Lucu sekali melihatmu sekarang, foto mesra berdua yang beredar leluasa di sosial media. Dia kah itu? Alasanmu memilih pergi dan berlalu

"Maaf aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita, aku pikir sekarang aku harus sendiri dulu, hidup bebas tanpa beban"

Pesan singkatmu yang yang masuk ke ponselku sore itu begitu menyayat seperti sembilu, separah apa salahku? Sampai tak layak kah aku meminta satu kesempatan darimu? Sudahlah, aku tak kan lagi memintamu memutar kemudi, lanjutkan perjalannmu, kemana pun akhirnya nanti, aku sudah tak peduli.

Apa yang harus kutanyakan lagi, perpisahan yang sudah bulat jadi inginmu, kesalahan yang semuanya kau limpahkan padaku, memilih pergi yang bagimu adalah harga mati. Ahh…dengan level hubungan kita, semudah itu kah kau memutuskan untuk berhenti mencoba? Bukankan selama ini aku selalu mengokohkan diri, menjadi tembok yang siap kau bombardir dengan senjata perang apa saja? Komunikasi yang berhenti belum genap seminggu, kamu meminta waktu untuk berpikir dulu, nyatanya membawamu pada keputusan untuk pergi dariku. Kamu mau sendiri dulu, itu katamu. Tapi nyatanya toh hanya butuh tiga hari kau sudah terang-terangan memamerkan dia yang baru di depanku. Jika nanti kau bertanya-tanya bagaimana kabarku, aku hanya ingin menyampaikan ini, tentang perkara yang tidak pernah kau tahu-dulu!

Cintaku memang tak lantang kusiarkan, tapi bukankah kita sepakat bahwa hubungan yang dewasa tidak perlu publikasi dan drama berlebihan?

Aku memang bukan orang yang terbiasa memamerkan kemesraan, bagiku, apa pentingnya? Bukankah cukup kita saja yang menikmati rasa? Aku tidak pernah memenuhi ponselmu dengan ucapan rindu tapi bukan berarti di hatiku kamu tidak ada. Mungkin aku memang pelit membagi ciuman, juga sangat sedikit mengijinkamu memeluk pinggang, tapi tidak ada yang berkurang dari ikatan "aku milikmu"! Jarak yang membatasi kuantitas pertemuan kita sudah mengajarkanku untuk berdamai dengan rindu, memandang fotomu dan memutar ulang rekaman suaramu sudah jadi kegiatan sehari-hari favoritku. Apa kamu pernah tahu? Ahh…mungkin tidak, mungkin saja saat itu disana sudah ada dia yang bersedia memelukmu saat kamu lelah selepas pulang kerja. Tanganku memang tidak ada di sana untuk menepuk punggungmu, namun setiap malam doaku tidak pernah luput untuk memelukmu.

Kata pisah yang meruntuhkan duniaku sore itu membuatku bertanya "apakah aku benar-benar tidak cukup sebagai manusia?"

Advertisement

Tanpa mencoba berbicara untuk meluruskan semua, kamu memilih untuk langsung melangkah pergi saja. Masih jelas sekali bagaimana setelah itu aku menghabiskan waktu di kamar berhari-hari, menekuk lutut ke dada, memeluk diri sendiri, dengan luka menganga yang terasa nyeri sekali. Alasanmu memilih mengakhiri membuatku menyesali diri, betapa aku yang bersalah dan membuatmu pergi. Rutinitas hidupku kujalani dengan berat sekali. Aku masih ingat berapa kali sehari di tempat kerja aku harus menyelinap ke lantai dua hanya demi menghapus air mata. Teman-temanku masih dengan ringan menyebut namamu dan menanyakan kabar kita, bagaimana caraku menjelaskan? Saat itu aku benar-benar menjadi pesakitan, tidak mampu bergerak dan meluruskan pikiran. Aku hanya ingin kembali, kembali, dan memperbaiki. Tapi nyatanya usahaku membangkitkan memori pun tak menggerakkan hatimu sama sekali.

