar, saya dapat melihatnya melalui matamu, dan gurat tawamu itu. Ketika bersamamu itulah, saya merasa, saya ingin tinggal dan berjuang bersamamu. Namun, saya juga takut, sayalah yang akan pergi meninggalkanmu.

Jadi, Sayang. Pada suatu malam saya bermimpi. Kamu meminang saya, ingin menjadikan saya kawan hidup daripada kamu. Dan dalam mimpi itu saya merasa tersenyum yang sangat berseri-seri,  pada mu. Senyum yang sama ketika kamu memintaku untuk jadi kekasih dan sahabat terbaikmu.

Saya pun yakin kedua pipi saya turut merona merah. Kemudian kamu juga tersenyum, ada keikhlasan dibaliknya, dan dalam mimpi itu, bibirku berkata, kamu tolong tunggu jawaban dari saya. Lalu, semuanya berputar dan menghilang. Saya terbangun.

Advertisement

Kamu datang lagi, dalam mimpi saya. Namun bukan datang karena meminta jawabanmu kemarin. Jadi, saya bersama kamu dan kawan-kawanmu sedang bersama-sama di suatu negerti. Dengan berbagai buku yang ada di sekeliling kita, saya memutuskan bahwa kita sedang menimba ilmu.

Kawan-kawanmu pergi bermain serta juga mengajak kamu, namun kamu menolak. Kamu lebih memilih tinggal, menemani saya membaca buku. Katanya, kamu rindu. Dengan gagahnya kamu berkata seperti itu padahal sejak pagi kita bersama. Kamu, kemudian tertawa lebar. Justru dengan setiap tawa itulah, saya selalu jatuh cinta padamu.

Lantas, saat hari menjelang sore, kamu alih-alih menyusul temanmu, kamu menggandeng erat tangan saya. Mengajak saya mendaki gunung. Dalam setiap langkah itulah, saya merasa, kamulah, yang selalu ada dalam doa saya. Kemudian setelah sampai pada puncak dan tak sedikitpun merasa lelah, kita sama-sama turun. Dalam perjalanan itulah, saya bertemu teman-teman lama.

Saya bergabung dengan mereka. Salah satu dari mereka bercerita pada saya, dia sedang menyukai gadis yang senyumnya teramat manis yang dijumpainya saat turun gunung, dan wajahnya tentram untuk dipandang serta pula hatinya berdesir.

Lalu saya berpikir, apakah semanis senyuman saya seperti yang kamu bilang? Pada teman saya itu, saya mengusulkan jika dia memang menyukainya, maka nikahilah dia. Kemudian saya teringat akan pertanyaanmu, ketika saya menoleh ke belakang, kamu hilang. Kamu seperti pelangi, yang indahnya hilang bahkan sebelum orang-orang menyadarinya.

Saya takut. Saya akan kehilangan seorang seperti kamu. Seorang yang menegur saya agar jangan pernah merasa sendirian. Kemudian kamu serta merta malah menemaniku, dan berkata bahwa sayalah, hidup yang kamu butuhkan dan juga inginkan. Mimpi buruk saya biasanya tentang kehilangan kamu, saya takut suatu saat kamu akan bertemu wanita lain. Yang lebih unik daripada saya. Yang akan ada dipikiranmu selepas kamu bangun pagi. Saya bahkan cemburu terhadap pikiran negatif saya sendiri.

Kita adalah dua cangkir kopi, berbagi cerita sampai penjaga warung angkringan menegur sampai tutup. Bukan kurang ajar, dalam percakapan itu kita juga sama-sama mencari referensi data untuk keesokan hari. Kemudian membicarakan cita-cita, sekaligus juga tentang kita. Pada masa itu pula, saya percaya kepada tatapan kedua mata itu.

