Kepadamu yang sedang berlari, Setahun lamanya aku menanti, di balik sepi yang kututupi dengan mimpi. Apa kau tau, hari seperti apa yang kulewati?

Seringkali aku memulai hari dengan lamunan tentangmu, ketika wajahmu terkadang hadir dalam bayang mimpi. Aku tak lagi tau tentang hari yang kau miliki. Aku memilih berdiam diri kepadamu yang terkadang mengabaikan sapa yang kuberi. Mereka seringkali menyuruhku berhenti dan bertanya apa yang kuharap darimu, entahlah, aku hanya memahamimu dengan caraku, tanpa penjelasan hati selalu mengerti semua alasan dan masalahmu.

Berungkali kucoba membuka hati, berungkali aku menyadari tak guna melawan hati

Beberapa hati pernah kujelajahi hanya dalam hitungan hari, aku yang kau ikat dengan janji tak bisa pergi dengan mudahnya meski kini tak lagi memiliki.

Jangan pernah melepaskanku

Advertisement

Masih segar dalam ingatku, ketika kelingkingmu mengait erat di kelingkingku. Mengikrarkan janji yang mungkin sekarang kau angggap hanya beberapa kata yang tak bermakna, namun sadarkah aku bukan dia atau mereka yang dapat dengan mudahnya melupakan ucap yang di akhiri dengan kata “janji”.

Dan sesuai janjiku, kau akan melihatku menunggu, entah itu untukmu atau untuk pilihanNya

Setahun berlalu sejak aku melepasmu dalam ikatan yang tak pasti akan menjadi sempurna. Jalan hidup dan tuntutan mimpi yang berbeda memaksaku melepasmu, tak ingin menghambat mimpi satu sama lain membuatku harus melepasmu terlebih dahulu. Membuatmu bertahan dengan beban yang kucipta bukan caraku untuk membuktikan rasa tulusku padamu. Membiarkanmu melangkah dengan caramu sendiri adalah pilihanku untuk menjadikan pikir dan hatimu sedewasa usiamu.

"Seseorang bisa bebas tanpa kebesaran, tapi tidak seorangpun dapat besar tanpa kebebasan"

– Khalil gibran

Tanpamu memang tak semudah pikirku, seringkali aku merindu segala candamu, merindukan sapa manjamu dan tingkah usilmu . Kau adalah salah satu penyebab kuatku dalam langkah ini, “Semangat, aku tau kau kuat, jangan menyerah” beberapa kata yang kau ucap ketika aku mengadukan lelah itu masih menjadi milikku walau hanya dalam ingatku.

“Pesek”

“Hamster”

“Peseeeek”

“Hamsteeeerr”

Melepasmu bukan berarti aku menyerah, hanya saja aku berhenti memaksamu untuk bertahan dalam kurang dan lemahku, aku memilih memperjuangkanmu melalui do’a yang kusampaikan kepada penulis takdirku, menyemogakan namamu dalam setiap sujudku.

Dalam dekapan rindu aku menunggu, dalam naungan do’a aku percaya

Berjuang tanpa ikatan layaknya tersesat di sebuah gurun, mengabaikan goda dari fatamorgana yang memberi harapan palsu dan tetap melangkah di jalan yang dipilih hingga nanti bertemu yang sejati.

Aku memilihmu.

Aku memilihmu yang sedang berjuang melawan waktu. Aku memilih menunggu hingga kau menepati atau mengingkari janji. Aku dengan segenap rindu dan kuatku masih memilihmu sembari menyemogakan pilihanku menjadi pilihanNya.

Menyemogakan pilihanku menjadi pilhanNya