Andai aku aku tau itu pelukan terakhir, akan kupeluk kau sekuat yang aku mampu

Awal yang indah disaat dua tatapan saling bertemu dan dua bibir saling menyapa. Terasa begitu sempurna waktu itu. Hari demi hari,bulan demi bulan kita masih terus melebarkan sayap untuk saling menghangatkan,hingga tak pernah sedikitpun aku berfikir sayap itu akan menghangatkan tubuh yang lain. Namun kenyataannya, cinta enggan berlama-lama disamping kita.

"Apa yang terjadi?". Mengapa perlahan kehangatan itu kurasa mulai menjauh. Aku menggigil bersama rindu. Aku benci pada angin malam yang terus saja bertanya " Ke mana sayap yang menghangatkanmu?".

Aku tak tau harus menjawab apa. Aku hening dalam gelapnya ruang hampa. Dalam diam,hatiku tak bisa berhenti bertanya.

"Apa salahku?". Bukankah aku telah menaburkan banyak bintang dihatimu.

Advertisement

"Apa kurangku?". Bukankah setia ini hanya ada untukmu.

Tampaknya itu tak begitu berarti bagimu. "Apakah di matamu aku hanyalah seekor merpati penurut, sehigga dengan mudahkan kau lepaskan dan berfikir aku tetap kembali meski tak kau inginkan?"

Dengar, cinta engga sebercanda ini!

Ingin rasanya aku terbenam bersama matahari senja,agar aku tak merasakan dinginnya malam tanpa pelukanmu.

Ingin rasanya aku berlari diatas pasir putih bersama lembutnya cinta masa lalu yang kau tawarkan. Namun,langkah kaki ku terasa begitu berat saat aku harus menyusuri tepi lautan tanpa iringan langkahmu.

Ingin rasanya kulemparkan memori ini ke samudra, agar arus dapat membawanya jauh dari sebatas memikirkanmu.

Andai saja Tuhan mengizinkan jarum waktu berputar mundur, aku lebih memilih mengubah cinta menjadi persahabatan yang tak akan mengenalkan kita pada sakitnya perpisahan tanpa lambaian tangan. Kini hanya ada aku bersama tanya dan rasa setiap detik kehilangan.