"Tidak ada yang adil di dunia ini, kecuali Tuhan"

Jawabmu ketika kuingatkan betapa sebelumnya aku selalu memafkan dan memberimu kesempatan. Huuufftt…kata-kata itu sekarang terdengar lucu dan sangat menggelikan! Jadi dulu kau bebas memintaku kembali karena merasa Tuhan yang mentakdirkan? Sedangkan dirimu bisa datang dan pergi sesuka hati karena kamu tidak se-adil Tuhan?

Istimewa sekali hakmu sebagai manusia!

Dalam setiap permintaan yang kau sebut sebagai tututan, diam-diam sebenarnya masa depan kita sedang aku persiapkan.

Aku banyak menuntutmu, katamu. Baiklah, mari kita luruskan. Apa kamu masih ingat rencanamu dulu? Bukankah terakhir kali kau memintaku kembali ke pelukmu dulu bukan hanya untuk menjadi partner jalan-jalan, tetapi untuk menjadi ibu dari anak-anakmu? Masih ingatkah kamu, bahwa untuk meyakinkanku pada niat baikmu kala itu kamu membawaku ke hadapan orang tuamu? Kamu bahkan sudah memperkenalkanku di hadapan segenap keluarga besarmu, foto bersama di tengah acara pun sudah terpasang rapi di album berwarna biru. Sedalam apa hubungan kita, dan sebanyak apa rencana yang kita punya, silakan kau ingat-ingat sendiri saja.

Demi pulang ke rumah yang sama di tahun depan, kupersiapkan setiap detil yang kita butuhkan. Kuputuskan untuk bekerja lebih keras dan mengambil banyak sampingan hanya untuk memenuhi isi tabungan. Agar bisa menutup biaya pesta nantinya, mimpiku untuk berkeliling dunia pun aku tangguhkan. Apa kamu tahu, saat aku merayumu untuk menunda dulu membeli kendaraan impianmu, diam-diam sebenarnya sudah kuperhitungkan, dua atau tiga bulan ke depan uang muka rumah idaman kita sudah bisa terbayarkan. Mari kita mulai dengan hal yang penting-penting dulu, bukanlah semua yang hanya untuk senang-senang sifatnya harus bisa menunggu? Saat aku menggodamu untuk mulai merintis tempat usaha kita sendiri, bukankah sudah jelas sekali itu karena aku sedang mempersiapkan diri. Kau menginginkan istri yang sepenuhnya mendampingi, berada di rumah, mengurus anak-anak, dan menunggumu pulang kerja setiap hari. Untuk itu pun kutunda rencanaku melanjutkan pendidikan, dan kuurungkan cita-cita berkarier tinggi-tinggi di luaran sana, ku putuskan nanti aku akan bekerja di rumah saja, menyapu, memasak, dan mengembangkan usaha kita, agar hidup berkecukupan tidak lagi hanya sebatas mimpi. Tapi aahhh….semua usahaku saat itu bagimu mungkin terasa menuntut sekali.

Kubesarkan hati dan berdoa, semoga kali ini dia lah orangnya, bukan lagi kekasih perantara, apalagi yang sementara.

Saat ini senyummu sudah mengembang kemana-mana. Kau sudah berbagi tawa dan peluk mesra dengan anak manusia lainnya. Kadang aku bertanya-tanya, tidak berbekas kah aku di sana? Mengingat level hubungan kita yang bukan lagi gaya cinta remaja. Agak sulit kupercaya, jika kau memang pergi bukan karena dia, begitu cepatkah diriku tergantikan olehnya? Lubang di dadaku mungkin masih menganga, tapi perihnya sudah tidak lagi terasa.

Kali ini sungguh aku berdoa, untukmu semoga memang dialah orangnya, yang bukan menjadi kekasih perantara, apalagi yang hanya sementara. Yang terluka itu, biar hanya cukup aku saja.

Dulu kamu pernah berkata, Tuhan menghitung air mataku sebagai doa, maka kali ini aku juga meyakini, Tuhan mencatat semua janji yang kau ingkari, dan bila hari perhitungan itu tiba, sungguh-sungguh aku berharap semoga kau terampuni.