Kamu pernah mengatakan, bahwa dirimu adalah manusia yang paling beruntung di seantero jagad. Kamu berhasil menemukan saya, yang tak semua orang bisa lihat. Kamu menemukan sisi-sisi dari dalam diri saya yang kamu bilang unik. Begitu juga dengan saya, kamu mengijinkan saya untuk masuk ke dalam dunia kamu yang begitu banyak warna. Kemudian saya menyepakati, kita adalah dua orang yang selama ini terpisah antara ruang dan waktu. Saya dan kamu tak tahu siapa di kehidupan yang terdahulu.

Yang pasti, sekarang kita telah bersama-sama. Kita di mana-mana, di angkringan kopi pinggir jalan, perburuan gratisan dan juga diskon makanan. Sejenak kenangan-kenangan tentang kamu menguar, Sayang. Kamu tahu saya adalah pengingat yang hebat, pun pemikir yang rumit.

Kamu akan selalu menyapukan tanganmu di  depan muka saya ketika saya diam dan berpikir. Kamu seakan takut kewarasan saya hilang, karena segala hal senang bertubrukan hebat di kepala. Saya tahu kamu tak akan melepaskan genggaman eratmu. Karena kita, saling membutuhkan. Cinta itu, saling menguatkan, bukan melemahkan. Sayang, antara saya dan kamu itu, semuanya begitu kudus.

Lantas, apa yang orang-orang ketahui tentang keraguan? Apakah kamu pernah merasakan keraguan itu sendiri? Terhadap saya, dan kita. Apakah kita, hanya sekedar diperkenalkan.  Saya pun pernah ragu, Sayang. Apakah kamu, dan semua yang menyangkut kamu adalah benar adanya. Kamu, apakah yakin terhadap saya? Pada suatu percakapan yang membahas ini kamu pun berkata, butuh hati yang lapang untuk menerima dengan ikhlas.

Saya pun mengangguk. Kita sama-sama memiliki masa lalu, jangan terjebak dan menyalahkan. Yang ada adalah masa depan, dan juga kita. Dari situ, mungkin keraguan itu bukan keraguan terhadapmu. Namun keraguan saya terhadap diri sendiri.

Sayang, saya juga bukan wanita sempurna yang memiliki segala sesuatu yang menarik. Namun, saya tahu bagaimana caranya bahagia. Caranya mensyukuri segala apa yang ada dalam diri saya. Jika pada suatu masa akhirnya kamu, bukan dengan saya, saya pun akan mundur. Kamu hanya perlu memberitahuku, bahwa kamu berhenti mencintai saya. Kamu hanya perlu pamit.

Supaya saya tak menunggu atau kelimpungan mencari-cari kamu di ujung jalan yang gelap sana. Kita berjabat tangan. Kenapa, Sayang? Terlihat begitu pesimis? Bukan, itu hanya seandainya saja yang saya tak mau. Kita masih bisa menjadi partner. Sesungguhnya bukan kamu saja yang memerjuangkan saya, saya juga sebaliknya.

Setiap mengingat kamu adalah hal yang menyenangkan. Saya suka cara kamu memerlakukan tentang siapa saya di hadapan orang-orang, lengkap dengan senyum lebar dan penuh kebanggaan. Lebih lagi, tentang bagaimana kamu bersikap bersama teman-teman kamu, dan juga keluarga kamu. Seorang yang ambisius namun tetap rendah hati, memerhatikan keadaan di sekelilingmu.

Ngomong-ngomong, saya ingin sekali satu meja makan dengan kamu. Di meja itu, kita mungkin akan bercerita. Bagaimana hari-hari kita berjalan, atau mungkin, kamu dengan manja dan lelah akan memintaku tak lekas beranjak seusai makan. Kamu ingin mendengar suara saya, dan menjadikan perasaanmu damai kembali.

Kamu harus ingat kata-kata saya. Ketika kamu merasa takut, akan sesuatu hal yang akan menimpamu. Lawanlah, lawan rasa takutmu. Kamu, hanya perlu percaya kepada diri kamu sendiri. Saya akan membantu kamu, mengingatkan kamu, seandainya kamu lupa. Tidak apa-apa, saya tak merasa keberatan dengan itu. Karena, perempuan akan merasa, sangat bahagia, apabila perannya dibutuhkan. Begitu juga, dengan saya.

