Aku terbangun di sebuah pagi dan menemukan sesuatu yang kosong dalam pandanganku. Apakah karena mataku belum menangkap sosok dan wajahmu? Aku beranjak dan mencuci muka, tapi sia-sia. Rupanya yang kosong itu bukan hanya di mataku. Tetapi aku merasa ada yang kurang, telingaku merasa tak menemukan apa yang bisa didengar. Apakah karena telingaku belum mendengar suaramu?

Aku pun menyalakan sebuah lagu, menyetel-nya dengan volume keras dan mencoba mengikuti iramanya. Sayangnya, kesepian itu malah melahirkan suasana baru. Aku mencoba mengikuti bernyanyi, suaraku mengikuti lirik lagunya. Anehnya, aku seperti serasa sedang ingin mengatakan kata-kata padamu. Apakah karena aku belum menyapamu, hari ini? Sungguh, ini benar-benar terlalu.

Aku kira, aku sedang dihinggapi satu perasaan cemas biasa. Saat-saat lebih membutuhkanmu ketimbang membutuhkan diriku sendiri. Sebagai seorang yang lebih gampang bicara pada hatinya sendiri, begitulah aku, ketimbang mengakui kejujuran yang sedang dialami padamu.
Sebagian dari diriku, ada yang ikut denganmu setelah dipertemukan oleh Tuhan waktu dulu. Apakah bagian hidupku memang harus ada dirimu? Semoga.

Jauh darimu, sungguh aku merasa melibatkan perasaanku. Jauh darimu, sungguh aku merasa menenggalamkan aku dalam kesepian yang sulit berlalu. Tapi sejak kapan kamu dipanggil rindu? Padahal tak ada perjanjian tertulis di atas materai, kalau namamu lebih mudah dilafalkan oleh kata tersebut.

Oke, baiklah! Aku yakin begitu hari beranjak siang, aku masih mencari-cari di mana kekosongan ini melanda. Begitu pun ketika beranjak sore, kesepian itu jatuh di pikiranku atau di belahan jiwaku yang mana, aku bakal mencarinya. Apalagi kalau menuju malam.

Advertisement

Aku yakin, yakin banget malahan, kalau aku masih tetap terkena 'musibah' memikirkanmu. Tenang musibah ini sangat aku nikmati. Musibah ini sebenarnya anugerah, kata orang bijak sih begitu. Hanya saja, memang aku tak tahu sejak kapan kamu dipanggil rindu.