Sapaan surya kepada pasir yang menggigil, membuatnya dapat merasakan kembali makna ‘kehangatan’. Begitu pula dengan dedaunan yang selalu diterpa dinginnya udara. Berbeda denganku. Aku yang selalu membeku dingin dan sendiri di pulau ini, telah lupa makna ‘kehangatan’ yang sejati.

Namun, suatu ketika seberkas kehangatan memancarkan kehangatan lain dalam jiwa. Kala kumenoleh ke titik pandang yang lain, kutemukan dirimu terkulai. Agak senang, namun juga cemas. Tanpa segan, kubawa dan kurawat dirimu hingga pulih.

Seraya menunggumu, aku bermain dengan air, pasir, dan bebatuan. Bercerita kepada tetumbuhan. Mereka tak berekspresi, namun kuyakin mereka pun senang. Tiba-tiba, sang kehangatan terasa makin merebu. Kuhadapkan tubuhku ke kanan, kutolehkan kepalaku seperempat putaran. Kau berdiri tepat 1 meter di belakang tempatku berada. Kau menyapaku. Dan bertanya dengan santainya, ada di mana kau. Lalu duduk di sampingku bagaikan kau telah lama mengenalku. Kau turut bercerita kepada tetumbuhan tentang hal terakhir yang kau ingat sebelum terbangun di sini, seolah mereka pun teman berceritamu. Kapalmu tenggelam, dan tim penyelamat terlambat datang. Setelah itu, hanya kedinginan yang kau rasakan, katamu. Seolah tak apa jika aku mendengarnya. Setelah itu, kau selalu menanyakan semua hal yang ingin kau tahu tentang diriku, tentang keberadaanku, dan tentang pulau ini. Mulai hari itulah kita saling kenal dan saling akrab.

Beberapa hari ini kulalu hanya bersamamu. Aku sadar, kita semakin akrab. Semakin banyak kenangan yang kita rangkai bersama setelah hari itu berlalu. Kau mengenalkanku banyak hal baru. Sang kehangatan pun kini telah menutupi semua hal tentang kedinginan dalam ragaku. Makna sejati dari ‘kehangatan’ pun dapat kurasakan. Aku bahagia.

Namun, ternyata kau pun diam-diam berupaya pergi dari pulau ini, tanpa memikirkanku dalam upayamu. Aku yang menyelamatkanmu saat kau terkulai, menemanimu berhari-hari di pulau ini, ternyata tak kau pedulikan. Hingga satu hari yang selalu membuatku bersedih setiap malam itu pun tiba.

Advertisement

Seberkas cahaya yang amat menyilaukan mata datang dari arah laut, kian mendekat. Sesuatu itu mengeluarkan suara yang keras dan memekakkan telinga. Lantas kau berlari menuju bibir pantai dan melambai-lambaikan kedua tanganmu sembari melompat-lompat. Kau nampak amat bahagia. Kutahu bahwa sepengetahuanmu aku telah tertidur, maka dari itu kau tak nampak cemas akan diriku yang kau tinggalkan.

Kala malam itu kau amat tak sadar bahwa diriku berada di balik semak untuk menyaksikanmu berlalu. Kutitikkan air mata yang kian merebak dengan tubuh yang kian membeku. Alangkah mudahnya dirimu untuk datang dan pergi tanpa membekaskan sendu, ataupun memberi rindu. Kau dan aku pun berpisah tanpa sebuah perpisahan.

Akan kuingat selalu awal jumpa kita, kenangan kita, dan cara kita berpisah. Kutulis semua hal yang ingin kuingat dalam sebuah buku yang kau beri dahulu kala kau mengajariku menulis.

Pada akhirnya, kau pun sama halnya dengan air laut yang selalu datang dengan wujud ombak, lantas pergi bersama pasir-pasir yang menggigil karenamu.