Kalau saya boleh meminta. Kamu tetaplah punya senyum itu. Bukan, bukan hanya untuk saya. Tapi untuk semua orang. Kamu pun pasti juga sudah tahu. Senyum itu memancarkan kebahagiaan bagi pemilik dan juga yang melihat. Bukan berarti kamu terus-terusan menyembunyikan apa-apa yang menyedihkan dalam hatimu. Kamu boleh sekali-kali melihat senyuman kamu di cermin. Demi Tuhan, siapa pula yang bodoh yang tak bisa jatuh cinta pada senyuman itu.

Jikalaupun, ada seorang yang sangat ingin mengetahui siapa saya, saya tak akan segan-segan memerintah orang itu untuk datang ke suatu tempat. Saya minta orang itu mencari kamu, dan bertanya.

Saya memberitahu orang itu: “Tolong pergi ke alamat ini, temui saja lelaki ini. Namun juga, tolong jangan jatuh cinta kepada dia. Cukup tanyakan saja, siapa saya.” Kamu mungkin akan heran, kenapa bukan saya saja yang menjelaskan. Benar, Sayang. Akhir-akhir ini orang dengan mudah menilai seseorang itu buruk, atau baik, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya. Kemudian, kamu akan mulai bercerita. Tentang buruk atau baiknya saya, itu terserah kamu.

Saya dan kamu itu, juga banyak bedanya. Perbedaan kecil, misalnya. Kamu, teramat membenci hujan. Memakinya setiap hujan itu turun. Kamu, berdampingan dengan gerimis yang datang. Hatimu juga ikut basah, kamu teringat, bagimana rasanya rindu sekaligus patah hati yang teramat hebat. Maaf mengingatkanmu tentang ayahmu yang berpulang. Pada semasa itu kita belum tahu satu sama lain, dan yang saya tahu, saya ingin sekali kembali ke masa lalu. Memeluk kamu, membiarkan kamu berduka.

Lain lagi dengan saya. Saya terkadang teramat bahagia ketika hujan turun. Atmosfirnya yang dingin dan menenangkan. Mencium aroma tanah basah, kemudian bersyukur serta merta saya menikmati hujan dalam naungan atap, tidak kebasahan dan kedinginan di luar sana. Sayang, dalam hujan itu saya pun mengingat tentang kita. Terkadang juga terbesit, selalu adakah saya di tiap-tiap waktu pikiranmu. Jangan, kamu jangan memikirkan saya terus. Segala sesuatu harus berjalan berdampingan.

Kamu itu, favorit saya. Saya masih ingat betul hari ketika saya terlalu lelah bahkan sekedar untuk berjalan. Hari ketika saya mempertanyakan, mengapa saya tak sebahagia orang lain. Dan kamu, mengatakan bahwa sebuah kesalahan jika saya tak bahagia. Lupakan segala yang menimpa, terima diri apa adanya. Lalu kamu mengajak saya makan di angkringan sederhana, kamu pula membayar kedua porsi itu. Padahal saya tahu, sisa uangmu hanya tak sampai seminggu. Kamu tahu? Kamu sering melakukan hal-hal sederhana, yang di dalamnya, saya turut jatuh cinta, juga bahagia.

Saya juga masih ingat saat kau mengatakan, orang-orang berkata agar jadi dirimu sendiri. Namun mereka juga berkata, jangan menjadi dirimu sendiri. Karena,siapa yang akan menerimamu sepenuhnya. Kemudian, dengan mewahnya kau mengatakan, sayalah tempatmu menjadi dirimu sepenuhnya.

Saya tetap ingin bersama kamu, berada di sampingmu, menjadi bagian dari kamu dan bahagiamu, menjadi rumah bagimu. Menjadikan kita manusia yang lebih dekat kepadaNya. Apa pun yang terjadi, mari berjalan bersama. Doa saya, untuk kamu. Semoga, Tuhan selalu bersama kamu, dalam duka dan suka.