Hingga pada usia ini, sudahkah kamu merasakan sebuah rasa yang tak pernah bisa kamu deskripsikan hebatnya? Sebuah rasa yang ramai orang menyebutnya sebagai cinta.

Sebuah rasa yang Tuhan titipkan kepada hambaNya dalam bentuk kesucian tiada tara. Sebuah rasa yang berhak dimiliki oleh semua umat dunia. Sebuah rasa yang akan membuatmu berbeda dengan seorang pembunuh. Ya, sekali lagi mereka menyebut itu sebagai cinta.

Segalanya dalam hidup selalu melibatkan rasa. Suka, duka, tawa, tangis, amarah, semua adalah rasa. Segala rasa yang tercipta di dada sejatinya adalah anugerah Yang Maha Kuasa. Kita tidak pernah bisa meminta untuk kehadiran sebuah rasa, tapi kita berhak memilih untuk menetap pada rasa yang seperti apa.

Luka itu wajar, yang menjadikannya tak wajar jika kau memilih hidup dalam luka

Dalam hidup, ada beberapa hal yang tak pernah bisa dipaksakan sehebat apapun perasaan yang terlibat di dalamnya. Seperti halnya saat kamu dihadapkan pilihan antara sahabat dan kekasih, perbedaan dalam prinsip dan keyakinan, atau bahkan perasaan yang ditujukan kepada sosok yang sudah memiliki tambatan hati.

Advertisement

Sungguh sehebat apapun perasaan itu, tetap saja jika memaksa hanya akan menyiksa.

Nah?

Bukankah jikalau sungguh mencinta, yang demikian itu bisa ditebas tuntas? Tentu bisa saja. Tapi setelah menebas semua pembatas yang ada, berapa jiwa yang harus meranggas? Sekali lagi memaksa hanya akan menghadirkan luka.

Aku pernah memiliki sebuah rasa. Rasa yang terlanjur dipaksakan untuk bersama dengan melukai wanita lainnya. Rasa berjuan melakukan segalanya dengan sepenuh hati tapi tak pernah dihargai. Rasa sebagai sosok setia dan akhirnya dikhianati. Rasa penantian yang tak kunjung datang. Aku pernah mengalami segalanya. Tentu saja aku sudah mencoba segalanya untuk menebas persoalan, namun tetap saja semesta tak pernah mendukung segala rasa yang sempat membuncah di dada.

Sampai akhirnya segala perenungan ini membawakku pada penjuru mata angin yang benar-benar berbeda. Jika aku menemukan sepasang kekasih yang searah, belum tentu mereka memiliki rasa yang sama. Sama halnya dengan mereka yang saling berlawanan arah, juga bukan jaminan mereka hidup dalam amarah dan segala perbedaan.

Karena itu, sekali lagi kutegaskan, memaksa untuk bersama hanya akan menunda luka yang sementara tersembunyi dibalik kebahagiaan semu.

Sekali lagi aku harus belajar untuk berjalan mundur, menjauh, bahkan jika terusir harus pergi. Semua itu patut untuk dilakukan meski kepala tak sanggup lagi ditegakkan, meski hati benar-benar merasa tersedak. Memutuskan untuk pergi bukan karena kita tak lagi memiliki sebuah rasa, melainkan karena kita menyadari ada beberapa hal yang jelas tidak dapat dipaksakan.

Hingga akhirnya aku sampai pada sebuah kalimat klasik “cinta tak harus memiliki”.

Aku ingin percaya bahwasegala sesuatu yang pergi dariku, belum tentu tak mencintaiku. Sebab, bisa saja berkat doanya aku akan menemukan kekasih hati yang sekarang sedang memelukku erat dalam doanya.

Aku ingin percaya bahwa yang merampas kebahagiaan kisah wanita lain akan mendapatkan imbalan yang serupa. Aku tak bermaksud menyumpahi, hanya saja kebahagiaan yang tercipta dari tangisan wanita lain memang akan menyisakan karma.

Aku ingin percaya bahwa yang terpisahkan karena prinsip dan keyakinan akan dipertemukan dengan sosok yang sejalan dan mampu mengiringi.

Sekali lagi urusan rasa hanya Tuhan yang berkuasa, melalui waktu Ia akan menunjukkan kuasaNya bagi hambaNya yang tak lupa berdoa seraya berupaya.

Bukan dengan jalan pintas merusak bahkan memaksa. Cukuplah doamu kepada Tuhan yang mengantarkanmu pada kebaikan di manakah selayaknya perasaanmu berlabuh.

Kepadamu sosok yang pernah membuat perasaan ini berlabuh, terima kasih telah memberikan sedikit kebahagiaan semu. Jika semesta memang tak menginginkan kebersamaan kita, semoga kita tetap dipertemukan dengan keadaan yang baik-baik saja.